Jangan Buat Keita Balde Sakit Hati

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Jangan Buat Keita Balde Sakit Hati

“Saya senang ada di sini bersama keluarga besar Inter dan saya akan mengerahkan segalanya untuk menyenangkan para fans. Bermain di Inter adalah mimpi saya sejak kecil,” ujar Keita Balde Diao pada Inter TV saat diperkenalkan sebagai pemain baru Internazionale Milan.

Pernyataan “Blablabla adalah mimpi saya sejak kecil” bisa dengan mudah dipahami sebagai pernyataan template seorang pemain ketika hijrah ke kesebelasan baru. Boleh saja tidak mempercayai kalimat tersebut karena kemungkinan besar hampir semua pemain baru akan mengatakan hal seperti itu.

Secara kualitas Balde sudah terbukti di Italia. Lazio bisa kembali menjadi salah satu kesebelasan yang diperhitungkan di Serie A berkat penampilan impresif Balde dalam empat musim membela Si Elang.

Tapi yang perlu dikhawatirkan dari Balde adalah sikap arogannya. Balde punya rekam jejak yang kurang baik perihal sikapnya di luar lapangan. Meski di lapangan ia selalu tampil penuh dedikasi di setiap kesebelasan yang ia bela, ketika di luar lapangan, sikapnya tak terkendali.

Balde mengawali karier di akademi La Masia, Barcelona. Meski kedua orang tuanya berasal dari Senegal, Balde lahir di Spanyol, lebih tepatnya Girona, bagian dari Katalunya. Barcelona pernah menghukumnya dengan meminjamkan ke kesebelasan Divisi 4 Spanyol, UE Cornelia, gara-gara ia menjahili rekan setimnya dengan menyimpan es batu dengan jumlah banyak di tempat tidur rekan setimnya itu.

Keita Balde saat masih membela Barcelona

Balde membuktikan kualitasnya di Cornelia dengan mencetak 47 gol dalam satu musim. Usianya yang masih 16 tahun saat itu tentu membuat banyak kesebelasan langsung tertarik menggunakan jasanya. Real Madrid, Manchester United, Lazio, dan Juventus, seperti dilaporkan Calcio News 24, tertarik mendatangkannya.

Barcelona pun terkesima dengan pembuktian Balde dan menyiapkannya bermain dengan skuat tim Barcelona B. Namun Balde kadung kecewa dengan "hukuman" yang diterimanya. Ia tak mau kembali ke Barca.

Agen Balde, Nunzio Marchione, lantas menawarkan Balde ke kesebelasan-kesebelasan peminatnya. Lazio yang paling cepat merespons tawaran tersebut dengan langsung mengadakan pertemuan bersama orang tua Balde. Balde lantas memilih Lazio. Lazio harus mengeluarkan 300 ribu euro untuk membawanya ke Roma.

“Tawaran dari Real Madrid juga sudah ada, tapi Balde lebih menyukai Lazio. Tawaran kesebelasan lain datang terlambat,” kata Marchione.

Di Lazio karier Balde semakin menanjak. Hanya butuh satu tahun di akademi, Balde langsung promosi ke skuat utama Lazio pada usia 18 tahun. Total 25 laga langsung ia mainkan di Serie A musim pertamanya.

Namun Balde kerap memiliki masalah dengan pelatih-pelatih yang menukangi Lazio. Dimulai dari Vladimir Petkovic, Edoardo Reja, hingga Stefano Pioli pernah terlibat friksi dengan Balde. Hanya Simone Inzaghi yang berhasil meredam ego Balde. Inzaghi tahu betul karakter pemain kelahiran 8 Maret 1995 itu, karena pernah melatihnya di tim junior Lazio.

Karenanya meski Balde tampil impresif bersama Lazio, namanya tak pernah lepas dari rumor transfer. Lazio seolah tinggal menanti harga yang cocok untuk melepas salah satu pemain terbaiknya itu. Bahkan karena masalah yang muncul, Balde mengatakan siap kembali ke Barcelona yang sebelumnya telah menyakiti hatinya.

“Suatu saat saya ingin kembali ke Barcelona. Itu adalah tempat saya tumbuh dan saya selalu dikenal dengan warna mereka,” ujar Balde seperti dikutip Squawka pada 2015. Namun Balde gagal pindah karena Lazio mematok harga yang cukup tinggi, 20 juta euro.

Enam bulan setelah itu, Balde kembali membuat masalah dengan berkata pada media bahwa ia ingin pindah karena kurang mendapatkan menit bermain. Hal itu disikapi manajemen Lazio lewat pernyataan resmi. “Balde mengeluarkan serangkaian pernyataan yang sangat agresif dan ofensif terhadap klub dan eksekutif untuk tujuan memfasilitasi transfer. Kami bermaksud untuk melindungi kredibilitas kami,” tulis Lazio lewat laman resmi.

Sempat membaik, hubungan Lazio dan Balde semakin buruk ketika Balde tak dibawa Lazio yang akan menghadapi Juventus pada Piala Super Italia 2017. Balde yang sakit hati langsung curhat di media sosial.

“Tidak dibawa untuk laga Piala Super sangat menyakitkan saya,” ujar Balde lewat akun Twitternya. “Ini adalah pertandingan penting pertama musim ini dan saya siap bermain. Tapi keputusan yang dibuat klub tidak sportif, menempatkan saya pada posisi yang tak nyaman secara psikologis.”

Keputusan Inzaghi tidak membawa Balde memang mengejutkan. Semusim sebelum itu, Balde menjalani musim terbaiknya di Lazio dengan mencetak 16 gol dari 34 laga. Inzaghi sendiri beralasan bahwa pemain yang total bermain sebanyak 137 laga untuk Lazio itu mulai menunjukkan gelagat ingin pindah.

“Balde sejak menit pertama? Saya tahu apa yang ada di pikiran setiap pemain saya dan saya tahu jika mereka bisa atau ingin memberikan segalanya untuk seragam ini. Jika Balde memberikan 100 persen perasaan positif, tentunya dia akan bermain sejak awal," ujar Inzaghi dikutip dari La Stampa.

Keita Balde saat masih membela Lazio, menghadapi Inter

Sempat dirumorkan ke West Ham United, Balde akhirnya dilepas Lazio ke AS Monaco dengan nilai transfer 30 juta euro. Monaco tak masalah dengan rekam jejak pemain berposisi sayap tersebut, yang mulai dikenal sebagai "anak nakal" dan kerap disandingkan dengan Mario Balotelli.

Ternyata Balde hanya bertahan satu musim di Perancis. Menjalani musim yang kurang menggembirakan (mencetak 8 gol dari 33 kali bermain), Balde lebih memilih menerima tawaran Inter. Inter mendapatkan jasa Balde dengan status pinjaman plus 6 juta euro dengan opsi permanen 30 juta euro pada musim depan.

Balde sendiri cukup percaya diri akan memiliki karier yang lebih baik di Inter. Ia mengatakan sudah paham betul karakter permainan kapten Inter, Mauro Icardi. Ia akan kembali bermain bersama Antonio Candreva dan Stefan De Vrij seperti di Lazio. Ia juga percaya pada kemampuan taktikal Luciano Spalletti.

"Saya menjalani waktu saya di Barcelona bersama Mauro [Icardi]. Saya mengenalnya sejak dia masih kecil. Saya juga tahu pelatih [Spalletti], ia memberikan pertolongan besar dan benar-benar menginginkan saya berada di sini," tukas Balde.

Potensi Balde untuk menjadi pemain hebat sudah terlihat sejak ia masih membela La Masia. Lazio telah merasakan kontribusi besarnya. Di Inter, Balde bisa meningkatkan kemampuannya bahkan mencapai potensi terbaiknya selama, tentu saja, Inter tidak menyakiti hati Balde suatu hari nanti.


Internazionale Milan akan memulai perjalanannya di Serie A pada akhir pekan ini dengan menghadapi Sassuolo, Senin dini hari WIB. Keita Balde harus bersaing dengan winger lain seperti Ivan Perisic dan Antonio Candreva.

foto: inter.it

Komentar