Ditikung di Jendela Transfer

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Ditikung di Jendela Transfer

Drama kepindahan Malcom Filipe Silva de Oliveira menjadi sorotan. Seharusnya pemain Brasil tersebut pindah dari Girondins de Bordeaux ke AS Roma. Bordeaux dan Roma sudah mengumumkan hal tersebut pada Hari Senin (23/7). Malcom pun dijadwalkan terbang ke Roma untuk melakukan tes medis. Di bandara, para pendukung Roma siap menyambutnya.

Namun pada Selasa malam (24/7), FC Barcelona datang dengan tawaran susulan. Pada akhirnya Malcom tak pernah tiba di Roma. Pemain berusia 21 tahun itu setuju untuk pindah ke Barcelona dengan kontrak lima tahun.

Banyak yang bilang ini soal uang. Jika uang adalah penyebabnya, maka itu juga yang ditunjukkan oleh ketiga pihak. Tawaran Roma dikabarkan adalah 32 juta euro (sekitar 543 miliar rupiah). Sementara tawaran susulan Barcelona 41 juta euro (696 miliar rupiah). Wajar, kan, kalau Bordeaux mengambil tawaran yang lebih besar?

Pada kenyataannya proses perpindahan pemain bukan hanya soal uang transfer yang lebih besar. Jika Malcom dan agennya memang ingin pindah ke Roma, bisa jadi berapapun yang Barcelona tawarkan tak akan memengaruhi negosiasi itu. Begitu lah sepakbola, tak ada yang sederhana.

Kapan Biasanya Ada Pembajakan Transfer?

Biasanya ada enam langkah di setiap proses perpindahan pemain, mulai dari pemantauan, pencarian informasi, pendekatan, negosiasi (kesebelasan pembeli dengan kesebelasan penjual, pemain yang bersangkutan, dan agen pemain), tes medis, dan tanda tangan kontrak. Sebelum ada hitam di atas putih, pada langkah keenam di atas, maka pemain belum resmi pindah kesebelasan.

Baca selengkapnya: Enam Langkah Terjadinya Transfer Pemain Sepakbola

Kasus pembajakan dan "tikung-tikungan" sering terjadi karena rasa terlalu percaya diri. Sir Alex Ferguson pernah kehilangan Paul Gascoigne pada 1988. Padahal saat itu Ferguson sudah mendapatkan persetujuan verbal dari Gascoigne yang saat itu bermain di Newcastle United.

Karena terlalu percaya diri, Ferguson pun liburan ke Malta. Ferguson merasa ia bisa menyelesaikan proses transfer setelah liburan.

Namun ternyata Tottenham Hotspur datang "menikung" Manchester United dan Ferguson. Ketika Ferguson tiba di Inggris, Gazza sudah berstatus sebagai pemain Spurs.

Saat ditanya kenapa ia lebih memilih Spurs, jawabannya cukup sederhana. Gazza meminta rumah untuk keluarganya, garasi untuk ayahnya, dan kursi berjemur untuk adik perempuannya. Semuanya bisa disediakan oleh pihak Spurs.

Pada sebuah film sepakbola jenaka, The Damned United (2009), percakapan Brian Clough (dimainkan oleh Michael Sheen) dan asistennya di Derby County, Peter Taylor (Timothy Spall), bisa mengilustrasikan kapan atau pada proses mana pembajakan transfer bisa terjadi di sepakbola.

Brian Clough (BC): "Apa kau yakin [untuk merekrut Dave Mackay]?

Peter Taylor (PT): "[Aku] tak pernah seyakin ini sepanjang hidupku."

BC: "Baiklah. Aku akan bicara dengan [Sam] Longson (pemilik Derby) besok pagi."

PT: "Tak akan ada besok pagi. Hearts telah menawarinya, [mereka] menginginkannya sebagai manajer. Tampaknya persyaratan sudah disepakati."

BC: "Elah, ngapain kamu telepon aku kalau begitu?"

PT: "Karena ketika aku tanya Bill Nick bagaimana kondisi deal-nya, ia bilang 99%.."

BC: "...Artinya ia belum tanda tangan."

PT: "Tepat sekali."

Sebenarnya yang terjadi berikutnya tak seperti yang ditunjukkan di film tersebut. Clough datang sendirian ke White Hart Lane, kandang kesebelasan Mackay saat itu, hanya untuk mendapatkan penolakan dari Mackay. "Gak akan. Aku akan kembali ke Hearts besok, untuk jadi asisten manajer. Titik," kata Mackay yang saat itu sudah berusia 34 tahun, dilansir dari The Guardian.

Mackay adalah pendukung Heart of Midlothian dari kecil. Ia mengawali karier di sana dan menjadi kapten sebelum pindah ke Spurs pada 1959.

Berada di senjakala karier untuk menjadi asisten manajer di kesebelasan masa kecilnya mungkin deal yang sudah lebih dari 99%. Namun Clough yang sakti bisa membujuk Mackay untuk memperpanjang masa bermainnya. Alih-alih kembali ke Hearts, Mackay malah bermain di Derby yang saat itu berada di Second Division.

Seperti Sedang PDKT

Cerita Barcelona menikung transfer Malcom sampai Mackay berhasil dibujuk Clough bisa jadi terlihat biasa saja jika kita melihat dua pembajakan di bawah ini:

"Uang adalah segalanya" tercermin betul dalam proses kepindahan Robinho dari Real Madrid ke Manchester City pada 2008. Saat itu Robinho sebenarnya sudah lebih dulu setuju pindah ke Chelsea, padahal Chelsea masih menganggap harganya terlalu tinggi, kemudian Man City malah bersedia membayarnya. Robinho terbang ke Inggris tak tahu menahu soal itu semua. Pada konferensi pers, Robinho tak sengaja berkata jika ia senang Real Madrid menerima tawaran Chelsea... kemudian ada orang yang mengirim "kode" jika ia salah, dan akhirnya ia meralatnya.

Pada 2013 Willian sudah melakukan tes medis di Spurs, tapi belum juga melakukan tanda tangan. Akhirnya proses perpindahan dari Anzhi Makachkala ke Spurs ditikung oleh Chelsea. Bukan hanya soal uang, semua itu juga terjadi karena bantuan dari Suleyman Kerimov, pemilik Anzhi yang juga kerabat Roman Abramovich.

Dalam kasus Robinho, uang mungkin adalah faktor nomor satu. Tapi di kasus Willian, koneksi pertemanan yang menjadi penentu. Sebenarnya ada banyak faktor yang memengaruhi pembajakan bisa terjadi selain karena uang dan koneksi, misalnya karena status atau kebesaran sebuah klub, mulut manis yang bisa membujuk (seperti Clough dalam kasus Mackay), atau agen yang nakal.

Mungkin ada kisah pembajakan yang lebih sadis daripada Malcom, Gascoigne, Mackay, Robinho, dan Willian di atas. Namun semua itu mencerminkan satu hal yang sama, yaitu tidak ada kesepakatan yang sudah pasti jika belum ada hitam di atas putih. Selama itu belum ada, maka semuanya masih bisa terjadi. Mungkin persis seperti slogan "selama belum ada janur kuning melengkung....".

Meski sedang ngomongin transfer di sepakbola, ternyata transfer pesepakbola memang tak jauh beda jika dibandingkan dengan PDKT kepada perempuan; apalagi kalau sudah soal tikung-menikung. Maka dari itu, agar tidak ditikung dan mendapatkan yang diidamkan, ada tipsnya: Tips Mendekati Perempuan Idaman Anda dari Proses Transfer Pemain. Hehehe...

Komentar