Piala Dunia Bukan untuk Pemain Terbaik

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Piala Dunia Bukan untuk Pemain Terbaik

Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi adalah dua pemain terbaik dunia. Dalam 10 tahun terakhir mereka berdua bergantian meraih gelar tersebut. Sejak 2009, keduanya selalu bertemu setiap musimnya. Ronaldo di Real Madrid, Messi di Barcelona.

Ronaldo berasal dari Portugal, Messi dari Argentina. Tak seperti Real Madrid dan Barcelona yang bisa bertemu setiap musim di panggung terbesar baik di La Liga Spanyol maupun Liga Champions UEFA; Portugal dan Argentina hanya bisa bertemu di panggung terbesar pada Piala Dunia.

Piala Dunia adalah satu-satunya ajang di mana Ronaldo dan Messi bisa bertemu dengan menanggalkan kostum kebesaran kesebelasan mereka, Real Madrid dan Barcelona.

Sebelum babak 16 besar bergulir, Ronaldo sudah berusia 33 tahun, Messi 31 tahun. Piala Dunia 2018 kemungkinan besar akan menjadi Piala Dunia terakhir mereka. Takdir yang paling ideal adalah jika mereka berdua bisa bertemu di final.

Namun sesaat setelah pertandingan terakhir fase grup selesai di Grup D, takdir menggeser mereka untuk bertemu di perempat final –bukan final– Piala Dunia 2018. Baik Portugal dan Argentina lolos sebagai runner-up di grup mereka masing-masing. Argentina bertemu dengan Perancis, Portugal bertemu dengan Uruguay.

Akan tetapi, lagi-lagi, pada malam terakhir di bulan Juni di Rusia, takdir kembali berubah. Messi dan Ronaldo, Argentina dan Portugal, tak berhasil lolos ke perempat final. Argentina tumbang 3-4 atas Perancis, Portugal kalah 1-2 atas Uruguay. Tidak ada Ronaldo vs Messi di Rusia.

Portugal adalah Ronaldo, Argentina adalah Messi

Melihat Ronaldo dan Messi di Piala Dunia adalah melihat sosok pemain, bukan kesebelasan. Baik Portugal dan Argentina sama-sama mengandalkan dua pemain terbaik mereka itu.

Ronaldo berhasil mencetak 4 gol selama Piala Dunia, Messi hanya satu gol. Meski demikian keduanya adalah pemain paling menonjol: Ronaldo melakukan rata-rata 5.3 tembakan per laga (terbaik bersama Neymar), Messi 4.5 tembakan per laga (terbaik kelima).

Selain bagi kesebelasan mereka masing-masing, permainan mereka juga menonjol bagi lawan-lawan mereka. Messi rata-rata dilanggar 4 kali per laga (terbanyak ketiga), Ronaldo dilanggar 3.5 kali per laga (terbanyak kedelapan).

Dari enam gol yang dicetak Portugal selama Piala Dunia, empat di antaranya dicetak oleh Ronaldo. Sejak Argentina kalah 0-3 dari Kroasia di pertandingan kedua Grup D, Messi dilaporkan menjadi pengatur skuat Argentina, bukan pelatih mereka, Jorge Sampaoli.

Bahkan sebelum Piala Dunia bergulir juga Sampaoli seperti sudah meramalkannya: "Jika Leo [Messi] oke, tim ini (Argentina) akan lebih banyak di bawah kendalinya daripada kendaliku."

Tidak ada catatan yang bisa menunjukkan ketergantungan Portugal kepada Ronaldo dan Argentina kepada Messi dari semua hal di atas.

Akan tetapi lagi-lagi kita diingatkan jika Piala Dunia bukan hanya soal pemain terbaik dunia. Portugal bukan Real Madrid. Argentina bukan Barcelona. Sayangnya sejauh ini, sampai keduanya tersingkir, Portugal adalah Ronaldo; Argentina adalah Messi.

Sepakbola Bukan Hitung-Hitungan

Tidak ada Italia dan Belanda di Piala Dunia 2018. Kita mungkin sudah move on dari situ, meski kelakar mengenai keduanya masih bermunculan sampai hari ini. Mengesampingkan candaan, tak lolosnya Italia dan Belanda menunjukkan jika mereka berdua bukan kesebelasan terbaik.

Piala Dunia 2018 diikuti 32 kesebelasan. Ke-32 kesebelasan itu (kecuali tuan rumah Rusia) adalah yang terbaik yang disaring dari proses panjang bernama kualifikasi. Keberuntungan kadang menghampiri, tapi secara umum bisa disimpulkan jika semua kesebelasan yang lolos (termasuk tuan rumah) adalah mereka yang terbaik.

Tanpa Italia dan Belanda juga Piala Dunia masih memiliki Jerman, Brasil, Belgia, Portugal, Argentina, Swiss, Perancis, dan Polandia. Delapan kesebelasan yang disebut barusan adalah delapan terbaik dunia versi ranking FIFA per 7 Juni 2018 (sebelum Piala Dunia bergulir).

Tanpa disadari, setelah sampai sepak mula babak 16 besar, dua nama di atas sudah hilang, yaitu Jerman (peringkat 1 FIFA) dan Polandia (peringkat 8 FIFA). Keduanya menjadi juru kunci di grup mereka masing-masing.

Kemudian baru satu hari babak 16 besar berjalan, ada dua nama juga yang hilang, yaitu Portugal (peringkat 4 FIFA) dan Argentina (peringkat 5 FIFA). Padahal keduanya memiliki pemain terbaik dunia.

Masih ada dua pekan sampai kita bisa menemukan kesebelasan terbaik. Melihat bagan kompetisi di atas, sekilas ada "ketidakadilan" yang tercermin karena bagan kiri (dari Uruguay sampai Jepang) terlihat lebih berat daripada bagan kanan (Spanyol sampai Inggris).

Kemungkinan akan ada big match yang terjadi sampai semifinal di bagan kiri, sementara bagan kanan tak terlalu menjanjikan kecuali jika (contohnya) pada akhirnya Spanyol bertemu Inggris di semifinal.

Sebenarnya penilaian seperti itu membuat kita khilaf. Bagaimanapun juga, 16 kesebelasan yang lolos lagi-lagi adalah kesebelasan yang sudah disaring dari fase grup. Baik mereka yang lolos sebagai juara grup maupun runner-up adalah mereka yang terbaik.

Piala Dunia untuk Tim Terbaik, Bukan untuk Pemain Terbaik

Sepakbola adalah permainan tim di atas lapangan, bukan matematika di atas kertas. Di atas lapangan, satu tim terdiri dari 11 pemain. Pada awal turnamen, para pengamat sibuk membicarakan siapa satu pemain terbaik dari masing-masing tim, seolah lupa kalau masih ada 10 pemain lainnya.

Yang kita tahu, Piala Dunia 2018 tanpa Gianluigi Buffon, Arjen Robben, Alexis Sanchez, Gareth Bale, Pierre-Emerick Aubameyang, Marek Hamsik, Miralem Pjanic, David Alaba, Riyad Mahrez, sampai Zlatan Ibrahimovic.

Kecuali Zlatan, semua nama pemain di atas adalah mereka yang sudah dianggap sebagai pemain terbaik, setidaknya di negara mereka masing-masing, namun negaranya tak berhasil lolos ke Piala Dunia.

Jika nama-nama di atas belum dianggap cukup baik untuk menyaingi Ronaldo dan Messi, setidaknya musim 2017/18, ada satu nama yang sangat digadang-gadangkan: Mohamed Salah. Kebetulannya Salah tampil di Piala Dunia. Namun bahkan Salah, yang susah payah membawa Mesir ke Piala Dunia, pada akhirnya tak bisa juga mencapai kejayaan di pentas Piala Dunia.

Sekarang setidaknya tiga tabir sudah terbuka. Ronaldo dan Messi –ditambah Salah, tiga pemain terbaik dunia, tak lagi berpartisipasi di Piala Dunia.

Ini menegaskan jika Piala Dunia itu adalah untuk kesebelasan-kesebelasan terbaik. Jika turnamen ini adalah turnamen individual, salah satu mereka pasti sudah menjadi pemenangnya. Namun penghargaan tertinggi untuk seorang pemain terbaik tetap saja adalah trofi Piala Dunia itu sendiri.

Dalam satu dekade terakhir Ronaldo dan Messi berhasil merajai gelar pemain terbaik dunia. Gelar individual. Namun dalam satu dekade terakhir itu juga kita tak melihat ada nama Ronaldo atau Messi sebagai juara Piala Dunia. Ingat: Ini Piala Dunia, bung, bukan Ballon d`Or.

Komentar