Tawa Steven Gerrard di Skotlandia

Cerita

by Budi Windekind

Budi Windekind

Penikmat sepakbola, khususnya Indonesia & Italia.

Tawa Steven Gerrard di Skotlandia

Musim kompetisi 2016/17 jadi penanda kembalinya Rangers FC ke divisi tertinggi dalam persepakbolaan Skotlandia, Scottish Premiership, usai berkubang di divisi bawah akibat kebangkrutan yang mendera mereka di tahun 2012 silam. Walau punya nama besar, sejarah, dan tradisi, Rangers tak bisa langsung jadi kesebelasan superior layaknya dahulu. Diwarnai pergantian pelatih sebanyak tiga kali (mulai dari Mark Warburton, Graeme Murty, dan Pedro Caixinha) dan langkah yang tertatih-tatih, Rangers berhasil finis di posisi tiga klasemen akhir.

Pada musim berikutnya, kesebelasan yang berkandang di Stadion Ibrox ini juga nangkring di peringkat tiga klasemen akhir. Namun tak berbeda jauh dengan sebelumnya, mereka kerap diganggu inkonsistensi sehingga, lagi-lagi, melakukan pergantian pelatih sebanyak tiga kali (Caixinha, Murty, dan Jimmy Nicholl).

Kendati sukses terus menjejak tiga besar, Dave King yang merupakan chairman kesebelasan sadar bahwa Rangers butuh usaha lebih buat menancapkan kukunya sebagai kesebelasan pilih tanding, bersaing lagi dengan sang rival bebuyutan, Celtic FC, sekaligus memutus dominasi mereka selama beberapa tahun terakhir.

Namun tanpa diduga, King justru mengambil langkah cukup mengejutkan di awal musim 2018/2019. Bukannya melantik pelatih kaya pengalaman dan kapabilitas yang teruji, Rangers malah mendapuk Steven Gerrard sebagai nakhoda anyarnya. Pria berumur 38 tahun tersebut diganjar kontrak selama empat musim.

Uniknya, pendukung setia Rangers tidak terlalu khawatir dengan miskinnya pengalaman Gerrard sebagai juru strategi. Banyak dari mereka yang sangat tertarik menanti sentuhan tangan dingin Gerrard yang semasa berkarier sebagai pemain, beroleh segudang titel juara bareng Liverpool. Di sisi lain, Gerrard juga percaya diri dengan kemampuannya untuk membawa Rangers ke level yang lebih tinggi.

"Aku yakin keberadaanku di sini bisa membuat suporter Rangers merasa bahagia", paparnya seperti dilansir BBC.

Tanpa janji muluk-muluk dan transfer pemain yang kelewat mewah, Borna Barisic jadi satu-satunya pemain baru yang datang dan menguras isi dompet, Rangers asuhan Gerrard malah konsisten bergentayangan di papan atas Premiership Skotlandia.

Sampai pekan ke-21, mereka duduk di peringkat dua klasemen sementara berbekal 42 poin alias cuma tertinggal selisih lima gol dari sang pemuncak, Celtic, yang memiliki poin serupa (namun masih menabung satu laga). Artinya, Rangers menyimpan peluang untuk jadi kampiun Skotlandia musim ini!

Bagi pelatih bau kencur seperti Gerrard, pencapaian itu jelas luar biasa. Lagipula, siapa yang menyangka kalau dirinya sanggup membawa Rangers melejit secepat itu? Jangan heran kalau sekarang, pendukung setia kesebelasan yang berdiri tahun 1872 tersebut semakin mencintai Gerrard lantaran impresi teramat positif itu. Bahkan di saat McGregor dan kawan-kawan rontok di semifinal Piala Liga Skotlandia dan gagal lolos ke babak 32 besar Liga Europa musim ini, tak ada protes berlebih dari kalangan suporter.

Guna memaksimalkan potensi kesebelasan besutannya, Gerrard lebih sering menerapkan skema 4-3-3 yang dikombinasikan dengan 4-1-4-1 dan 4-2-3-1. McGregor jadi pilihan utama di bawah mistar dengan Jon Flanagan, Connor Goldson, Nikola Katic, dan James Tavernier membentenginya. Scott Arfield, Lassana Coulibaly, dan Ryan Jack jadi andalan di sektor tengah plus Daniel Candeias, Glenn Middleton, dan Alfredo Morelos mengokupansi area depan. Morelos sendiri tercatat sebagai pencetak gol terbanyak Liga Skotlandia sejauh ini.

Di saat rekan-rekan seangkatannya di Tim Nasional Inggris dahulu semisal David James dan Gary Neville begitu kepayahan tatkala mengemban status pelatih, apa yang diperlihatkan Gerrard sungguh meyakinkan. Wajar kalau dirinya sekarang bisa tertawa lepas dan bahagia. Hal ini sendiri membuat bekas pelatihnya di Liverpool yang kini jadi saingannya lantaran menukangi Celtic, Brendan Rodgers, tak ragu buat melontarkan pujian akan kinerja Gerrard.

"Gerrard melakukan tugasnya dengan sangat baik di Rangers. Mereka jadi sebuah kesebelasan yang makin solid dan merupakan ancaman nyata bagi kami", ungkap Rodgers seperti dikutip dari Daily Mail.

Walau demikian, ada satu hal yang mungkin sangat dinanti-nantikan oleh suporter Rangers. Apalagi kalau bukan menumbangkan Celtic di laga klasik bertajuk Old Firm. Mereka berhasil melakukannya pada laga derbi akhir pekan ini (29/12) di Ibrox, di mana Rangers menang 1-0 berkat gol yang dicetak oleh Jack. Ini adalah kemenangan kedua Rangers dari 15 pertandingan Old Firm terakhir semenjak dilikuidasi.

Meski menang dalam laga terakhir, berdasarkan statistik pertemuan Rangers dan Celtic dalam partai Old Firm, timpangnya kekuatan jadi semakin nyata akibat ketidakmampuan Rangers meraup angka penuh dalam tempo 90 menit laga sedari musim 2011/12 silam. Kala itu, empat gol yang digelontorkan Nikica Jelavic, Kyle Lafferty, dan dwigol Steven Naismith buat Rangers cuma sanggup dibalas Celtic dua kali saja lewat usaha Badr El Kaddouri dan Gary Hooper.

Panasnya duel Old Firm tentu masih membara hingga kini. Kemenangan terakhir Rangers melawan sang musuh bebuyutan bikin atmosfernya membara kembali. Namun Gerrard masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Andai Gerrard belum mampu mengantar Rangers memeluk trofi di pengujung musim 2018/19 kelak, dukungan kepadanya takkan surut. Setidaknya sokongan itu semakin melonjak setelah sosok kelahiran Whiston itu berhasil memutus tren negatif Rangers di laga Old Firm.

Komentar