Kekalahan Menyakitkan yang Terbalaskan

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Kekalahan Menyakitkan yang Terbalaskan

Tembus semifinal pada 1986, adalah prestasi terbaik yang mampu diraih Belgia di Piala Dunia. Setelahnya, Belgia selalu gagal untuk mengulang atau melampaui pencapaian tersebut. Dalam 3 edisi Piala Dunia setelah Meksiko 1986, prestasi Belgia paling mentok hanya sampai babak 16 besar.

Piala Dunia 2002 kemudian menjadi kesempatan keempat Belgia untuk mengulang prestasi pada 1986. Tim berjuluk Setan Merah itu tergabung bersama Jepang (salah satu tuan rumah) di Grup H. Hasil satu kali menang dan dua kali imbang selama berlaga di fase grup tampaknya cukup bagi Belgia untuk lolos ke fase gugur.

Di babak 16 besar, Belgia bertemu dengan tim unggulan, Brasil. Ini menjadi rintangan yang sangat berat bagi Belgia, mengingat Brasil merupakan—selain juara dunia 4 kali saat itu—runner-up di Piala Dunia edisi sebelumnya. Namun kedigdayaan Brasil itu tak membuat Belgia ciut di hari pertandingan.

“Semua orang takut ketika berhadapan dengan Brasil, tapi kami tidak,” kenang Marc Willmots yang merupakan kapten Belgia di pertandingan itu. “Kami menyerang mereka. Kami bermain menekan. Kami bermain cerdas.”

Tekanan tinggi yang diberikan Belgia sejak awal laga, kemudian berbuah saat pertandingan memasuki menit ke-35. Umpan panjang yang dilepaskan Timmy Simons dari sisi kanan, berhasil menemui kepala Marc Willmots yang berada di kotak penalti. Hadangan Roque Junior bukan masalah besar bagi Willmots yang memenangi duel udara untuk kemudian menjaringkan bola ke gawang Marcos.

Willmots sempat berlari untuk melakukan selebrasi, namun seketika berhenti saat melihat wasit Peter Prendergast menunjukkan gestur tak menyenangkan: menganulir gol karena Willmots dianggap melakukan pelanggaran lebih dulu kepada Roque Junior.

Willmots dan kolega tentu saja kecewa dengan keputusan itu. Selepas gol itu dianulir, permainan Belgia kian mengendur hingga akhirnya kalah dengan skor 2-0. Belgia (lagi-lagi) tersingkir di babak 16 besar.

“Kami semua yakin bahwa gol Willmots sebenarnya sah. Keputusan [anulir] itu telah mengubah jalannya pertandingan,” ucap pelatih Belgia, Robert Waseige, dikutip dari BBC.

Willmots sebagai pelaku utama sekaligus kapten tim, menjadi orang yang paling merasakan sakit hati. Ia kemudian berkata: “Aku berharap kita akan bertemu lagi. Aku harap Belgia bisa melakukan pembalasan.”

***

Di tempat lain yang terpisah sejauh 9.400 kilometer dari Kota Kobe (tempat digelarnya pertandingan Belgia vs Brasil), seorang pendukung kecil Belgia tengah menangisi kekalahan menyakitkan itu.

Nama anak kecil yang sedang menangis itu adalah Thomas Meunier. Usianya baru menginjak 12 tahun.

Kakeknya adalah pendukung fanatik Club Brugge. Ayahnya merupakan seorang pesepakbola amatir. Bersama ibu dan saudara perempuannya, Meunier punya satu kebiasaan: menyaksikan sang ayah bertanding setiap akhir pekan.

Berkat lahir di dalam keluarga yang begitu menggilai sepakbola, Meunier tak pernah luput menyaksikan setiap siaran pertandingan sepakbola. Termasuk saat menyaksikan aksi Willmots dan kolega di Piala Dunia 2002.

Begitu menyaksikan Peter Pendrergast menganulir gol Willmots ke gawang Brasil, perasaan marah bercampur kecewa langsung bergumul dalam dada Meunier. Ia coba menahan seluruh emosinya itu, namun akhirnya sia-sia: Meunier larut dalam tangis.

“Aku menangis sejadi-jadinya di kamarku. Keputusan itu sangat tidak adil,” ujar Meunier dikutip dari The Players Tribune.

***

Sebelas tahun berselang, anak kecil yang menangis di dalam kamarnya itu sudah menjadi bagian dari tim nasional Belgia. Usaha yang dilakukannya selama ini untuk menjadi pesepakbola profesional tak berakhir sia-sia.

Setelah Piala Eropa 2016 menjadi panggung besar pertamanya, Piala Dunia 2018 menjadi panggung besar kedua bagi Meunier. Ia menjadi pilihan utama Roberto Martinez di sektor sayap kanan. Bersama Belgia, ia tampil dengan begitu trengginas di Rusia.

Seluruh pertandingan fase grup disapu bersih dengan kemenangan. Jepang kemudian berhasil dikalahkan secara heroik di babak 16 besar—gol kemenangan Belgia di pertandingan ini lahir berkat asis Meunier. Dan ketika memasuki babak perempat final, Meunier bertemu dengan tim yang telah membuatnya sakit hati dan menangis 16 tahun lalu: Brasil.

Catatan bahwa Belgia belum pernah menang dari tim asal Amerika Selatan tak membuat Meunier dan kolega mengendur semangatnya untuk menghadapi Brasil. Sejak awal laga, Belgia langsung tampil menekan dan memberikan ancaman ke gawang Alisson Becker.

Belum 15 menit laga berjalan, Belgia sudah unggul dari Brasil lewat gol bunuh diri Fernandinho. Saat pertandingan memasuki menit ke-31, Kevin De Bruyne berhasil menggandakan keunggulan Belgia lewat sepakan kerasnya ke pojok kanan gawang Alisson.

Brasil sempat memperkecil ketertinggalan lewat sundulan Renato Augusto pada menit ke-76. Setelahnya Selecao terus menebar ancaman ke gawang Belgia untuk menyamakan kedudukan. Namun kali ini takdir sedang berpihak kepada Belgia, hingga wasit meniup peluit panjang, skor 2-1 untuk kemenangan Belgia tetap bertahan.

Belgia menang dari tim asal Amerika Selatan untuk kali pertama. Belgia pun melenggang ke semifinal Piala Dunia untuk kali pertama sejak 1986. Belgia sukses membuat semifinal nanti akan diisi oleh tim yang seluruhnya berasal dari Eropa.

Marc Willmots barangkali menyaksikan pertandingan itu bersama keluarga di rumahnya—persis seperti apa yang dilakukan Meunier 16 tahun lalu. Kini Willmots pun bisa bernapas lega karena keinginannya untuk melihat Belgia membalaskan kekalahan dari Brasil, sudah terlaksana.

Komentar