Pertandingan Piala Dunia Paling Tak Penting

Cerita

by Dex Glenniza Pilihan

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Pertandingan Piala Dunia Paling Tak Penting

Di Piala Dunia 2018 ini, ada satu kutipan yang mencerminkan bahwa pertandingan perebutan peringkat ketiga (third place play-off) tidak penting. Kata-kata itu keluar dari mulut Kepala Pelatih Belgia, Roberto Martinez: “Kamu kecewa kalah di semifinal. Sulit melihat kesempatan bermain di pertandingan lain sebagai hal positif.”

Pelatih Inggris, Gareth Southgate, kurang lebih sependapat: “Sejujurnya itu bukan pertandingan yang tim manapun ingin mainkan.” Bedanya, Southgate mencoba menghibur dengan agak formalitas: “Kami akan memberikan penampilan yang mencerminkan kebanggaan besar, tak perlu diragukan lagi.”

Kedua pelatih dan tim nasional ini saling berhadapan di pertandingan perebutan peringkat ketiga Piala Dunia 2018.

Kecuali pada Piala Dunia 1930 (memang tak ada pertandingan perebutan peringkat ketiga) dan 1950 (menggunakan sistem fase grup untuk empat kesebelasan terakhir), pertandingan perebutan peringkat ketiga dipandang sebagai pertandingan yang paling tidak penting. Pertandingan ini mempertemukan dua pecundang semifinal.

Louis van Gaal, Pelatih Belanda saat membawa Belanda menempati peringkat ketiga di Piala Dunia 2014, juga mengamini. “Pertandingan seperti ini seharusnya tak pernah dimainkan,” katanya.

Banyak pemain yang sudah ogah-ogahan bermain. Tak jarang juga yang memainkan para pemain pelapis. Mungkin karena mereka semua sudah kelelahan serta menghindari cedera. Michel Platini misalnya, ia tak bermain pada pertandingan perebutan peringkat ketiga Piala Dunia 1982 dan 1986.

Namun karena hal-hal ini, pertandingan perebutan peringkat ketiga biasanya berlangsung terbuka dan menyerang (atau lebih tepatnya kesebelasan kelihatan ogah bertahan serius).

Itu yang membuat aspek hiburan, yang hadir melalui gol, menjadi daya dongkrak pertandingan ini. Rata-rata tercipta tiga gol sejak Piala Dunia 1978 pada pertandingan perebutan peringkat ketiga.

Gol dan pertandingan adalah hiburan utama sepakbola. Itu berarti ada pemasukan tiket, sponsor, iklan, dan hak siar televisi. Itu juga berarti bisa dibaca: uang, uang, uang, dan uang.

Alasan-alasan itu membuat (sepertinya) pertandingan perebutan peringkat ketiga akan ada terus selamanya selama FIFA masih menjadi penyelenggara Piala Dunia. Hal ini juga berlaku bagi Piala Konfederasi dan Piala Dunia Antarklub.

Tak Penting, Tapi Membahagiakan

Sepakbola bukan Olimpiade atau turnamen olahraga seperti Asian Games, SEA Games, atau yang sejenisnya. Bagi turnamen-turnamen olahraga multi-cabang seperti itu, perolehan medali adalah hal penting, meski tetap medali emas yang paling penting untuk menentukan posisi klasemen.

Secara umum, wajar bagi kita jika menilai medali emas (peringkat satu), perak (dua), perunggu (tiga) adalah medali yang menggambarkan, sesuai urutan, prestasi paling membahagiakan, lebih membahagiakan, dan agak membahagiakan.

Namun ternyata menurut ilmu psikologi, atlet akan lebih senang mendapatkan medali perunggu daripada medali perak.

Pada 1995, Victoria Medvec dan Thomas Gilovich dari University of Toledo menyatakan demikian. Mereka menyimpulkannya pada sebuah jurnal berjudul “When Less Is More: Counterfactual Thinking and Satisfaction Among Olympic Medalists”.

Bagi peroleh medali perak (peringkat kedua), mereka akan berpikir jika mereka bisa saja mendapatkan emas kalau berusaha lebih keras. Namun bagi peroleh medali perunggu (peringkat ketiga), mereka setidaknya mendapatkan sesuatu padahal mereka hampir tak memperoleh apa-apa.

Medali Peringkat Ketiga, Bukan Medali Perunggu

Masalahnya, Piala Dunia tidak mengenal medali emas, perak, dan perunggu. Mereka memang mendapatkan medali yang jenis, warna, tulisan, dan nilainya berbeda. Namun medali itu tak benar-benar mencerminkan emas, perak, dan perunggu.

Meski demikian ilmu psikologi yang berlaku tetap sama, baik di Piala Dunia maupun Olimpiade. Secara psikologis, dinilai dari tingkat kebahagiaan dan kepuasannya, peraih peringkat ketiga merasa lebih baik daripada peraih peringkat kedua.

Ini wajar dan rasional. Meski itu dilabeli sebagai “pertandingan tak penting”, peraih peringkat ketiga adalah mereka yang menang di pertandingan terakhir. Setidaknya mereka mendapatkan sesuatu. Sementara peraih peringkat kedua adalah mereka yang kalah di pertandingan terakhir.

Sepanjang sejarah Piala Dunia sendiri, baru Swedia (1994) dan Kroasia (1998) yang terang-terangan menganggap peringkat ketiga sebagai sebuah kebanggaan yang memiliki arti, sehingga mereka menganggap pertandingan peringkat ketiga sebagai pertandingan yang penting.

Davor Suker, penyerang Kroasia pada 1998, menyatakan: “Bagi kami luar biasa bisa ada di peringkat ketiga di atas banyak tim hebat dunia. Akhir yang bagus.”

Kemudian meski pertandingan perebutan peringkat ketiga di Piala Dunia 1994 diwarnai pengaturan skor, Tim Nasional Swedia juga merayakan peringkat ketiga dengan sambutan hangat dan parade keliling di ibu kota mereka, Stockholm.

Hal Positif dari Pertandingan Tak Penting Ini

Jika menjadi bahagia tak membuat pesepakbola puas, sebenarnya ada banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari pertandingan perebutan peringkat ketiga.

Pertama misalnya, kesebelasan peringkat ketiga Piala Dunia akan mendapatkan lebih banyak uang hadiah. Pada Piala Dunia 2018, juara pertama mendapatkan 29,7 juta paun (sekitar 565 miliar rupiah), runner-up 21,2 juta paun, peringkat ketiga 18,1 juta paun, dan peringkat keempat 16,6 juta paun.

Masalahnya, perbedaan antara peringkat ketiga dan keempat hanya 1,5 juta paun. Jika diilustrasikan, uang sebanyak itu hanya bisa dipakai untuk menggaji Adam Lallana selama 10 pekan. Ternyata tidak berarti banyak.

Namun beberapa sejarah tercipta di pertandingan perebutan peringkat ketiga. Oliver Kahn yang saat itu menjadi penjaga gawang pelapis Jerman, pensiun dengan pertandingan terakhirnya di peringkat ketiga Piala Dunia 2006.

Hans-Jörg Butt, kiper pelapis Jerman lainnya, memainkan satu-satu pertandingan kompetitif internasional di perebutan peringkat ketiga 2010.

Michel Vorm, juga kiper, masuk pada injury time menjelang akhir pertandingan perebutan peringkat ketiga 2014 untuk memastikan Belanda memainkan ke-23 pemain mereka selama Piala Dunia. Itu adalah momen bersejarah, meski tak terlalu penting.

Gol tercepat sepanjang sejarah Piala Dunia juga dicetak pada perebutan peringkat ketiga. Pada Piala Dunia 2002, Hakan Sukur mencetak gol di detik ke-11 untuk Turki, sekaligus membawa Turki menang 3-2 atas tuan rumah Korea Selatan.

Momen Pengukuhan Top Skor

Selain sejarah-sejarah di atas, momen-momen perpisahan seperti Kahn atau Butt pantas membuat pertandingan perebutan peringkat ketiga sebagai pertandingan penting. Inggris pernah mengalaminya pada 1990 yang merupakan pertandingan terakhir (lagi-lagi) kiper legendaris sekaligus peraih caps terbanyak mereka, Peter Shilton.

Sayangnya saat itu Shilton dan Inggris kalah 1-2 dari tuan rumah Italia. Hal yang mengesalkan untuk Shilton bukan hanya kekalahan di penghujung kariernya, tapi juga blundernya.

Senada dengan kekalahan Inggris, pertandingan itu membuat salah satu pemain Italia, Salvatore Schillaci, mencetak gol. Berkat gol itu, Schillaci bisa menjadi top skor Piala Dunia 1990.

Ternyata momen itu bukan satu-satunya. Suker menjadi top skor Piala Dunia 1998 juga karena berhasil mencetak gol di pertandingan perebutan peringkat ketiga. Selain itu, Kroasia juga mencatatkan sejarah karena mereka baru pertama kali berkompetisi setelah pecah dari Yugoslavia.

Pengukuhan top skor terulang kembali pada Piala Dunia 2010 ketika Thomas Müller mencetak gol di pertandingan perebutan peringkat ketiga.

Namun ada satu pertandingan yang paling bersejarah. Pada Piala Dunia 1958, Perancis menang 6-3 atas Jerman Barat di perebutan peringkat ketiga. Just Fontaine mencetak empat gol yang membuatnya bukan hanya menjadi top skor, tetapi juga menjadi pemain yang mencetak gol paling banyak dalam satu edisi Piala Dunia.

Pertandingan perebutan peringkat ketiga sudah terkenal menghasilkan banyak gol. Wajar jika ini menjadi momen penting bagi para top skor.

Jadi, Penting atau Tidak, Nih?

Dari semua kisah di atas, kita bisa menyimpulkan banyak hal dari pertandingan perebutan peringkat ketiga.

Secara umum, pertandingan ini memang tak penting. Tingkat kepentingan bisa menjadi sedikit naik jika kesebelasan yang bertanding adalah kesebelasan kuda hitam (contoh kasus Swedia 1994 dan Kroasia 1998) dan/atau ada pemain yang sudah menyatakan akan pensiun.

Sementara secara historis, pertandingan ini memiliki jaminan menghasilkan banyak gol. Sejak 1978 setidaknya ada tiga gol di setiap pertandingan perebutan peringkat ketiga.

Melihat gol dan pertandingan sepakbola, seharusnya kita sebagai penonton terhibur.

Namun itu ternyata sejalan dengan hipotesis jika pertandingan ini tak penting sehingga kesebelasan dan para pemainnya bermain tak serius. Pertahanan mereka menjadi kendur sehingga mudah dibobol.

Di sini penonton sepakbola mengalami dilema, apakah mereka terhibur dengan sekadar gol-gol, atau sebaliknya menjadi kesal karena kedua kesebelasan sama-sama bermain tak serius sehingga kebobolan banyak gol?

Fakta bahwa kalian sudah membaca tulisan sampai sejauh ini, apalagi sampai kalian nonton pertandingannya sungguhan, tak terbantahkan menjadikan pertandingan perebutan peringkat ketiga sebagai pertandingan yang seharusnya (agak sedikit) penting, lah, untuk kita semua. He he he. Tapi, tapi, tapi... berebut kok peringkat ketiga?

Komentar