Keluar dari Bayang-bayang Klopp

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Keluar dari Bayang-bayang Klopp

Empat hari sebelum memasuki musim 2009/10, Tuchel diangkat menjadi kepala pelatih tim utama FSV Mainz 05. Dia menggantikan Jörn Anderson yang diberhentikan dua hari sebelumnya. Pemecatan Anderson mengejutkan karena dialah yang membawa Mainz kembali ke Bundesliga 1. Penunjukkan Tuchel sebagai pengganti Anderson pun terhitung berisiko karena pelatih yang lahir di Krumbach itu tak punya pengalaman di divisi tertinggi sepakbola Jerman, baik sebagai pemain maupun pelatih. Selain itu Tuchel baru satu tahun bergabung dengan Mainz di posisi pelatih tim U-19.

Salah satu langkah pertamanya sebagai kepala pelatih tim utama adalah membawa para pemain keluar dari Mainz. Tujuannya adalah untuk menghindari tekanan media dan suporter selama pemusatan latihan pra-musim. Tuchel memanfaatkan masa persiapan bebas gangguan ini untuk mengenal para pemainnya. Sepulangnya dari pemusatan latihan, giliran para pemain yang mengenal Tuchel.

Di bawah arahan Tuchel skuat Mainz berlatih di lapangan yang tidak biasa. Tuchel bisa saja menghapus umpan panjang di sisi sayap dengan melarang pemain melakukannya, tapi menurutnya “jika aku menyuruh para pemain tidak melakukan apa yang aku tidak ingin mereka lakukan, aku jadi tukang kritik; tapi peranku adalah penyedia jasa—aku di sini untuk membantu para pemain.” Alih-alih mendikte para pemainnya, Tuchel menambahkan garis-garis baru di permukaan lapangan latihan Mainz. Para pemain berlatih di lapangan berbentuk berlian. Di hari lain mereka bermain di lapangan berbentuk lingkaran. Di hari lainnya mereka bermain di lapangan persegi panjang berukuran 18 x 75 meter atau 30 x 70 meter.

Metode latihan yang tidak biasa itu diterapkan Tuchel untuk mendukung penerapan taktik yang fleksibel. “Kami bukannya mau melanggar aturan, tapi kami harus kreatif karena kami tahu kami tim yang inferior,” ujar Tuchel. Dia melatih timnya untuk terbiasa memainkan beragam formasi dan taktik. Standar yang Tuchel terapkan: sebanyak mungkin sampai mustahil bagi lawan untuk menerka formasi apa yang akan dimainkan timnya. Tuchel percaya hanya dengan cara ini klub kecil seperti Mainz bisa bertahan di Bundesliga 1.

Di pertandingan ketiga sebagai kepala pelatih, Tuchel dihadapkan dengan Bayern Munchen. Dia menurunkan pasukannya dalam formasi 4-1-4-1 untuk melawan 4-3-3 yang diterapkan Louis van Gaal. Mainz menang 2-1. Kemenangan ini membuat Tuchel tidak dilihat sebagai pengganti Anderson, orang yang secara langsung dia gantikan posisinya, tetapi sebagai penerus Jurgen Klopp.

Berada di bawah bayang-bayang Klopp tidak mudah. Adalah Klopp yang pertama kali membawa Mainz meraih promosi ke Bundesliga 1, pada musim 2003/04. Benar memang Klopp juga yang duduk di kursi kepala pelatih saat Mainz terdegradasi pada 2006/07, tapi Mainz tidak melihatnya sebagai kegagalan. Klopp dipertahankan hingga dia sendiri yang mengundurkan diri karena tak mampu memenuhi janji membawa Mainz kembali ke divisi tertinggi. Pada perpisahannya di alun-alun kota, Klopp dilepas dengan air mata para pendukung klub.

Masa bakti Klopp meninggalkan standar yang sangat tinggi untuk ukuran klub sebesar Mainz. Walau demikian Tuchel tidak terbebani. Musim 2010/11 dimulai dengan tujuh kemenangan di tujuh pertandingan pertama, rekor baru untuk Mainz. Di akhir musim Mainz menduduki posisi lima, peringkat tertinggi sepanjang sejarah klub. Mainz lolos ke Liga Europa karenanya.

Dengan terhindar dari degradasi di musim ketiganya, Tuchel melampaui pencapaian Klopp. Tuchel bahkan tak berhenti di situ. Dia masih menjaga Mainz di divisi tertinggi pada musim keempatnya. Walau demikian, memasuki musim kelima, Tuchel merasa kehabisan akal.

Pada pra-musim 2013/14 Tuchel membawa para pemainnya mendaki gunung di Swiss, untuk melihat matahari terbit. Di ketinggian, Tuchel sadar dia tak bisa membawa pasukannya lebih tinggi lagi. Tuchel mulai berpikir untuk mundur di akhir musim itu, walau kontraknya sendiri masih tersisa dua tahun.

Musim 2013/14 sendiri berjalan baik-baik saja, seperti musim-musim sebelumnya. Mainz kembali mengakhiri musim di zona Europa League, walau kali ini di posisi tujuh. Menjelang akhir, keputusan Tuchel sudah bulat. Dia mengumumkan pengundurannya dan akan menghabiskan satu tahun berikutnya dengan istirahat panjang, seperti Pep Guardiola yang taktiknya dia pelajari dengan tekun.

Menjelang akhir dari satu tahun sabbatical Tuchel, Klopp mengumumkan akan mundur dari jabatannya sebagai kepala pelatih Borussia Dortmund per akhir musim 2014/15. Pihak klub kemudian mengumumkan Tuchel sebagai pengganti Klopp. Di klub yang berbeda, Tuchel menghadapi situasi yang sama.

Dia kembali dibandingkan dengan Klopp dan peninggalannya yang mentereng: dua kali juara Bundesliga 1 berturut-turut dan lolos ke final Liga Champions. Dan Tuchel hanya diberi tiga tahun untuk melampauinya. Untungnya Tuchel telah banyak membekali diri dalam satu tahun tanpa kerja.

Seperti saat di Mainz, Tuchel menerapkan metode latihan yang tidak biasa. Lapangan latihan dia buat licin pada satu sesi. Pada sesi lain para pemain berlatih di lapangan yang sangat sempit; pada sesi lainnya di lapangan yang kelewat lebar. Para pemain belakang diharuskan menggenggam bola tenis agar mereka tidak menghentikan lawan dengan menarik kausnya. Tuchel menghadapkan para pemain Dortmund kepada masalah demi masalah agar mereka mampu memecahkannya dan menjadi pemain yang lebih cakap pada akhirnya. Targetnya adalah membuat latihan, secara mental, begitu melelahkan sehingga pertandingan terasa begitu santai.

Hasilnya terasa nyata. Dortmund yang begitu identik dengan gaya main Gegenpressing menjadi tim yang lebih komplet. Tuchel tidak menghapus peninggalan Klopp, tetapi dia menyempurnakannya. Walau demikian, satu-satunya gelar yang mampu dipersembahkannya adalah DFB-Pokal 2016/17. Dia dipecat tiga hari setelahnya.

“Aku sangat senang Kloppo akhirnya telah memutuskan,” ujar Thomas Tuchel bergurau setelah Jurgen Klopp diumumkan sebagai manajer Liverpool pada Oktober 2015. “Sekarang aku tahu ke mana tujuanku berikutnya.”

Kini Tuchel menjabat posisi kepala pelatih Paris Saint-Germain, dan dini hari nanti akan kembali berhadapan dengan Klopp. Masa-masa menyempurnakan hasil karya Klopp sudah lewat. Pertaruhan Tuchel, selain tiga poin di laga pembuka, adalah pembuktian bahwa dirinya bisa berdiri sendiri dan yang paling penting bisa mengalahkan Klopp lagi. Dalam 12 pertemuan, Tuchel hanya pernah satu kali menang melawan Klopp.

Komentar