Tenang Bersama Akinfeev

Cerita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Tenang Bersama Akinfeev

Ada banyak sekali alasan pelatih memilih seorang pemain untuk dijadikan kapten tim. Mulai dari paling berpengalaman hingga dinilai paling jago di antara rekan-rekannya. Namun bagi Stanislav Cherchesov (pelatih Rusia), kapten tim bukan dipilih, melainkan ditugaskan. Jelang uji tanding dengan Pantai Gading pada 24 Maret 2017, pria berkepala plontos itu mengumumkan kapten baru Rusia kepada awak jurnalis. “We have chosen the captain, or it’s better to say, assigned”, katanya meyakinkan.

Adalah Igor Akinfeev, penjaga gawang berusia 31 tahun, yang “ditugaskan” untuk memimpin kesebelasan Rusia di pentas Piala Dunia 2018. Kata “tugas” yang diucapkan sang pelatih seolah menegaskan bahwa Akinfeev memang punya kewajiban yang harus diselesaikan. Semacam ada misi yang sedang Akinfeev jalani.

Bagi Akinfeev sendiri, Piala Dunia 2018 bukan sekadar ajang. Ia pernah menjalani debut pada edisi sebelumnya di Brasil dan mengalami nasib buruk di sana. Kiper CSKA Moskow ini melakukan blunder fatal saat menghadapi Korea Selatan di partai perdana Grup H Piala Dunia 2014.

Tembakan Lee Keun-Ho dari luar kotak penalti mengarah persis ke pelukan Akinfeev. Dalam tayangan ulang, bola sepertinya mudah untuk diamankan. Sang penjaga gawang melakukan lompatan kecil dengan kedua tangan yang posisinya siap menangkap. Namun tangkapan itu tidak sempurna, sehingga bola yang tampak mudah diamankan, entah mengapa, menjadi liar dan masuk ke gawang. Gara-gara blunder tersebut, Rusia tertinggal 1-0 dari lawan.

Perjalanan Rusia di Brasil pun harus berakhir di fase grup. Rusia hanya mampu meraih dua poin (imbang melawan Aljazair dan Korea, serta kalah dari Belgia). Piala Dunia kali ini jadi momentum paling tepat untuk menuntaskan rasa penasaran mereka, atau lebih tepatnya rasa penasaran Akinfeev yang masih dihantui oleh blunder tersebut.

***

Di Rusia, seorang penjaga gawang akan selalu punya tempat spesial berkat sosok Lev Yashin. Kiper legendaris yang bermain di klub Dynamo Moskow itu adalah satu-satunya penjaga gawang yang berhasil meraih titel Ballon d’Or. Fakta itu semakin terasa wah mengingat belum ada lagi penjaga gawang yang memenangkan penghargaan itu selain Lev Yashin. Sehingga wajar jika ada penjaga gawang berkebangsaan Rusia yang tampil cemerlang, masyarakat Rusia langsung mengklaim yang bersangkutan sebagai penerus Lev Yashin.

Awalnya, Akinfeev jadi penjaga gawang atas dasar kepura-puraan alias ikut-ikutan. Ketika teman-teman sebayanya sedang bermain sepakbola di lapangan sekolah, Akinfeev masuk ke lapangan permainan dan berdiri di bawah mistar. Pemandangan langsung menjadi aneh karena keberadaan Akinfeev di sana menyebabkan adanya dua penjaga gawang di bawah mistar yang sama. Mungkin di Indonesia, Akinfeev tak ubahnya “anak bawang” yang ada dalam permainan tetapi tidak benar-benar mengerti apa yang sedang dimainkan.

Sejak kejadian itu, Akinfeev kadung merasa nyaman di bawah mistar gawang. Dia pun masuk ke sekolah sepakbola CSKA dan mendaftar sebagai penjaga gawang. Laga demi laga ia jalani hingga akhirnya memenangkan turnamen di level junior bersama CSKA Moskow pada 2002.

Selang dua tahun, Akinfeev dipanggil tim nasional senior. Hari itu media-media Rusia heboh karena belum pernah Rusia memanggil penjaga gawang yang masih berusia 18 tahun. Apalagi ini untuk pos penjaga gawang yang biasanya dihuni oleh pemain sarat pengalaman. Kiper memang mencapai usia emas pada usia di atas 30 tahun.

Kabar dari Rusia beredar luas sampai ke telinga Arsene Wenger yang kala itu masih menjabat manajer Arsenal. Klub asal London Utara itu menyatakan ketertarikan dan secara intensif mengirim pencari bakat ke Moskow untuk memantau langsung perkembangan Akinfeev. Namun cedera pada ligamen lutut menghancurkan mimpinya untuk pergi ke Inggris. Akinfeev tetap di CSKA Moskow, klub masa kecilnya, dan bertahan hingga kini.

Keputusan untuk tetap bertahan di kampung halaman mungkin tidak begitu ia sesali. Bersama CSKA Moskow, Akinfeev mencatatkan sejumlah rekor. Akinfeev menjadi penjaga gawang di Liga Rusia dengan jumlah clean sheet terbanyak. Selain itu pada 2016 silam, Akinfeev mencatatkan 45 kali tak kebobolan selama membela timnas. Rekor itu melampaui torehan Rinat Dasayev, kiper Rusia yang mencatatkan 44 kali bermain tanpa kebobolan.

Sosoknya yang tenang, dipercaya mampu membuat gawang aman dari kebobolan. Sikap tenang itu juga tercermin di luar lapangan. Pada 2016, Akinfeev menerima penghargaan “Gentlemen of the year” dari PSSI-nya Rusia. Penghargaan ini sengaja diberikan kepada para pesepakbola yang punya perangai baik selama di dalam maupun luar lapangan.

Kendati demikian, sikap tenang itu sempat terusik oleh blunder saat melawan Korea. David Gray, seorang fotografer yang bekerja untuk Reuters, memotret blunder Akinfeev. Tampak jelas bahwa sorot mata yang melotot, sama sekali bukan pancaran rasa tenang. Justru sebaliknya, Akinfeev saat itu sedang tegang-tegangnya. Sampai kemudian bola masuk ke gawangnya sendiri, ia hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

***

Apa yang terjadi di Brasil tetaplah di Brasil. Mungkin itu ungkapan yang terngiang saat Akinfeev memimpin rekan-rekannya di Piala Dunia 2018. Blunder memalukan seperti itu tentu saja tidak boleh terulang ketika Rusia tampil di hadapan publik sendiri.

Pertandingan pertama melawan Arab Saudi, Rusia pesta gol tanpa kemasukan satu gol pun. Hal itu tentu saja jadi awal yang bagus mengingat pada edisi sebelumnya, Akinfeev melakukan blunder yang membuat timnya gagal memetik poin penuh di laga perdana. Ketenangan sang kapten di bawah mistar kemudian terlihat saat menghadapi Spanyol di babak 16 besar.

Akinfeev menjadi man of the match setelah menumbangkan Spanyol lewat adu penalti. Dengan ketenangannya, ia berhasil menggagalkan tendangan Koke dan Iago Aspas sehingga membawa Rusia lolos ke perempat final.

Ketika penjaga gawang lawan coba mengganggu konsentrasi dengan mengambil jarak sedekat mungkin di titik penalti dengan penendang, maka Akinfeev tidak demikian. Ketenangan itu seperti sudah bersemayam di dalam dirinya. Ketenangan itu pula yang akhirnya mengantarkan Rusia ke babak selanjutnya.

Mungkin inilah alasan mengapa Akinfeev yang ditugaskan menjadi kapten: ia punya lebih banyak stok ketenangan di dalam dirinya yang diharapkan akan menghipnotis rekan-rekannya.

Komentar