Tak Lagi Sekadar Pendukung Inggris

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Tak Lagi Sekadar Pendukung Inggris

Paul Scholes melepas umpan ke arah kiri. Bola diterima Michael Owen. Pemain bernomor punggung 10 itu lalu menggiring bola masuk ke area kotak penalti Argentina. Tetapi di sana sudah ada pemain belakang Argentina, Mauricio Pochettino, yang membayangi dan bersiap mengadang laju Owen.

Begitu Owen semakin dekat, Pochettino langsung menebasnya dengan kaki kiri. Owen tersungkur di dalam kotak penalti Argentina. Wasit Pierluigi Collina langsung menunjuk titik putih. “Oh, it’s a penalty! Michael Owen fell down by Pochettino!” Pekik John Motson yang menyiarkan laga tersebut.

Kapten Tim Nasional Inggris, David Beckham, lalu menjadi eksekutor penalti untuk Inggris. Bola sepakan Beckham meluncur deras ke arah kanan bawah gawang Argentina. Penjaga gawang Pablo Cavallero gagal menghalaunya. Gol untuk Inggris di menit ke-44.

Beckham merayakan golnya dengan emosional. Perayaan yang tak berlebihan karena pada akhirnya, gol yang dicetak Beckham itulah yang memenangkan Inggris atas Argentina di laga tersebut.

***

Gol penalti David Beckham di ajang Piala Dunia 2002 itu sangat membekas di benak pemain belakang Leicester City, Harry Maguire. Jika ditanya apa yang ia ingat tentang Piala Dunia, maka jawaban Maguire adalah penalti David Beckham itu.

“Aku begitu ingat penalti David Beckham saat melawan Argentina. Penalti Beckham menjadi ingatan favoritku tentang Piala Dunia,” tuturnya kepada Sport Star.

Maguire sudah menjadi pendukung setia The Three Lions sejak kecil. Pada saat ia menyaksikan aksi Beckham di Piala Dunia tersebut, usianya baru menginjak 9 tahun. Kebanyakan pertandingan Inggris ia saksikan di pagi hari saat sedang berada di sekolah.

“Memori awal yang kumiliki tentang Piala Dunia terjadi pada 2002 saat turnamen itu dihelat di Korea Selatan dan Jepang. Banyak pertandingan Inggris kusaksikan di sekolahku yang terletak di Chesterfield karena perbedaan waktu (antara Inggris dan Korea Selatan-Jepang).”

Dari seringnya menyaksikan pertandingan-pertandingan Timnas Inggris, mimpi agar suatu saat bisa bermain untuk Timnas Inggris pun mulai bersemai di dada Maguire. Ia lalu memulai langkah awal untuk meraih mimpinya itu dengan bergabung bersama tim muda Sheffield United.

Penampilan Maguire ternyata sangat baik selama bermain untuk tim muda Sheffield. Tak ayal Micky Adams, manajer tim utama Sheffield ketika itu, tertarik memboyongnya. Maguire lalu bergabung bersama Sheffield yang berlaga di Divisi Championship jelang akhir musim 2010/11.

Maguire menjalani debutnya saat tim berjuluk The Blades itu bertanding melawan Cardiff City. Walau baru masuk lapangan di awal babak kedua, namun Maguire mampu menjalankan perannya dengan sangat baik di atas lapangan. Di akhir laga, ia dinobatkan sebagai Man of The Match.

Ketika musim 2010/11 berakhir, Sheffield hanya mampu duduk di peringkat ke-23 klasemen akhir Divisi Championship. Itu artinya mereka harus terdegradasi ke divisi ketiga. Kendati demikian, Maguire memutuskan untuk tetap bersama Sheffield.

Keputusan tepat. Maguire semakin memukau penampilannya di musim 2011/12. Hasilnya, selain berhasil membawa Sheffield promosi dari divisi ketiga, Maguire juga meraih penghargaan sebagai Player of The Year dan Young Player of The Year dari Sheffield United di akhir musim.

Jelang memasuki musim 2014/15, Maguire mengkahiri kebersamaannya dengan Sheffield setelah ia menerima tawaran dari Hull City. Maguire menyutujui dana senilai 2,5 juta paun yang ditawarkan Hull untuk tiga tahun masa bakti.

Salah satu alasan yang mendorongnya untuk bergabung bersama Hull ketika itu adalah agar dirinya bisa bermain di Liga Primer Inggris. Dengan begitu, kesempatannya untuk bisa membela Timnas Inggris pun akan semakin terbuka lebar.

Akan tetapi alih-alih menjadi pemain utama di Hull, Maguire malah lebih sering menghangatkan bangku cadangan. Bahkan ketika Hull bermain di Divisi Kedua pada musim 2015/16, Maguire masih saja menjadi pemain pelapis.

Kejenuhan adalah hal yang niscaya dirasakan Maguire di tengah kondisi demikian. Dan salah satu cara yang dilakukannya untuk mengusir kejenuhan adalah dengan melakukan hal yang ia sukai. Apalagi kalau bukan menyaksikan laga Timnas Inggris.

Saat itu bertepatan dengan momen Piala Eropa 2016. Maguire bersama beberapa kawannya berangkat dari Inggris ke Perancis untuk menyaksikan laga antara Timnas Inggris melawan Slovakia yang digelar di Stadion Geoffroy Guichard, Saint-Etienne. Empat hari sebelumnya, Maguire juga telah menyaksikan laga antara Timnas Inggris melawan Wales.

“Adalah kesempatan yang hebat ketika bisa menyaksikan pertandingan Inggris secara langsung,” ungkapnya. “Atmosfernya sangat luar biasa, kau melihat gairah yang begitu nyata dari para pendukung.”

Dari sana, keinginan Maguire untuk bisa membela Timnas Inggris semakin menggebu-gebu. Akan tetapi ketika ia ingat bahwa kariernya di Hull sangat tidak menjanjikan, mimpi itu terpaksa ia tutup kembali rapat-rapat.

“Tentu saja tidak,” tegasnya kepada BBC ketika mendapat pertanyaan tentang ada atau tidaknya kesempatan yang dimilikinya untuk membela Timnas Inggris. “Hull memang berhasil kembali promosi ke Liga Primer Inggris musim ini [2016/17] lewat play-off, tetapi sepanjang musim aku tidak bermain reguler. Jika aku berpikir aku bisa membela Timnas Inggris dengan posisi seperti ini, maka itu hanyalah mimpi.”

Namun hidup penuh dengan kemungkinan-kemungkinan. Siapa yang menyangka, hanya selang satu tahun setelah mengatakan itu, mimpi Maguire untuk bisa membela Timnas Inggris justru terwujud. Ia dipilih oleh Gareth Southgate untuk tampil membela The Three Lions di ajang Kualifikasi Piala Dunia pada Oktober 2017. Maguire menjalani debutnya ketika Inggris menghadapi Lithuania di ajang tersebut. Ia tampil penuh dan berhasil membawa Inggris memenangi laga.

Hingga ketika Inggris dinyatakan ke lolos ke Piala Dunia 2018, Maguire terpilih menjadi salah satu pemain yang akan tampil membela Inggris di Rusia pertengahan Juni nanti. Southgate menilai Maguire pantas diikutsertakan ke Rusia dikarenakan penampilan baiknya bersama Leicester City sepanjang musim 2017/18.

Maguire tentu saja senang bukan main. Sebagai mimpi yang telah lama ia dambakan, Maguire menyebut pencapaiannya ini sebagai puncak dari karier sepakbolanya.

“Piala Dunia adalah turnamen sepakbola terbesar di dunia. Dan sebagai salah satu orang yang bermimpi untuk bisa membela negara sendiri di Piala Dunia, tentunya ini adalah sebuah puncak karier,” tuturnya kepada media olahraga Leicester Mercury. “Ketika aku kecil, aku sudah sering menyaksikan pertandingan-pertandingan Inggris bersama keluargaku di Wembley. Jadi, ketika akhirnya bisa bermain untuk Inggris di Piala Dunia, itu adalah sebuah mimpi yang jadi kenyataan.”

Komentar