Kemenangan PSM dalam Tiga Sudut Pandang

Cerita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Kemenangan PSM dalam Tiga Sudut Pandang

Berduyun-duyun manusia dengan atribut serba merah memadati jalanan Mappanyukki, Makassar. Mereka adalah para suporter PSM Makassar yang hendak menyaksikan kesebelasan favoritnya berlaga melawan PSMS Medan pada laga pamungkas Liga 1 Indonesia 2018. Beberapa dari mereka berteriak dengan lantang: “Kami rindu juara”.

Maklum, terakhir kali PSM juara Liga Indonesia tahun 2000. Penantian selama delapan belas tahun itu pun ditentukan pada laga kali ini. Namun PSM masih juga puasa gelar meski mereka berhasil melumat PSMS dengan skor fantastis 5-1. Kemenangan Persija Jakarta atas tamunya Mitra Kutai Kartanegara di hari yang sama, membuat PSM harus puas menyelesaikan Liga 1 di peringkat kedua.

Pada menit pertama pertandingan, wajah-wajah tegang para suporter di dalam stadion Andi Mattalata sungguh terlihat. Namun pada menit ke-15, gol dari Alessandro Ferreira Leonardo mengubah atmosfer di dalam stadion. Suporter PSM bersorak kegirangan karena berkat gol itu, PSM sementara naik ke puncak klasemen Liga 1 melangkahi Persija Jakarta.

Tak berselang lama, wajah tegang itu kembali hadir. Salah satu suporter PSM bernama Ukkas Supriadi ikut memantau pertandingan antara Persija melawan Mitra Kukar melalui ponsel miliknya. Dia mengetahui bahwa Persija sedang unggul lewat gol Marko Simic yang dicetak dari titik penalti.

“Yah masa gol-nya (Persija) lewat penalti,” ujar Ukkas sambil menatap layar ponselnya. Ukkas tidak sendiri, beberapa suporter yang berada di sekitarnya turut menyaksikan sekilas update skor sementara antara Persija melawan Mitra Kukar. Setelah itu, mereka berusaha fokus kembali ke pertandingan PSM melawan PSMS. Kebetulan saya duduk tepat di bawah Ukkas. Saya jadi saksi perbincangan Ukkas dan rekan-rekannya dalam logat Makassar yang khas.

Ketika PSM mencetak gol kedua, ketiga, bahkan keempat di babak pertama, Ukkas dan yang lainnya ikut gembira dan merayakan. Di antara perayaan tersebut, saya selalu mendengar sebuah kalimat: “Sudah, kita nikmati saja kemenangan PSM. Jadikan ini pesta kita sendiri apapun hasil di Jakarta.”

Pada jeda babak pertama saya sempat berbincang dengan orang itu yang saya ketahui bernama Ahmad Latiando. Dia memakai kartu identitas bertuliskan nama itu yang menegaskan dirinya adalah seorang wartawan. Dia lebih memilih fokus pada laga PSM melawan PSMS tanpa memedulikan laga antara Persija dengan Mitra Kukar.

“Banyak dari kami yang datang ke stadion dengan asumsi bahwa juara (Liga 1) sudah di-setting. Percayalah PSM juga pernah diuntungkan bahkan dalam momen krusial. Ambil contoh saat PSM tandang ke Bhayangkara. Di situ seharusnya PSM tidak dapat poin karena gol Alsan Sandra kan tidak offside,” ujar Ahmad.

Perbincangan kami terhenti karena babak kedua sudah dimulai. Jika di babak pertama situasi di dalam stadion aman terkendali, maka pada babak kedua situasinya sama sekali lain. Tepatnya pada menit ke-69, terjadi insiden di tribun bagian selatan stadion Andi Mattalata. Terlihat beberapa kembang api menyala dan meledak di udara. Kendati sempat terjadi ketegangan karena kembang api entah mengapa meledak di antara kerumunan yang memaksa para suporter berhamburan untuk berusaha menjauhi ledakan yang membabi-buta.

Tidak berhenti hanya di kembang api. Kali ini giliran suar berwarna merah menyala. Lokasinya masih di tribun selatan, hanya saja terpaut jarak cukup jauh antara insiden kembang api. Petugas keamanan segera bertindak. Bahkan beberapa pemain dan ofisial merasa perlu untuk menenangkan para suporter PSM.

Ketika situasi sudah kondusif, wasit Nurus Fadillah yang memimpin jalannya laga kembali melanjutkan pertandingan yang sempat dihentikan karena insiden-insiden tadi. Beberapa koreografi sempat ditampilkan setelah insiden itu seperti “Terima Kasih Liga 1 Atas Dramanya…”

Adapun yang menyita perhatian saat spanduk bergambarkan orang memakai jas dan dasi sedang memegang orang-orang di bawahnya dengan benang-benang. Hal ini seolah menunjukkan bahwa pria dalam gambar sedang berusaha mengendalikan orang-orang yang digambarkan sebagai pesepakbola. Ketika spanduk itu naik, seluruh suporter yang ada di dalam stadion berteriak: “Mafia, mafia, mafia…”

Ukkas yang ada di belakang saya juga turut meneriakkan hal yang sama. Sebelumnya, Ukkas sempat memberi kabar kepada rekan-rekannya bahwa Persija baru saja menggandakan keunggulan jadi 2-0. Pada raut wajah Ukkas, tersimpan rasa kecewa karena hal itu berarti Persija sudah sangat dekat dengan gelar juara. Sementara PSM, menang dengan skor berapa pun tidak akan menjadi juara.

Meski demikian, beberapa suporter merasa sudah legawa dengan hasil tersebut. Bahkan hal itu diutarakan langsung oleh pelatih mereka, Robert René Alberts. Dalam sebuah kesempatan konferensi pers setelah pertandingan, dia mengucapkan selamat kepada Persija Jakarta karena berhasil menjadi juara Liga 1. Tak lupa dia juga mengapresiasi anak asuhnya karena sudah berjuang dengan sungguh dan mengakhiri Liga 1 dengan skor yang luar biasa.

Begitulah dua reaksi berbeda pada pertandingan PSM melawan PSMS. Tentu naif jika mengatakan bahwa suporter PSM tidak kecewa. Namun beberapa dari mereka memang sudah berlapang dada menerima apapun hasilnya sambil berusaha menatap musim depan dan kompetisi Piala AFC.

Di antara raut kecewa para suporter PSM, saya menyaksikan tatapan yang lebih mengerikan malam itu. Saya melihat wajah-wajah datar di dalam sebuah bus yang mengangkut para pemain dan ofisial PSMS. Dengan kekalahan 5-1, mereka harus kembali ke Liga 2 musim depan karena terdegradasi. Sama sekali tidak ada senyum atau sekadar interaksi di dalam bus tersebut. Seperti melihat bus tanpa penumpang atau manusia tanpa jiwa. Mengerikan.

Komentar