Merayakan Janji lewat Sebuah Gol

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Merayakan Janji lewat Sebuah Gol

Romelu Lukaku tak banyak mendapat bola di babak pertama pertandingan antara Belgia kontra Panama. Selain karena ketatnya pengawalan yang dilakukan para pemain belakang Panama, orientasi serangan Belgia yang lebih bertumpu pada kekuatan sayap juga menjadi salah satu sebab. Lukaku hanya menyentuh bola sebanyak tujuh kali sepanjang babak pertama—paling sedikit di antara pemain lain yang berada di lapangan. Namun semua berubah di babak kedua.

Lukaku berhasil menggandakan keunggulan Belgia lewat gol yang dicetaknya di menit ke-69. Gol itu membuat Jaime Penedo memungut bola untuk yang kedua kalinya. Hanya berselang enam menit, Penedo kembali memungut bola dari gawangnya untuk yang ketiga kali. Lukaku kembali menjadi penyebabnya.

Menyambut serangan balik yang dimotori Eden Hazard, Lukaku berlari kencang untuk melepaskan diri dari pengawalan Roman Torres di sisi kiri. Ia berhasil. Umpan presisi Hazard kemudian menemui Lukaku. Penedo keluar dari mulut gawang untuk mengadang Lukaku. Bukan masalah besar. Lukaku menyelesaikannya dengan satu cungkilan ringan.

Usai merayakan keberhasilannya, Lukaku mendekatkan kepalanya pada sebuah kamera. Kemudian mulutnya tampak mengucapkan kata “Mama” seraya jarinya menunjuk kamera.

Lukaku mendedikasikan gol tersebut untuk ibunya. Ini terjadi bukan tanpa alasan. Semua berkaitan dengan sebuah janji yang pernah diucapkannya 13 tahun lalu.

Saat itu Lukaku baru berusia 12 tahun. Namun di usianya yang masih sangat belia itu, ia sudah mengalami berbagai persoalan besar yang silih berganti datang kepadanya.

***

Kehidupan Lukaku baik-baik saja pada awalnya. Keluarganya yang tinggal di Antwerp hidup dengan layak. Saat masih balita, Lukaku dihibur dengan acara-acara sepakbola di televisi seperti Match of the Day. Roti dan susu menjadi menu yang setiap hari ditemuinya di meja makan. Semua asupan baik itu tentu sangat ampuh dalam menunjang tumbuh kembang fisik Lukaku yang bergabung dengan sebuah klub sepakbola lokal bernama Rupel Boom saat itu.

Hingga pada suatu hari, Lukaku tak lagi menemukan televisi di ruang keluarganya. Tak ada lagi acara sepakbola. Di meja makan pun yang tersisa tinggal susu; tak ada lagi roti. Semua itu terjadi begitu sang ayah yang berkarier sebagai pesepakbola gantung sepatu. Lukaku masih berusia 6 tahun saat itu.

Lukaku kemudian mulai menyadari bahwa kondisi keluarganya sedang tidak baik-baik saja ketika pada suatu hari ia melihat gelagat yang tak biasa dari ibunya. “Aku berjalan menuju dapur dan melihat ibuku berdiri dekat lemari pendingin sambil memegang sekotak susu. Namun tak seperti biasanya, kali ini ibuku tampak memasukkan air ke dalam kotak susu itu. Kemudian ia menyodorkannya kepadaku seraya tersenyum.”

Semua pertanda semakin kentara di hari-hari berikutnya. Ketika sang ibu sampai harus berutang hanya untuk membeli beberapa lembar roti. Beruntung penjual roti yang ditujunya tak pernah merasa keberatan.

“Kami bangkrut. Bukan miskin. Tapi bangkrut,” ujar Lukaku.

Lukaku dibuat tersentak dengan semua keadaan yang sangat tak mengenakan itu. Akan tetapi di sisi lain, keadaan terpuruk yang ia alami juga ampuh membuatnya semakin terdorong untuk meraih cita-cita yang selama ini didambakannya: menjadi pesepakbola profesional.

“Aku bertanya pada ayahku, ‘Di umur berapa kau memulai karier sebagai pesepakbola profesional?’ Dia menjawab, ‘Enam belas.’ Baiklah. Enam belas. Aku sudah harus meraih mimpiku di usia 16,” tekad Lukaku. “Aku ingin menjadi pemain terbaik di Belgia. Bukan pemain bagus atau pemain besar. Terbaik.”

Di tengah keterpurukan yang diderita keluarganya, Lukaku terus bermain sepakbola. Di usia 11 ia bergabung dengan tim muda Lierse. Setahun berselang, sebuah pencapaian luar biasa diraihnya: mencetak 76 gol dari 34 pertandingan.

“Aku mencetak semua gol itu menggunakan sepatu bekas ayahku.”

Lukaku ingin membagi kebahagiaan yang dirasakannya dengan seluruh keluarga dan kerabatnya. Pada suatu hari ia pun menelepon kakeknya untuk mengabarkan berita bahagia itu. Namun respon yang diberikan sang kakek ternyata tak sesuai dengan yang dibayangkannya.

“Ya, Rom. Ya, itu hebat,” ujar sang kakek setelah Lukaku menceritakan semuanya. “Tapi, bisakah kau melakukan satu kebaikan untukku?”

Lukaku kebingungan dengan permintaan kakeknya. Tapi akhirnya ia menyanggupinya. “Tapi, kebaikan apa yang bisa aku lakukan untukmu?” tanya Lukaku.

“Bisakah kau merawat putriku?”

“Ibu? Tentu. Kami baik-baik saja, kok.”

“Tidak. Tolong berjanjilah kepadaku. Sanggupkah kau berjanji? Tolong rawat putriku baik-baik. Rawatlah ia untukku, ok?”

“Baik. Aku mengerti. Aku berjanji,” tutup Lukaku.

Lima hari setelah Lukaku mengikrarkan itu, kakeknya meninggal dunia. Lukaku sangat terpukul dengan kepergiannya. Ia sangat berharap suatu hari nanti sang kakek bisa menyaksikan dirinya berseragam Anderlecht, untuk membuktikan bahwa dirinya sanggup menunaikan janjinya. Bahwa kondisi ibunya akan tetap baik-baik saja dengan pencapaian tersebut.

***

Empat tahun kemudian, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-16, Lukaku menandatangani kontrak dengan Anderlecht. Dua tekad telah dipenuhinya: menjadi pesepakbola profesional di usia 16 dan terlaksananya janji kepada sang kakek—seiring kehidupan keluarganya yang semakin membaik setelah bergabung dengan Anderlecht.

Lukaku bahkan mampu melampaui harapannya sendiri ketika Chelsea merekrutnya dengan harga 20 juta euro pada 2011. West Bromwich Albion, Everton, hingga Manchester United adalah tiga klub yang dibelanya kemudian.

Satu tempat di lini depan Timnas Belgia sudah didapatkannya sejak 2010. Dan kemarin (Senin 18 Juni 2018), di panggung Piala Dunia kedua yang diikutinya bersama Belgia, di laga perdana melawan Panama, Lukaku bukan saja merayakan golnya, melainkan juga merayakan hasil perjuangannya selama ini dalam membahagiakan sang ibu.

Komentar