Sassuolo di Roma

Cerita

by Reva Bagja Andriana

Reva Bagja Andriana

Ekonomi, Sepakbola dan Metal.

Sassuolo di Roma

Performa buruk ditunjukkan AS Roma di awal musim ini. Dari lima pertandingan yang telah dijalani, mereka hanya mampu meraih satu kemenangan; empat lainnya berakhir dengan dua kali imbang dan dua kekalahan. Bahkan di laga terbaru I Giallorossi dipermalukan Bologna, yang menempati posisi 18 klasemen sementara Serie A.

Perhatian kini tertuju kepada Eusebio Di Francesco. Bahwa musim lalu, di musim perdananya melatih Roma, ia membawa timnya melanggeng sampai ke semifinal di ajang Liga Champions, seolah tak berarti. Dia yang paling banyak mendapat sorotan atas buruknya penampilan Roma musim ini.

Meski berulang kali tidak meraih hasil maksimal, Roma hampir selalu menguasai pertandingan. Mereka memiliki 55,3% rataan penguasaan bola, yang merupakan tertinggi ketiga di Serie A. Soal tembakan, Roma menempati posisi dua bersama Milan dan Napoli dengan rata-rata 18 tembakan per pertandingan.

Namun penguasaan pertandingan tak lantas berarti kemenangan. Semua penguasaan bola yang dimiliki terbuang sia-sia ketika para pemain tidak mampu menuntaskannya menjadi sebuah gol dan meraih kemenangan.

“Kami selalu berbicara tentang angka [statistik] dan tidak memiliki karakter ataupun determinasi. Ketika anda memiliki penguasaan bola 72% dalam permainan. Ketika anda memiliki karakter untuk membuat permainan tersebut menjadi penting dan anda tidak melakukannya, maka ada sesuatu yang hilang,” ujar Di Francesco, ketika mengalami kekalahan 2-0 dari Bologna, dikutip dari Calcio Mercato.

Roma masih mempertahankan strategi musim lalu, memainkan sepakbola menyerang dengan menguasai permainan. Akan tetapi mereka melupakan keseimbangan dalam bertahan. Robin Olsen yang menjadi andalan pada posisi penjaga gawang sejauh ini sudah kebobolan sembilan gol di Serie A.

Lawan-lawan Roma melepas 16,6 tembakan per pertandingan. Bersama Sassuolo, statistik ini adalah keempat terburuk. Malahan para pemain Roma seakan tidak berani memotong serangan lawan, terbukti dari rataan 11,2 tekel per pertandingan yang merupakan terendah kedua di Serie A setelah Empoli.

Tidak mengherankan jika kacaunya pertahanan menjadi salah satu masalah yang harus diselesaikan oleh Di Francesco. Koordinasi antar pemain yang tidak jelas membuat lawan dengan mudah melakukan serangan ke lini pertahanan.

“Mungkin para pemain terlalu bersemangat dalam mencetak gol dan mereka tidak cukup tajam dalam pilihannya. Saya harus mengubahnya. Pertahanan kami tidak solid dan hal tersebut membawa kami ke dalam performa yang memalukan,” tutur Di Francesco, dikutip dari Tribal Football.

Kepergian para pemain kunci di musim lalu juga menjadi salah satu penyebab kemunduran yang sedang dialami oleh Roma. Alisson Becker yang menunjukkan performa gemilang di bawah mistar gawang pada musim lalu menjadi pemain Liverpool per musim ini.

Apalagi di lini tengah, Roma kehilangan para pemain kunci. Peran Radja Nainggolan yang kini memperkuat Inter Milan belum tergantikan. Pindahnya Kevin Strootman ke Olympique de Marseille membuat lini tengah Roma menjadi rapuh.

Javier Pastore dan Steven N’Zonzi yang merupakan rekrutan anyar di lini tengah belum mendatangkan hasil positif. Pemain-pemain muda seperti Bryan Cristante dan Lorenzo Pellegrini juga masih membutuhkan waktu untuk menjadi sentral permainan dari Roma. Di Francesco belum bisa menemukan kombinasi yang pas untuk menggantikan permain-pemain penting yang meninggalkan Roma.

“Dia [Di Francesco] telah bekerja sangat baik ketika di Sassuolo dan Roma pada musim lalu, namun dirinya telah kehilangan tulang punggung dari tim pada musim ini,” ujar Claudio Ranieri, dikutip dari Football Italia.

Awal yang kurang memuaskan sebetulnya tidak hanya dirasakan oleh Di Francesco saat ini. Ketika masih membesut Sassuolo, awal musim 2014/15 menjadi sebuah malapetaka bagi dirinya. Dari tujuh pertandingan awal, I Neroverdi hanya meraih empat hasil imbang dan tiga kekalahan. Namun mereka berhasil bangkit menjauhi jurang degradasi dan akhirnya menduduki posisi 12.

Di Francesco dengan strategi dan taktik yang kurang berhasil pada awal musim ini pantas diberi waktu untuk berbenah. Performa yang cukup memuaskan pada musim lalu menjadi harapan tersendiri bagi publik Stadio Olimpico untuk terus percaya kepadanya.

foto:thesportsman.com

Komentar