Mauritius dan Pelajaran dari Punahnya Burung Dodo

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Mauritius dan Pelajaran dari Punahnya Burung Dodo

Indonesia akan memainkan pertandingan persahabatan di FIFA matchday pada Selasa (11/09) di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang Timur. Lawan Indonesia pada pertandingan tersebut adalah Mauritius.

Buat yang tidak kenal Mauritius, tidak masalah. Pertandingan ini adalah pertama kalinya kedua tim nasional akan bertanding.

Mauritius adalah sebuah negara pulau di Samudera Hindia. Negara ini terletak di sebelah timur daratan Afrika, sekitar 2.200 km dari pantai terdekat daratan Afrika. Jika diukur dari Madagaskar, sebuah negara pulau di Afrika, Mauritius berjarak 800 km.

Negara ini memiliki beberapa pulau, tapi pulau yang paling terkenal adalah pulau utama (Mauritius), Pulau Rodrigues, dan kepulauan Agalega. Ibu kota Mauritius, Port Louis, terletak di pulau utama. Banyak yang menjuluki mereka sebagai “Singapura-nya Afrika”.

Untuk sampai ke Indonesia, para pemain Mauritius harus menempuh perjalanan sejauh 5.500 km. Tiket pesawat termurah adalah Rp12.000.000, berdasarkan Google Flights.

Perkembangan Sepakbola Mauritius

Olahraga paling populer di Mauritius adalah sepakbola. Liga Primer Inggris sering disiarkan setiap akhir pekan.

Asosiasi sepakbola Mauritus berdiri pada 1952. Mereka bergabung dengan FIFA pada 1964, kemudian bergabung dengan CAF (Federasi Sepakbola Afrika) setahun setelahnya.

Pada peringkat FIFA Agustus 2018, Mauritius menduduki peringkat ke-155. Lebih baik daripada Indonesia di peringkat ke-164.

Prestasi terbaik negara ini adalah dua kali menjadi juara Indian Ocean Games, yaitu pada 1985 dan 2003. Turnamen ini adalah sejenis SEA Games tapi untuk negara-negara Samudera Hindia seperti Réunion, Mauritius, Madagaskar, Seychelles, Komoro, Mayotte, dan Maladewa.

Prestasi terbaik mereka lainnya hadir pada 1974. Ketika itu mereka lolos ke Piala Afrika, meski menjadi juru kunci Grup B setelah dikalahkan Kongo, Guinea, dan Zaire.

Baca juga: Ketidakjelasan Jelang Indonesia vs Mauritius

Piramida kompetisi sepakbola nasional di Mauritius adalah 10 kesebelasan Liga Primer, 8 kesebelasan Divisi Satu, dan 8 kesebelasan Divisi Dua, dengan tim-tim muda dan reserve dipersilakan bermain di Divisi Satu dan Dua (tak bisa promosi ke Liga Primer).

Salah satu yang paling menarik dari sepakbola Mauritius adalah dahulu kesebelasan-kesebelasan di sana berbasis etnis atau agama, dengan Hindu sebagai mayoritasnya (sama seperti India, Nepal, dan Pulau Bali).

Hal ini membuat sempat terjadi bentrokan pada 1999, di mana adanya kerusuhan di pertandingan Fire Brigade Sports Club (sekarang bernama Pamplemousses SC) dan Scouts Club (sekarang bernama Port Louis SC). Kerusuhan berlangsung selama tiga hari dan memakan tujuh korban jiwa.

Perubahan kemudian dibuat. Sejak 2006 para peserta Liga Mauritius disusun ulang. Kesebelasan-kesebelasan saat ini berbasis regional. Hal itu memang membuat rivalitas menjadi hilang, juga membuat minat para suporter menurun drastis.

Kisah Punahnya Burung Dodo

Timnas Mauritius memiliki julukan Club M dan Les Dodos atau Para Burung Dodo. Julukan kedua ini sangat menarik.

Dari beberapa spesies binatang yang sudah punah, burung dodo adalah spesies yang paling terkenal dan ikonik. Budaya barat melalui pop culture-nya sering mengangkat kembali tokoh burung dodo sehingga orang-orang tidak lupa.

Mauritius adalah satu-satunya habitat dodo. Dodo sudah tinggal di Mauritius sejak 4 juta tahun yang lalu. Ini adalah binatang serupa burung yang berukuran besar, tinggi sekitar 1 meter, dengan sayap berbentuk kecil dan aneh, yang membuat mereka tidak bisa terbang.

Ada alasan kenapa dodo berukuran besar dan tak bisa terbang. Dahulu dodo adalah burung biasa, berukuran kecil dan bisa terbang. Namun karakteristik itu tercipta dengan proses evolusi yang panjang.

Tak adanya predator di Mauritius membuat dodo tak membutuhkan sayap untuk terbang. Alhasil mereka juga menjadi terisolasi di pulau utama Mauritius, tak bisa menyebar ke belahan dunia lainnya.

Sebenarnya dahulu Bangsa Arab sempat mampir di Mauritius, tapi mereka tak tertarik sehingga kemudian pergi lagi. Bangsa Portugis kemudian datang pada 1507. Tak seperti Arab, Portugis menetap di pulau tersebut.

Para pelaut yang kelaparan melihat dodo sebagai salah satu sumber makanan di Mauritius. Akhirnya mereka membunuh dodo untuk dimakan.

Setelah Portugis, Bangsa Belanda datang dan menguasai Mauritius pada 1638. Mereka bahkan menyebabkan kerusakan yang lebih parah kepada habitat dodo. Dengan membawa tikus, babi, dan monyet ke pulau itu, telur-telur dodo juga menjadi makanan empuk bagi binatang-binatang itu.

Akhirnya hanya dalam 100 tahun, dodo dinyatakan punah karena ulah manusia. Burung dodo terakhir tercatat dibunuh pada 1681.

Sekarang Hanya Hadir dalam Bentuk Lambang dan Ikon

Punahnya dodo sama seperti yang terjadi pada punahnya harimau Jawa. Akibat pembabatan hutan dan terganggunya habitat karena ulah manusia di Pulau Jawa, harimau Jawa akhirnya punah pada 1984; sama seperti dodo, spesies terakhirnya mati terbunuh.

Meski dodo sudah punah, kisahnya terus abadi sampai saat ini. Selain menjadi julukan Timnas Mauritius, dodo juga masuk ke dalam salah satu lambang negara mereka.

Kedua binatang yang disebut di atas, dodo dan harimau Jawa, adalah binatang yang saat ini sudah punah namun kemudian abadi dalam lambang dan ikon. Hal itu juga terjadi di sepakbola, di mana sudah menjadi hal umum melihat lambang atau maskot yang mengandung unsur binatang yang sudah punah.

Komentar