Keputusan Tepat Ivan Rakitic

Cerita

by Rio Pangestu 25645

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Keputusan Tepat Ivan Rakitic

Laga Kroasia kontra Denmark di babak 16 besar Piala Dunia 2018 berjalan di luar dugaan. Kroasia yang sebelumnya banyak diprediksi akan meraih kemenangan dengan mudah ternyata dibuat kesulitan sepanjang laga. Selepas kedua kesebelasan mencetak masing-masing 1 gol cepat di awal babak pertama, tak ada gol tambahan yang tercipta di Nizhny Novgorod Stadium sampai wasit meniup peluit panjang. Alhasil pertandingan harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.

Dua kali lima belas menit ternyata tak cukup bagi Kroasia dan Denmark untuk membukukan gol kemenangan. Sehingga pemenang pun akhirnya harus ditentukan lewat adu penalti.

Babak adu penalti tak akan pernah mudah bagi siapa pun yang mentalnya payah. Apalagi ini terjadi dalam satu pertandingan yang menentukan, di mana sebuah tim dituntut untuk menang jika ingin lolos ke babak selanjutnya. Menurut psikolog olahraga, Yair Gailly, rata-rata seorang atlet justru akan tampil buruk ketika sedang berada dalam tekanan besar seperti itu.

Setelah empat pemain dari masing-masing tim melakukan eksekusi, didapat hasil seperti ini: Kroasia gagal dua kali; Denmark gagal dua kali. Kedudukan pun sama kuat 2-2 untuk sementara.

Tibalah saatnya untuk eksekutor kelima Denmark. Nicolai Jorgensen maju menghadapi Danijel Subasic. Tembakan mendatar Jorgensen ke arah tengah ternyata mampu dihalau Subasic menggunakan kakinya. Denmark pun berada di ujung tanduk. Karena jika eksekutor kelima Kroasia berhasil menunaikan tugasnya dengan baik, maka tamatlah perjalanan mereka di Piala Dunia 2018.

Adalah Ivan Rakitic yang maju sebagai eksekutor kelima Kroasia. Rakitic sadar bahwa seluruh harapan rekan satu tim, pelatih, hingga jutaan rakyat Kroasia, berkumpul di pundaknya saat itu juga. Namun Rakitic tampak mampu mengendalikan keadaan. Dengan tenang ia berjalan menuju tempat eksekusi.

Rakitic menatap dingin gawang Kasper Schmeichel. Ia kemudian berkacak pinggang sambil berpikir ke sudut mana bola sebaiknya diarahkan. Sementara di bangku cadangan sana, pelatih Kroasia, Zlatko Dalic, tampak tak sanggup untuk menyaksikan eksekusi yang menegangkan itu. Ia hanya menekur ke tanah sambil kedua tangannya membekap telinga.

Begitu wasit Nestor Pitana meniup peluit, Rakitic langsung berlari menuju bola dengan begitu meyakinkan. Tembakannya yang mendatar ternyata mengarah ke sisi kiri gawang Schmeichel, sementara sang penjaga gawang menjatuhkan diri ke arah yang berlawanan. Gol! Ivan Rakitic seketika menjadi pahlawan Kroasia yang membawa mereka lolos ke babak perempatfinal Piala Dunia. Mengulang apa yang dilakukan para senior mereka di Perancis pada 1998.

“Setiap turnamen selalu punya kisah menarik, tak terkecuali di pertandingan hari ini,” ujar Rakitic selepas laga. “Aku hanya ingin berterima kasih kepada Tuhan atas segala kekuatan yang diberikan. Terima kasih juga untuk penjaga gawang kami yang telah menggagalkan tiga penalti lawan. Ini adalah laga yang membutuhkan perjuangan sangat besar.”

Setelah 20 tahun, Kroasia akhirnya kembali melenggang ke babak perempatfinal Piala Dunia. Barangkali pertandingan melawan Denmark tadi malam akan menjadi salah satu pertandingan yang tak terlupakan bagi Rakitic. Ia sepantasnya bersyukur karena keputusan yang ia ambil 10 tahun lalu untuk bergabung dengan tim nasional Kroasia terbukti tepat.

Hampir Membela Swiss

Walau lahir dari kedua orang tua berdarah Kroasia, Rakitic kecil tak pernah tinggal di Kroasia. Mengingat saat perang berkecamuk di Eropa Timur, kedua orang tuanya mengungsi ke Swiss untuk mendapat penghidupan yang lebih layak.

Orang tuanya kemudian tinggal di sebuah kota kecil bernama Mohlin. Rakitic dan saudara laki-lakinya lalu dilahirkan di sana.

“Apa yang kami ketahui tentang Kroasia hanya sebatas dari apa yang kami lihat di televisi, dan dari foto yang ditunjukkan oleh orang tua kami,” ujar Rakitic dikutip dari The Players Tribune.

Rakitic menjalani masa kanak-kanaknya di Swiss. Ketika usianya menginjak 7 tahun, ia bergabung dengan tim muda FC Basel untuk menyalurkan minatnya terhadap sepakbola.

Rasa cinta kepada negara tempat tinggalnya perlahan tumbuh. Diam-diam Rakitic memendam hasrat agar suatu hari nanti bisa membela tim nasional Swiss.

“Aku berkata kepada teman-temanku, ‘Aku orang Swiss, kok.’ Dan mereka saat itu langsung merespons, ‘Apa? Swiss? Dengan nama Ivan Rakitic?’ Respons itu membuatku sedikit tersadar. Tapi aku memang lahir di Swiss. Aku juga tumbuh di Swiss. Teman-temanku semua berasal dari Swiss.”

Tekadnya untuk bisa membela tim nasional Swiss itu tetap disimpannya rapat-rapat sampai ia beranjak dewasa, dan mulai menjalani karier profesional bersama Basel. Rakitic pun sempat membela tim nasional muda Swiss saat itu. Hingga semuanya berubah saat eks pelatih Kroasia, Slaven Bilic, datang menemuinya untuk memberi tawaran bergabung dengan tim nasional Kroasia—negara asal Rakitic.

Rakitic sedikit tertarik dengan penawaran Bilic. Namun di saat yang bersamaan, ia juga masih menyimpan asa untuk bisa membela tim nasional Swiss. Alhasil ia pun dirundung dilema.

“Dan pada akhirnya aku hanya memilih apa yang dikatakan oleh hati kecilku,” ungkapnya.

Rakitic memilih Kroasia pada akhirnya. Walau ia akui bahwa Swiss sudah memberikannya banyak hal, Rakitic tetap tak bisa melupakan begitu saja tanah kelahirannya yang menjadi asal-usulnya.

Ketika ia memberi tahu tentang pilihannya ini kepada sang ayah, reaksi yang ditampakkan ayahnya tak pernah bisa dilupakan Rakitic. “Matanya pelan-pelan dipenuhi air, dan ia pun mulai menangis haru,” ujar Rakitic.

Sementara saat Rakitic memberi tahu Slaven Bilic tentang pillihannya ini, Slevan berkata: “Seluruh warga Kroasia akan bangga dengan adanya dirimu di sini [Timnas Kroasia]. Jangan berpikir apa-apa lagi. Nikmati saja sepakbola.”

Perkataan Bilic itu seakan menjadi sebuah nubuat. Karena selang 10 tahun kemudian, pada suatu malam di Nizhny Novgorod Stadium, Rakitic berhasil membuat seluruh warga Kroasia bangga dengan kembali mengantarkan Kroasia ke babak perempatfinal Piala Dunia setelah menunggu 20 tahun lamanya.

Pada 1998, Kroasia dengan generasi emasnya, berhasil mencapai babak semifinal. Kalah dari sang juara, Perancis, Kroasia lantas menumbangkan Belanda di perebutan peringkat ketiga. Kroasia yang kini diperkuat Rakitic tentu berharap mampu melampaui pencapaian tersebut pada Piala Dunia kali ini.

Komentar