Lima Belas Hari di Dalam Gua

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Lima Belas Hari di Dalam Gua

Hari Sabtu adalah hari latihan bagi sekelompok anak yang tergabung dalam tim sepakbola bernama Wild Boars. Usia mereka berkisar antara 11 hingga 16 tahun. Mereka semua berasal dari kawasan Chiang Rai yang terletak di Thailand bagian utara, 795 km dari ibu kota negara.

Sabtu, 23 Juni 2018, mereka menjalani latihan sebagaimana biasanya. Latihan tampak berjalan normal dan selesai dengan menyenangkan. Usai sesi latihan tuntas, pelatih Wild Boars, Ekkapol Chantawong, berinisiatif mengajak anak-anak asuhnya bertamasya ke Gua Tham Luang yang juga berlokasi di kawasan Chiang Rai. Sebanyak 12 anak menerima ajakan Chantawong. Mereka pun bergegas pergi ke Tham Luang.

Sejak Mei, kawasan Thailand utara dilanda musim hujan. Akan tetapi hal itu tidak menghalangi rombongan Wild Boars untuk berwisata ke Tham Luang.

Sesampainya di lokasi, mereka memutuskan untuk meninggalkan alas kaki dan tas yang mereka bawa di pintu masuk gua. Hanya lampu senter yang mereka bawa.

Rombongan itu mulai menyusupi lorong demi lorong yang terdapat di Gua Tham Luang. Saking asyiknya, tak terasa mereka sudah berjalan sejauh 2 km. Di sinilah petaka mulai menimpa mereka.

Tiba-tiba gelombang air dalam jumlah sangat besar mulai memasuki gua, memenuhi setiap sudut dan celah yang terdapat di sana. Seketika Gua Tham Luang tergenang oleh banjir besar. Hujan deras yang sedang turun di luar menjadi penyebabnya.

Rombongan Wild Boars pun langsung mencari tempat yang lebih tinggi untuk menghindari air bah yang datang. Susah payah mereka naik ke sebuah gundukan tanah yang cukup berjarak dari permukaan air. Walau kontur gundukan tanah tersebut tak rata, tak menjadi masalah. Mereka berpikir bahwa banjir tersebut tak akan berlangsung lama.

Sialnya, ternyata hujan terus-menerus mengguyur kawasan Chiang Rai setiap hari. Alhasil volume air di dalam gua pun tak kunjung menurun. Tiga belas orang itu seketika terperangkap di dalam gua.

Segalanya menjadi semakin buruk ketika mereka ingat bahwa hanya lampu senter yang dibawa oleh mereka. Tak ada makanan; tak ada minuman. Beruntung posisi mereka dekat dengan dinding gua yang sering meneteskan air. Mereka pun melepas dahaga dengan cara menampung tetes demi tetes air itu ke dalam mulut mereka.

Baru Ditemukan Sembilan Hari Kemudian

Keberadaan 13 orang yang terperangkap di dalam gua baru diketahui oleh pemerintah Thailand beberapa hari kemudian. Pemerintah pun langsung mengirim dua ekspeditor gua asal Inggris, John Volanthen dan Richard Stanton, untuk melakukan evakuasi terhadap ketiga belas korban.

Tanggal 2 Juli 2018, alias sembilan hari setelah perjalanan gua dimulai, Volanthen dan Stanton yang dibantu oleh tim penyelam dari Angkatan Laut Thailand berhasil menemukan keberadaan para korban.

“Berapa jumlah yang masih hidup?” pekik salah seorang tim penyelamat kepada kerumunan korban.

“Tiga belas.”

“Hebat! Kalian sudah sembilan hari berada di sini. Kalian sangat kuat.”

“Kami lapar. Bisakah kami dikeluarkan dari sini sekarang juga?”

“Tidak sekarang. Kalian harus tunggu bantuan lain datang. Karena kalian harus punya kemampuan menyelam jika ingin keluar dari sini.”

Akibat tak mendapat asupan makanan pokok selama satu minggu lebih, tubuh para korban sangat lemah. Jangankan menyelam, untuk berdiri saja mereka kepayahan.

“Harus segera dipulihkan tenaganya,” sebut salah seorang penyelam dari tim penyelamat, Ben Raymenants. “Mereka mengalami degradasi otot. Mereka kesulitan untuk berdiri sekalipun.”

Tim dokter pun langsung mengirimkan makanan berbentuk gel untuk memulihkan energi, sembari menunggu tim penyelamat menemukan cara terbaik untuk melakukan evakuasi. Tim ahli mesin turut dikerahkan dalam misi ini. Mereka bertugas untuk menyediakan mesin yang bisa mendorong air keluar dari dalam gua.

Pintu masuk Gua Tham Luang

Terhambat Cuaca

Seiring memasuki musim hujan di Thailand, hujan pun hampir setiap hari mengguyur kawasan Chiang Rai. Ini bukan saja membuat volume air di dalam gua sulit turun, melainkan juga menyulitkan tim penyelamat dalam melakukan proses evakuasi.

“Sebenarnya misi ini sangat tidak memungkinkan karena hujan terus turun setiap hari,” ucap Gubernur Chiang Rai, Narongsak Ostanakorn. “Tetapi dengan kebulatan tekad dan seluruh perlengkapan yang tersedia, kami berusaha melawannya.”

Menteri Dalam Negeri Thailand, Anupong Paojinda, sempat berinisiatif untuk melengkapi para korban dengan peralatan menyelam agar mereka bisa dievakuasi dengan melakukan penyelaman. Ia beranggapan bahwa tim penyelamat tak bisa terus menunggu cuaca membaik, di tengah musim hujan yang sedang melanda.

Akan tetapi gagasan itu ditentang oleh Ben Raymenants. “Medannya sangat jauh dan kompleks. Jarak pandang juga sangat-sangat terbatas sehingga risiko korban mengalami kepanikan justru lebih besar,” ujarnya dikutip dari Vice News.

Apa yang dikatakan Raymenants terbukti beberapa hari kemudian. Saman Kunan, mantan anggota Angkatan Laut Thailand, ditemukan tewas dalam perjalanan usai mengirimkan tabung oksigen untuk para korban. Diduga kuat ia tewas akibat kehabisan oksigen saat mengarungi rumitnya medan dalam gua. Kunan tewasa pada Jumat (6/7) dini hari.

Sadar bahwa harapan mereka untuk bisa dievakuasi masih membutuhkan waktu, para korban berinisiatif untuk melepas rindu kepada keluarganya di rumah dengan cara menulis surat. Seperti dilaporkan The Guardian, surat-surat itu kemudian dikirimkan oleh Angkatan Laut Thailand kepada keluarga mereka masing-masing.

“Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Tolong katakan kepada Yod bahwa nanti aku ingin diajak makan di kedai ayam goreng,” tulis salah satu dari mereka.

“Jangan khawatirkan aku yang hilang selama dua minggu. Aku akan membantumu untuk membereskan toko nanti,” tulis yang lain.

Sementara itu sang pelatih, Ekkapol Chantawong, secara khusus menuliskan permohonan maaf kepada seluruh orang tua korban. Ia menyadari bahwa dirinyalah yang telah membawa 12 anak itu berwisata ke Tham Luang.

“Untuk seluruh orang tua dari anak-anak ini, aku ingin memastikan bahwa mereka baik-baik saja saat ini. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas dukungannya, dan aku juga meminta maaf yang sebesar-besarnya.”

Sebagian Berhasil Dievakuasi pada Minggu Pagi

Kabar baik mulai datang pada Minggu (8/7). Dua anak yang terjebak dalam gua mulai berhasil dievakuasi pada pukul 08:00 waktu setempat. Tak lama berselang, tepatnya pada pukul 08:11 dua anak yang lain berhasil dievakuasi.

“Telah keluar empat orang anak dari gua yang banjir di Thailand Utara, setelah terjebak di dalamnya selama lebih dari dua minggu,” sebut seorang anggota tim penyelamat seperti dikutip dari Reuters.

Selanjutnya pada pukul 17:37 waktu setempat, dua orang anak lain juga berhasil diselamatkan. Keduanya langsung dilarikan ke Rumah Sakit Chiangrai Prachanukroh untuk mendapatkan penanganan medis. Ini artinya, 6 orang anak sudah berhasil dievakuasi sejauh ini.

Diundang ke Final Piala Dunia

Peristiwa pahit yang menimpa anak-anak Wild Boars bertepatan dengan momen Piala Dunia. Ini tentunya menjadi sangat memprihatinkan karena ketika mereka selayaknya bisa menikmati siaran pertandingan Piala Dunia, mereka justru bertahan hidup dalam keadaan sengsara di sebuah gua.

Tak ayal peristiwa yang menimpa para pesepakbola cilik ini pun langsung mendapat perhatian dari berbagai kalangan di dunia sepakbola. Salah satunya adalah Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Dalam surat yang ia kirim kepada Asosiasi Sepakbola Thailand, Infantino menuliskan harapannya agar para korban bisa segera diselamatkan. Ia juga mengundang para korban untuk menghadiri final Piala Dunia yang akan dihelat di Moskwa, 15 Juli 2018.

“Kita semua berharap mereka [para kotban] bisa bersatu kembali dengan keluarganya. Jika kondisi kesehatan mereka memungkinkan untuk melakukan perjalanan, FIFA akan senang untuk mengundang mereka sebagai tamu di final Piala Dunia 2018.”

Komentar