Sosok Ayah di Balik Selebrasi Xhaka dan Shaqiri

Cerita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Sosok Ayah di Balik Selebrasi Xhaka dan Shaqiri

Kemenangan Swiss atas Serbia di laga kedua Grup E menjadi penting karena berkatnya peluang anak asuh Vladimir Petkovic untuk lolos ke 16 besar terjaga. Meski sempat tertinggal oleh gol cepat Aleksandar Mitrovic, Swiss diselamatkan Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri. Kedua penyelamat Swiss merayakan gol dengan gaya yang sama: menyilangkan kedua tangan dengan kedua ibu jari saling mengunci. Keduanya seolah membentuk simbol elang berkepala ganda, elang pada bendera Albania.

Baik Xhaka maupun Shaqiri merupakan etnis Albania yang tumbuh di Swiss. Keduanya memiliki hubungan dengan Kosovo. Tak heran, pada pertandingan melawan Serbia, kedua pemain itu mengenakan sepatu berbendera Kosovo. Kosovo sendiri adalah nama daerah bekas provinsi di Serbia, yang memproklamirkan diri pada 2008. Serbia tidak mengakui kemerdekaan Kosovo.

Ayah Xhaka pernah menghabiskan 3,5 tahun dalam penjara Yugoslavia dengan status tahanan politik. Sang ayah ditangkap ketika masih menjadi mahasiswa di Universitas Pristina, Kosovo. Kala itu, dia terlibat dalam aksi menentang pemerintahan komunis pasca Josip Broz Tito di Beograd.

“Ayah saya bangga menjadi seorang Kosovo dan punya gagasan bahwa bangsa mereka punya hak untuk hidup. Dia membela hak-hak dasar mereka yang salah satunya adalah prinsip demokrasi bahwa setiap orang berhak ikut dalam pemilihan umum,” Ujar Xhaka kepada Guardian pada November 2017.

Situasi politik di Kosovo membuat wilayah itu tak lagi aman. Lantas pada 1990, orang tua Xhaka memutuskan hijrah ke Swiss. Di sana, lahirlah dua bayi laki-laki yang hanya berselisih satu tahun. Taulant Xhaka lahir pada 1991 dan Granit satu tahun kemudian.

Sejak kecil, Xhaka bersaudara sudah mendengar kisah-kisah tentang politik Yugoslavia dari sang ayah. Mulai dari kisah di balik penjara hingga kejahatan genosida. Lantas mereka menarik kesimpulan bahwa sang ayah merupakan sosok luar biasa. Granit mengaku bangga dan menjadikan sang ayah sebagai panutan.

“Ayah saya menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Taulant dan saya tumbuh dengan kekuatan mentalnya. Kami menjadikannya seorang idola, seorang panutan, yang selalu mengajarkan kami bahwa Anda harus kuat untuk mencapai sesuatu. Itulah sebabnya di lapangan, kami memiliki kekuatan mental untuk mengatasi berbagai hal dan benar-benar melakukannya," Xhaka menambahkan.

Xhaka bersaudara berutang segalanya kepada Swiss. Berkat keramahan negara itu, mereka bisa fokus bermain sepakbola tanpa perlu takut menginjak ranjau darat. Namun mereka tetap tidak akan lupa Kosovo-Albania yang telah berakar kuat di dalam diri mereka. Itulah mengapa Taulant lebih memilih untuk membela tim nasional Albania ketimbang Swiss.

Sementara Granit Xhaka lahir di Swiss, Xherdan Shaqiri lahir di Gjilan, sebuah distrik di bagian timur Kosovo. Shaqiri lahir dari keluarga kurang mampu. Sebelum melahirkan Shaqiri, sang ibu bekerja sebagai petugas kebersihan, sementara sang ayah merupakan buruh tani.

Sama seperti orang tua Xhaka, orang tua Shaqiri memutuskan hijrah ke Swiss pada 1992 karena di Kosovo tidak kondusif untuk mengurus dan membesarkan seorang anak. Alhasil Shaqiri punya opsi tiga kewarganegaraan sekaligus: Kosovo, Albania, dan Swiss. Shaqiri pun memilih yang terakhir lewat proses naturalisasi.

Sang ayah-lah yang pertama kali memperkenalkan Shaqiri kepada sepakbola. Kala itu, dia menyaksikan anak-anak imigran sedang menendang-nendang bola. Akhirnya pada 1999 ketika Shaqiri masih berusia sembilan tahun, sang ayah mendaftarkannya ke klub lokal bernama SV Augst.

Pertandingan demi pertandingan Shaqiri jalani hingga pemandu bakat dari FC Basel tertarik dengan kemampuan olah bola Shaqiri. Mereka pun lantas mendatangi pihak keluarga demi mendapatkan restu. Sang ayah tentu saja menyetujui. Shaqiri masih ingat betul pesan ayahnya tiap kali ia menjalani turnamen besar: “jangan lupa dari mana kau berasal.”

Mungkin saat membobol gawang Serbia, pesan itu masih terngiang di telinga Shaqiri. Dia sadar betapa sulit kehidupan sang ayah selama beradu nasib di Kosovo. Hal itu tidak bisa tidak disebabkan situasi politik yang menyulut perang. Adapun perang punya korelasi dengan keadaan ekonomi. Bahan pangan menjadi langka, lahan produktif jadi area tembak-menembak. Sehingga saat perang, kemungkinan orang mati karena kena peluru panas atau karena kelaparan.

“Aku memikirkan (selebrasi) ini dan tak ingin membicarakannya,” imbuh Shaqiri seusai pertandingan kontra Serbia sebagaimana dilansir ESPN. “Dalam sepakbola, Anda pasti selalu memiliki emosi. Anda dapat melihat apa yang saya lakukan, dan itu hanya luapan emosi karena aku senang dapat mencetak gol. Aku melakukannya, dan kita tak perlu membicarakan hal ini."

Sayangnya, FIFA punya aturan tentang cara meluapkan emosi saat selebrasi. Mungkin Shaqiri sudah dihukum kartu kuning oleh wasit karena sengaja membuka bajunya ketika selebrasi. Namun hukuman itu bisa jadi ditambahkan oleh FIFA seiring dengan gestur yang ditampilkan Xhaka dan Shaqiri saat selebrasi. Bukan tidak mungkin kedua pemain Swiss ini didenda FIFA jika terbukti ada pesan politik dalam selebrasi yang mereka lakukan.

Vladimir Petkovic selaku pelatih Swiss angkat bicara mengenai selebrasi dua pemainnya yang membawa tim meraih kemenangan. “Kamu tidak seharusnya mencampur politik dengan sepakbola. Kamu seharusnya selalu memperlihatkan rasa hormat. Atmosfer pertandingan tadi sungguh luar biasa dan jadi pengalaman positif. Sepakbola memang seharusnya seperti itu,” ujar Petkovic dilansir dari ESPN.

Komentar