Separuh Uruguay, Separuh Perancis

Cerita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Separuh Uruguay, Separuh Perancis

Antoine Griezmann tidak merayakan golnya ke gawang Uruguay di pertandingan perempat final Piala Dunia 2018, Jumat (6/7).

“Saya tidak merayakan gol itu karena ketika saya memulai (karier) sebagai pesepakbola profesional, saya didukung oleh pemain Uruguay, yang menunjukkan kepada saya hal baik dan buruk dari sepakbola. Atas nama rasa hormat, saya pikir gol itu tidak pantas dirayakan,” Kata Griezmann dalam konferensi pers setelah pertandingan.

Di kehidupan lain, Griezmann mungkin adalah orang Uruguay. Ia mungkin tumbuh besar di daerah Salto, 500 kilometer ke barat laut dari Montevideo, sekaligus tempat di mana Luis Suarez dan Edinson Cavani lahir dan pertama kali mengenal sepakbola. Ia mungkin tercatat sebagai pemain akademi Penarol, sebuah klub sepakbola Uruguay, seperti halnya Diego Forlan.

Namun bagaimana pun Griezmann lahir di Perancis meski orang Perancis ini telah mengidentifikasi dirinya dengan segala hal tentang Uruguay. Ia menyukai budaya, mentalitas, makanan, minuman, dan musik dari Uruguay. Itulah sebabnya Griezmann ogah melakukan selebrasi ketika bola hasil sepakan kaki kirinya gagal ditangkap dengan baik oleh Fernando Muslera tadi malam.

Mundur ke 2009, ketika Griezmann masih berusia 18 tahun dan bermain untuk Real Sociedad. Kala itu manajernya adalah orang Uruguay bernama Martin Lasarte. Dari sinilah Griezmann mengenal seluk beluk Uruguay. Ditambah, hubungan manajer dan pemain ini layaknya hubungan ayah dengan anak. Lasarte tidak segan memberikan debut dan menit bermain yang lebih banyak untuk Griezmann karena sang manajer percaya betul dengan kemampuannya. Hingga hari ini, mereka masih sering berkomunikasi.

Pengetahuan akan Uruguay juga datang dari senior sekaligus rekan setimnya di Real Sociedad. Adalah penyerang asal Uruguay bernama Carlos Bueno yang tidak hanya jadi mentor, tetapi juga sahabat Griezmann. Berkat Bueno, orang Perancis ini tersihir oleh kenikmatan teh tradisional khas Amerika Selatan bernama teh mate.

Tidak hanya menyukai minuman, Griezmann juga menyukai klub sepakbola bernama Penarol. Bahkan ia punya jersey Penarol bertuliskan namanya, lengkap dengan nomor punggung tujuh. Selain itu, Griezmann juga hafal seluruh chants Penarol. Kecintaan Griezmann terhadap Penarol mendapat perhatian presiden klub.

“Pintu klub akan selalu terbuka kapan pun ia ingin bermain untuk kami, dan saya yakin suatu hari nanti ia akan mengenakan kostum Penarol, meski hanya laga persahabatan,” kata Jorge Barrera.

Ketika pindah ke Atletico Madrid, Griezmann segera berkawan dengan orang-orang Uruguay di sana seperti Christian Rodriguez, Jose Gimenez, dan Diego Godin. Nama terakhir bahkan resmi menjadi ayah baptis bagi putri kecilnya bernama Mia yang lahir pada 2016 silam.

“Pertama kali saya menandatangani kontrak dengan Atletico, saya menghubunginya. Diego (Godin) memberi tahu saya hal-hal baik tentang klub dan itu membuat saya ingin bergabung dengan Atletico Madrid,” ujar Griezmann ketika ditanya seberapa penting arti Godin bagi dirinya sebagaimana dikutip Goal.

Uruguay lolos ke Piala Dunia 2018 sebagai runner-up zona Conmebol di bawah Brasil. Setelah dipastikan lolos, Griezmann menyambut penggawa Uruguay yakni Godin dan Gimenez yang juga rekan setimnya di Atletico Madrid, lengkap dengan kostum tim nasional Uruguay. Pengetahuan Griezmann akan timnas Uruguay juga cukup baik. Ia dapat menyebutkan para legenda sepakbola Uruguay seperti Enzo Francescoli, Alvaro Recoba, Sebastian Abreu, bahkan Juan Alberto Schiaffino, pahlawan Uruguay di Piala Dunia 1950.

***

Antoine Griezmann jadi man of the match ketika Perancis mengalahkan Uruguay 2-0. Pemain bernomor punggung tujuh sumbang satu asis dan satu gol yang tidak sudi ia rayakan karena separuh dirinya adalah seorang Uruguay. Namun separuh dirinya lagi adalah Perancis dan di stadion Nizhny Novgorod, Griezmann berkostum Perancis.

Berdasarkan laporan ESPN, Griezmann secara langsung memberi tips kepada rekan setimnya di Perancis bagaimana menciptakan kekacauan di lini pertahanan Uruguay yang digalang oleh Godin dan Gimenez.

“Uruguay akan bermain seperti Atletico. Mereka akan mengatur tempo, jatuh beberapa kali, lalu pergi ke wasit untuk meminta pelanggaran. Kami (Perancis) harus terbiasa dengan situasi seperti itu karena lawan akan membawa kami ke sana,” Ujar Griezmann.

Perang pikiran juga dilancarkan oleh kubu Uruguay sebelum kedua tim bertemu. Luis Suarez jadi orang yang lantang menyuarakan sentimennya kepada Griezmann. Hal ini sekaligus mengingatkan kepada rekan setimnya bahwa Griezmann bukanlah pemain Uruguay. Pemain Atletico itu adalah lawan yang harus dikalahkan jika ingin melaju ke babak semifinal.

“Antoine mungkin merasa dirinya separuh Uruguay, tetapi dia orang Perancis. Dia tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi orang Uruguay, dengan segala dedikasi dan upaya dari sebuah negara yang sangat kecil dan sudah melangkah sejauh ini. Saya tidak tahu apa yang ada di kepalanya, tapi ini adalah Piala Dunia. Ada mentalitas lain. Bagi kami ini adalah pertandingan khusus. Saya tidak tahu apa arti pertandingan ini untuknya," kata Suarez dengan mantap.

Tanpa perlu Suarez ingatkan, sebetulnya Griezmann sudah mengungkap bahwa dirinya sangat mencintai negaranya. Adapun negara yang dimaksud adalah Perancis yang pada akhirnya keluar sebagai pemenang dan berhak akan satu tempat di semifinal.

Komentar