Jerman vs Turki untuk Piala Eropa 2024

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Jerman vs Turki untuk Piala Eropa 2024

“Laporan menunjukkan bahwa kami telah bekerja sangat serius dalam beberapa bulan ke belakang dan UEFA telah memperhatikan kekuatan kami,” ujar Philipp Lahm, duta Jerman untuk pengajuan sebagai tuan rumah Piala Eropa 2024, kurang dari satu jam setelah UEFA merilis laporan evaluasi pengajuan diri Jerman dan Turki, sebagaimana dikutip dari Deutsche Welle. Hanya dua negara ini yang maju dan di antara keduanya, Jerman unggul dalam banyak hal.

Soal pengalaman penyelenggaraan kejuaraan saja Jerman sudah jauh mengungguli Turki. Jerman Barat pernah menggelar Piala Dunia 1974 dan Piala Eropa 1988; Jerman tuan rumah Piala Dunia 2006, yang dinilai sukses besar dan semakin memantapkan julukan “juara dunia penyelenggaraan”. Turki, sementara itu, hanya pernah menggelar Piala Dunia U-20 pada 2013.

Faktor stadion semakin menguatkan Jerman. Sepuluh stadion di sepuluh kota penyelenggara sudah berfungsi penuh dan secara rutin. Di Turki, dari sepuluh stadion yang diajukan, baru tujuh yang siap pakai. Tentu saja tiga sisanya akan siap pakai sebelum kejuaraan digelar, tapi stadion-stadion Jerman tetap mengungguli stadion-stadion Turki. Stadion Dusseldorf, stadion dengan kapasitas paling sedikit di antara sepuluh stadion yang diajukan Jerman, memiliki daya tampung yang lebih besar ketimbang tujuh dari sepuluh stadion Turki. Lebih banyak penonton berarti lebih banyak keuntungan untuk UEFA.

Urusan infrastruktur pun Jerman unggul. Stadion-stadion di kota-kota penyelenggara dapat dengan mudah dijangkau dengan mobil atau kereta. Perjalanan dari satu kota ke kota penyelenggara lainnya terbilang singkat. Bandingkan dengan Turki yang kota-kota penyelenggaranya saling berjauhan dan sulit dijangkau. Trabzon, salah satu kota penyelenggara, tidak terhubung dengan jalur kereta.

Jerman pantas percaya diri. Walau demikian, hak menggelar kejuaraan bisa tetap jatuh ke tangan Turki. Servet Yardimci, kepala pengajuan diri Turki sekaligus wakil presiden Federasi Sepakbola Turki, berpendapat bahwa Turki pantas menjadi tuan rumah Piala Eropa 2024 karena mewakili batas baru, dan akan menghasilkan keuntungan ekonomis yang besar. Bahwa Turki belum pernah menggelar kejuaraan akbar, menurut Yardimci, justru membuat Turki memiliki daya tarik sebagai sumber daya yang belum termanfaatkan oleh UEFA.

“Jerman punya rekam jejak yang terbukti dalam penyelenggaraan kejuaraan tapi Turki adalah pasar baru,” kata Yardimi kepada Reuters. “Ini batas yang sama sekali baru karena mereka (UEFA) akan menarik lebih banyak suporter, lebih banyak sponsor, lebih banyak kegembiraan. Semua itu akan memberi nilai tambah kepada keuntungan yang ditargetkan UEFA. Jelas sekali UEFA akan lebih untung secara finansial [jika menggelar kejuaraan di sini] ketimbang di negara Eropa lain.”

“Disatukan Uang: Korup di Pusat Eropa”

Slogan pengajuan diri Jerman berbunyi “Disatukan Sepakbola: Bersama di Pusat Eropa”. Pada pekan keempat Bundesliga (22-23/9), Federasi Sepakbola Jerman (DFB) menggelar promosi pengajuan diri dengan memajang spanduk slogan di setiap pertandingan Bundesliga. Beberapa kelompok pendukung klub Jerman menggunakan kesempatan tersebut untuk memamerkan spanduk versi mereka sendiri.

Commando Cannstatt, kelompok garis keras pendukung VfB Stuttgart, membentangkan spanduk besar mirip milik DFB dengan slogan yang dipelesetkan: "Disatukan Uang: Korup di Pusat Eropa.” Protes serupa digelar oleh kelompok pendukung Augsburg, Werder Bremen, dan Leverkusen di ajang Bundesliga 1 serta Arminia Bielefeld, Hamburg SV, Union Berlin, dan Dynamo Dresden di Bundesliga 2.

Tidak ada penolakan terhadap pengajuan diri Jerman sebagai tuan rumah Piala Eropa 2024. Akan tetapi, para suporter mengingatkan kembali DFB untuk menyelesaikan isu-isu dalam negeri sebelum sibuk mengerahkan energi untuk kejuaraan akbar. Pembicaraan antara DFB dengan Fanszene Deutschlands (koalisi nasional kelompok suporter klub-klub Jerman) mengenai hak-hak para penggemar sepakbola, komersialisasi sepakbola Jerman, dan waktu sepak mula yang tidak ramah kepada suporter sampai saat ini masih tertunda.

“Secara politik Turki sangat stabil, sangat konsisten.”

Di Turki, isu nasionalnya adalah pelanggaran HAM. Media-media Eropa menilai hal inilah yang mungkin akan menjadi penghambat Turki dalam pengajuan diri sebagai tuan rumah Piala Eropa 2024. Sejak percobaan penggulingan terhadap Presiden Erdogan pada 2016, puluhan ribu orang ditahan dan ratusan ribu pegawai negeri diberhentikan.

“Kami tidak dapat mengubah anggapan negatif pihak luar terhadap Turki, namun secara politik Turki sangat stabil, sangat konsisten,” ujar Yardimci, dikutip dari Reuters. Menurutnya, UEFA akan meninjau pengajuan diri Turki murni dari sudut pandang sepakbola.

Selain itu, tahun ini Turki berhasil meyakinkan UEFA untuk menunjuk Stadion Ataturk, yang terletak di Istanbul, sebagai tempat penyelenggaraan final Liga Champions 2020. Vodafone Park, yang juga berlokasi di Istanbul, akan menggelar Piala Super Eropa 2019.

“Kepercayaan sudah ada, fakta bahwa final 2020 dan 2019 diberikan kepada Turki menunjukkan dukungan dan keyakinan yang UEFA terhadap kami,” ujar Yardimci.

UEFA akan mengambil keputusan final menyangkut negara mana yang akan menjadi tuan rumah Piala Eropa 2024 pada pertemuan komite eksekutif di Nyon, Swiss, Kamis ini.

Komentar