Kearifan Lokal Sepakbola Indonesia

Cerita

by Gilang Dejan (Gilde)

Gilang Dejan (Gilde)

Mengeja dan Menulis Sepakbola.

Kearifan Lokal Sepakbola Indonesia

Tidak ada literatur sejarah yang bisa memastikan sejak kapan turnamen tarkam atau antar-kampung dimainkan. Fenomena tersebut seolah menjadi sebuah tradisi yang terus menerus menggelinding di sepakbola Indonesia. Apalagi ketika jeda kompetisi tiba, beberapa pemain pro baik yang bermain di Liga 1 maupun Liga 2 tidak bisa memalingkan waktu luang mereka dari bermain tarkam.

Hal demikian memantik pro dan kontra tersendiri antara pihak kesebelasan dengan pemain, di satu sisi kesebelasan tidak akan mengontrak pemain yang kembali dalam keadaan cedera, apalagi yang diakibatkan oleh tarkam. Di lain sisi, pemain merasa mendapatkan manfaat dengan bermain tarkam pada jeda kompetisi.

Dari mulai alasan menjaga kondisi fisik agar senantiasa bugar selama libur kompetisi, ajang silaturahim dan menghibur masyarakat, hingga mencari tambahan pemasukan dari luar tim. Memang setelah kompetisi Liga 1 berakhir masih ada Piala Indonesia yang baru memasuki babak 64 besar. Namun selalu ada waktu luang antara satu pertandingan ke pertandingan lain, belum lagi bagi pemain-pemain yang kesebelasan-nya sudah gugur. Bermain tarkam jadi alternatif paling tepat.

Untuk musim ini ada beberapa pemain kenamaan yang telah dan hendak mengikuti turnamen tersebut. Di antaranya Syamsul Chaeruddin, Faturrahman, Rachmat Latief, dan Aditya Putra Dewa yang baru saja mengantarkan tim Rafliz FC Selayar menjuarai turnamen Pangdam Cup V di lapangan Gelora Sultan Hassanudin, Makasar, Rabu (12/12) lalu. Empat pemain yang bermain di Liga 2 2018 itu tak bisa menutupi rasa girangnya setelah sukses mengalahkan tim WK23 yang diperkuat pemain-pemain seperti Syamsidar, Kurniawan Karman, dan Hamdi Hamzah, pada laga final.

Seperti yang telah dikatakan pada awal tulisan. Bukan hanya pemain Liga 2, pemain Liga 1 pun berani meminggirkan status pemain profesionalnya untuk mengisi waktu libur-nya dengan bermain tarkam. Jajang Mulyana, Adam Alis, Maldini Pali, dan Marinus Manewar yang terikat kontrak dengan tim Bhayangkara FC sempat mengikuti turnamen tarkam bertajuk Fortuna Cup 2018 di Ciputat saat jeda kompetisi Liga 1 2018 beberapa waktu silam.

Para pemain yang mengikuti turnamen tarkam ini memiliki alibi yang klise: menjaga kondisi fisik di kala libur kompetisi. Salah satunya Jajang Mulyana, dirinya mengaku jika niatnya mengikuti tarkam hanya untuk membantu salah satu temannya yang menjadi panpel agar turnamen lebih meriah. Selebihnya tarkam bisa jadi sarana jaga kondisi.

“Jujur waktu itu saya hanya membantu teman saja tidak ada hal lain, karena teman saya bilang untuk memeriahkan pertandingan. Selebihnya tarkam sebenarnya juga bisa membantu pemain untuk bisa menjaga kondisi, sebab belum tentu selama libur mereka melakukan latihan sendiri,” ungkap pemain yang biasa disapa Jamul ini, seperti dikutip dari Harian Topskor.

Senada, Kapten Bhayangkara FC, Indra Kahfi, merasa jika berpartisipasi di turnamen tarkam sah-sah saja. “Kalau masalah tarkam sih buat saya ya boleh-boleh saja selagi itu bertujuan untuk menjaga kondisi mereka saat liburan. Toh pemain sepakbola bola sekarang kan bisa jaga diri mereka masing-masing. Mungkin juga buat menghilangkan jenuh karena libur panjang kompetisi kan emang dasarnya main bola pasti larinya tidak jauh dari bola,” kata Indra.

Sedang di jeda kompetisi kali ini Tallaouhu Abdul Mushafry, penyerang PS Barito Putera, masih memikirkan untuk mengisi waktu luangnya dengan bermain tarkam atau berlibur dengan keluarga. Mengingat dirinya mendapat tawaran bermain di laga amal oleh beberapa temannya.

“Saya sendiri belum tahu apa bisa ikut atau enggak, karena waktu libur-nya singkat saya ingin menghabiskan waktu untuk ibadah dan libur bersama keluarga,” kata Mushafry seperti dikutip dari Harian Topskor.

Turnamen tarkam sendiri sempat menjadi penyelamat para pesepakbola pro di Indonesia. Sebab saat itu sepakbola Indonesia tengah dibekukan lantaran terjadi kekisruhan antara PSSI dan pemerintah. Tanpa perlu pikir panjang, terpenting dapur ngebul.

Mekanisme pembayaran di tarkam memang cukup menggiurkan, mereka para pemain dibayar tunai per pertandingan. Tarif-nya pun bervariasi, dari yang terkecil ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tergantung pada bos yang memintanya bergabung dan jarak yang ditempuh. “Bergantung yang mengajak saya dan jarak tempuh-nya. Kalau jauh, saya minta agak tinggi,” ucap Dolly Gultom pemain Mitra Kukar, seperti dilansir Kaltim Post.

Meski demikian, resiko andil bagian di tarkam pun sangat riskan. Masih segar di ingatan kasus cedera Saktiawan Sinaga dan Zulham Zamrun akibat bermain tarkam, yang masih relevan untuk dijadikan acuan. Pada 2015, Saktiawan mengalami cedera setelah bertabrakan di sebuah laga tarkam bertajuk Kapolres Cup I di Belawan, Medan.

Sakti yang memperkuat Mencirim City bertabrakan dengan Donny Siregar, gelandang yang pada waktu itu bermain untuk Gresik United dan tengah membela Putra Buana. Peristiwa cedera yang menimpa sakti ini cukup menyita khalayak ramai, pasalnya pada saat itu banyak pemain yang bermain tarkam akibat kompetisi dihentikan imbas daripada kisruh PSSI dengan pemerintah.

Baca juga: Widodo C. Putro, Tarkam Dulu Sebelum Melegenda

Tak berselang lama, kejadian serupa menimpa Zulham Zamrun yang kala itu membela Persib Bandung. Hasil tes MRI menyatakan jika dirinya mengalami cedera ligament lutut kiri yang ketika membela Persipare di Habibi Cup, hal tersebut membuatnya harus beristirahat delapan bulan.

Agaknya kejadian tersebut dapat dijadikan bahan pemikiran objektif para pemain pro di Indonesia sebelum menerima undangan tarkam. Gelandang jangkar milik Mitra Kukar, Bayu Pradana, mengamini hal tersebut. “Kalau saya pribadi berusaha jaga kondisi sendiri. Tarkam memang menarik namun juga menyimpan resiko, terlebih kalau sampai cedera,” kata Bayu seperti dilansir Harian Topskor.

Pemain punya dasar pemikiran yang kuat untuk memilih ikut tarkam atau tidak. Namun, bagi manajemen sudah barang tentu mereka sangat mewanti-wanti asset perusahaannya. Manajer Persija sampai naik pitam kala dirinya mendengar kata “tarkam”. “Saya tegaskan kalau saya benar-benar tidak mengizinkan pemain untuk mengikuti tarkam. Karena saya tahu jika mereka ikut tarkam itu akan membahayakan diri mereka sendiri. Saya juga tidak segan untuk memberi sanksi tegas kepada pemain yang ketahuan bermain tarkam,” kata Ardhi.

Sebagaimana pemain yang memiliki pandangan berbeda dalam melihat persoalan tarkam ini. CEO Arema FC, Iwan Budianto, menanggapi hal ini dengan cara berbeda meskipun pada hakikatnya memiliki pesan serupa: lebih mementingkan hubungan dengan kesebelasan sebagai pemain profesional.

“Tanpa harus dipantau pun, sebagai pemain professional tentu mereka bisa membedakan mana yang harus diprioritaskan, klub, dan masa depan mereka atau hanya sekedar iseng ikut tarkam tapi berisiko cedera. Tentu mereka juga harus bisa menjaga trade mark mereka sebagai pemain profesional,” ucap Iwan Budianto.

Nalar Pincang Sistem sepakbola Indonesia

Sistem kontrak jangka pendek sudah menjadi kultur bagi kesebelasan-kesebelasan di Indonesia. Sudah barang tentu hal tersebut tidak sehat bagi ekosistem sepakbola nasional. Bagaimana tidak, sepakbola singkat itulah yang kemudian turut mendorong keputusan para pemain untuk lebih giat dalam berpartisipasi di turnamen tarkam. Pemain tanpa kepastian ketika off-season tiba, sedangkan dapur harus tetap ngebul.

Satu-satunya cara untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah dengan mencari uang lewat tarkam dan tanpa perlu diingatkan oleh manajemen pun sebenarnya pemain sadar betul akan resiko cedera yang menghampiri serta mengancam karir mereka sendiri. Namun mau bagaimana lagi, toh para pemangku kebijakan hanya “sibuk melarang” pemain bermain tarkam bukan mencari solusi atas celah yang telah mereka sediakan.

Berbicara kontrak tentu berkolerasi dengan manajemen kesebelasan terkait. Lantas apa yang seharusnya dilakukan supaya persoalan ini cepat berakhir. Perlukah kesebelasan menggodok perencanaan jangka panjang? Sebelum pertanyaan tersebut dijawab, agaknya satu pertanyaan lain perlu diajukan kepada para pemangku kebijakan yang lebih tinggi (baca: operator liga). Sudikah mereka memberi garansi jika jadwal Liga 1 tahun depan berjalan sesuai rencana, bukan malah tak jelas dari musim ke musim.

Memundurkan jadwal liga karena alasan politik agaknya kurang memuaskan pihak manapun. Meskipun ya nanti-nya berurusan dengan rekomendasi pihak keamanan untuk hal-hal yang perlu dipatuhi secara prosedural, tapi tidak seharusnya Pilpres dijadikan sebuah alasan. Hal tersebut malah akan menambah masalah baru, yaitu off-season dan pra-musim yang terlalu lama; bukan malah mengurai persoalan.

Soal tarkam ini bisa dilihat dari sudut pandang paling runyam, yakni dari versi tak wajar. Biasanya tarkam dilakukan di waktu senggang alias jeda kompetisi. ada sebagian pemain malah melakukannya di bawah naungan kontrak kesebelasan dan kompetisi yang tengah berlangsung. Motivasi mereka dalam mengikuti tarkam berbeda-beda: gaji telat, gaji kecil, dan lain-lain.

Dari sisi nominal, bayaran mengikuti tarkam memang lebih besar ketimbang gaji dari kesebelasan resmi yang ikut dalam kompetisi nasional. Lagi-lagi kata profesional hanyalah kiasan di sepakbola Indonesia (seperti slogan "profesional dan bermartabat"). sepakbola kita masih yang dulu, dengan local wisdom-nya yang melekat.

Komentar