Dampak Reformasi Sosial Bagi Sepakbola Arab Saudi

Cerita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Dampak Reformasi Sosial Bagi Sepakbola Arab Saudi

Salah satu bab dalam “How Soccer Explains the World: The Unlikely Theory of Globalization” bercerita tentang sepakbola dan masa depan negara muslim. Konflik dalam esai itu dilematis. Pemerintah negara Islam cenderung skeptis terhadap sepakbola, yang dinilai merupakan produk budaya Barat.

Dalam politik Islam, kebudayaan Barat selalu dicurigai dan diwaspadai karena banyak yang bertentangan dengan ajaran agama. Sial bagi pemerintah, sepakbola sangat digemari seluruh lapisan masyarakat muslim. Pada akhir paragraf tulisan Franklin Foer tersebut, tersirat bahwa suatu hari nanti akan terjadi reformasi sosial di banyak negara Islam demi terciptanya integrasi antara sepakbola dengan budaya mereka.

Arab Saudi menunjukkan gelagat itu dengan mencabut larangan perempuan memasuki stadion. Sebelumnya, kaum perempuan haram hukumnya menonton pertandingan di dalam stadion. Pertandingan Al-Ahli kontra Al-Batin di stadion King Abdullah Sports City pada 12 Januari 2018 tercatat sebagai pertandingan pertama yang ditonton kaum hawa.

Reformasi sosial yang terjadi di Arab Saudi tak lepas dari peran Pangeran Muhammad bin Salman. Sebagai pewaris takhta kerajaan, pria ini punya visi besar untuk masa depan Arab Saudi yang lebih liberal dan modern. Dia dan beberapa kolega di pemerintahan menuangkan buah pikiran itu ke dalam sebuah cetak biru yang diberi nama “Saudi Vision 2030”.

Dalam cetak biru yang diumumkan ke publik pada April 2016 silam, aktivitas-aktivitas olahraga yang selama ini dibatasi akan lebih gencar diadakan. Pemerintah beranggapan, dengan berolahraga, masyarakat Arab Saudi akan lebih bahagia dan sejahtera. Hal itu juga sejalan dengan komitmen pemerintah untuk melakukan kerjasama dengan pihak swasta dalam membangun fasilitas dan program-program strategis keolahragaan.

Dalam olahraga sepakbola, kerjasama dengan pihak swasta direalisasikan melalui privatisasi kesebelasan-kesebelasan liga Arab Saudi. Jika dahulu kesebelasan-kesebelasan dimiliki oleh kerajaan, kini pihak swasta diberi kebebasan membeli serta mengelola kesebelasan-kesebelasan sepakbola Arab Saudi. Perlu diketahui, beberapa kesebelasan adalah yang terbaik di level Asia seperti Al Ahli dan ada yang kadung punya “nama” di Piala Dunia Antarkesebelasan, seperti Al Hilal.

Dua kesebelasan raksasa Arab Saudi itu juga menjadi semacam pabrik yang memproduksi pemain-pemain berkualitas. Dari 28 nama yang didaftarkan untuk Piala Dunia 2018, 17 di antaranya merupakan para pemain Al Hilal dan Al Ahli.

Model privatisasi kesebelasan-kesebelasan sepakbola didukung oleh firma hukum terkemuka di Arab Saudi bernama Al Tamimi. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa hukum ini menulis artikel tentang betapa penting privatisasi kesebelasan olahraga bagi tumbuh kembangnya perekonomian di negara Arab Saudi. Mereka bahkan menawarkan opsi-opsi mekanisme dan prosedur untuk privatisasi. Bahkan mereka turut menjabarkan tantangan apa saja yang akan dihadapi. Menurut pandangan Al Tamimi, tantangan itu berupa minimnya perbandingan pasar, bentuk pengelolaan akuntansi dan transparansi, batasan ruang lingkup investor, dan regulasi pengawasan yang menurut mereka harus segera dibuat.

Kendati demikian, firma hukum yang memiliki 17 kantor di 9 negara itu mengaku tak sabar menantikan momen tersebut. Tak lupa mereka berterima kasih kepada “Saudi Vision 2030” yang dicanangkan pihak kerajaan. Tanpa adanya cetak biru itu, kesebelasan-kesebelasan masih dikelola negara dan bisnis di bidang olahraga akan terus stagnan.

Adanya privatisasi kesebelasan juga dipercaya akan mereformasi tindak-tanduk manajemen dalam mengelola kesebelasan. Berdasarkan laporan ESPN yang terbit pada 9 Mei 2018, selama ini di liga Arab Saudi tidak ada transparansi dana dalam pengelolaan kesebelasan-kesebelasan. FIFA mengudarkan embaran bahwa kasus-kasus yang berhubungan dengan gaji yang tidak dibayarkan kepada pemain dan pelatih, 20 persen terjadi di Arab Saudi.

Banyak presiden kesebelasan di liga Arab Saudi sebenarnya tak punya latar belakang sepakbola atau sekadar koneksi ke bidang sepakbola. Mereka hanya anggota kerajaan sekaligus pebisnis kaya raya yang mungkin kebingungan menginvestasikan uangnya. Alhasil, mereka menduduki kursi presiden dalam jangka waktu yang relatif singkat. Ketika kesebelasan dianggap sudah tak “menghasilkan”, mereka pergi begitu saja. Tidak hanya itu, mereka juga hanya peduli terhadap peningkatan popularitas di luar lapangan. ESPN mencatat, sering ditemukan tagihan-tagihan perjalanan ke luar negeri bersama keluarga dari pelatih asing, termasuk tagihan biaya sekolah internasional mereka. Itulah sebabnya masalah privatisasi kesebelasan menjadi sangat penting di Arab Saudi.

Bak gayung bersambut, gembar-gembor masalah privatisasi kesebelasan segera direspons oleh Saudi Arabia Football Federation (SAFF) selaku otoritas tertinggi sepakbola Arab Saudi. Pada 24 April silam, dilakukan sebuah lokakarya yang mengupas seluk beluk privatisasi. Dalam pertemuan yang turut dihadiri para pakar dari Italia dan Inggris itu, diputuskan bahwa mulai musim depan, kesebelasan hanya boleh menghabiskan 70 persen dana dari total pendapatan kesebelasan. Sisanya wajib disimpan sebagai cadangan untuk dana administrasi, operasional, dan pengembangan bibit usia muda.

Bagi Arab Saudi, peran para pemuda seharusnya punya tempat spesial di dalam sejarah mereka sendiri. Berkat semangat dan kreativitas anak-anak muda, timnas Arab Saudi berhasil lolos ke Piala Dunia untuk kali pertama.

Tim berjuluk Elang Hijau itu pernah punya sekelompok pemain muda berbakat pada awal 1990-an. Para pemain tak hanya berhasil menembus skuat timnas, tetapi juga sanggup menjadi pemain penting. Mereka adalah penjaga gawang Mohamed Al-Deayea, bek Mohammed Al-Khilaiwi dan Ahmed Jamil Madani, gelandang Fuad Anwar dan Khalid Al-Muwallid, serta penyerang Sami Al-Jaber. Saat tampil di Piala Dunia 1994, usia mereka masih di bawah 24 tahun.

Ketika itu Arab Saudi tergabung di Grup F bersama Belanda, Maroko, dan Belgia. Tentu bukan grup yang mudah karena beberapa pemain Maroko, Belgia, dan Belanda main di divisi teratas liga-liga top Eropa. Jauh berbeda dengan para pemain Arab Saudi yang hanya menempa diri di liga lokal.

Selain itu, Belgia pernah mencapai semifinal Piala Dunia 1986 dan beberapa nama masih turun di Piala Dunia 1994. Sementara itu Belanda sangat diunggulkan untuk menjuarai Grup F karena skuat saat itu dihuni oleh Ronald Koeman, Frank de Boer, Dennis Bergkamp, dan Marc Overmars.

Namun bukankah sepakbola penuh dengan kejutan? Hasil akhir dan tabel klasemen tak bisa dilihat hanya dari banyaknya pemain bintang di sebuah kesebelasan. Meski sempat kalah di partai pembuka melawan Belanda, pasukan Elang Hijau bangkit di dua partai sisa dengan merebut kemenangan dari Maroko dan Belgia. Berkat hasil itu, Arab Saudi meraih 6 poin dan lolos dari grup maut.

Di babak selanjutnya yakni babak 16 besar, Arab Saudi bertemu dengan Swedia. Negeri di wilayah Skandinavia tampil trengginas sejak awal pertandingan. Terbukti mereka unggul lebih dulu melalui sundulan Martin Dahlin. Sebenarnya pasukan Arab Saudi bukan tanpa serangan. Namun sayang, bek-bek jangkung Swedia kerap memutus aliran bola yang datang dari sisi lapangan tengah maupun pinggir. Tidak hanya itu, gol kedua Swedia juga membuat para pemain Arab Saudi kehilangan gairah. Al-Jaber sempat memperkecil keadaan menjadi 2-1, tapi Swedia masih terlalu kuat dengan memperbesar keunggulan menjadi 3-1.

Dengan hasil itu, laju Arab Saudi otomatis terhenti di babak 16 besar. Namun torehan itu tidak serta merta buruk. Arab Saudi setidaknya berhasil membungkam rumah-rumah judi di Amerika Serikat yang bertaruh bahwa negara debutan ini paling-paling hanya menempati posisi buncit klasemen Grup F.

Selain itu, terdapat segi positif dari keikutsertaan Arab Saudi di Piala Dunia 1994 yakni suntikan percaya diri. Para pemain muda yang menjalani pengalaman pertama mereka di Amerika Serikat semakin padu dan konsisten. Terbukti timnas Arab Saudi selalu lolos di tiga edisi Piala Dunia berikutnya (Piala Dunia 1998, 2002, dan 2006). Capaian itu tak lepas dari peran para pemain muda yang sempat bermain di Piala Dunia 1994.

Romantisme timnas Arab Saudi dengan ajang Piala Dunia sempat terputus cukup lama. Piala Dunia 2006 yang digelar di Jerman menjadi ajang terakhir tim Elang Hijau. Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dan 2014 di Brazil, mereka gagal berpartisipasi.

“Saya pikir terdapat kesenjangan dari satu generasi ke generasi berikutnya, khususnya setelah 2006, dan ada beberapa ketidakstabilan juga dalam penampilan Arab Saudi.” Ujar Al-Jaber kepada FIFA.com pada Februari 2018 ketika ditanya mengapa Arab Saudi gagal lolos di dua edisi sebelumnya.

Setelah generasi Piala Dunia 1994 pensiun, timnas Arab Saudi praktis kehilangan taji. Para pemain dan pelatih silih berganti, tapi prestasi tetap saja nihil. Jika memang hal itu menjadi faktor terbesar dalam menurunnya performa timnas, maka Arab Saudi memang gagal dalam regenerasi. Sebuah negara harus pandai dalam mewariskan ilmu dan pengalaman agar selalu melahirkan generasi-generasi pandai baru.

Regenerasi pesepakbola butuh keterlibatan banyak pihak. Ada peran federasi, kesebelasan, bahkan pemerintah. Untuk menemukan satu orang pemain hebat, dibutuhkan satu kelompok masyarakat yang rutin bermain sepakbola. Masalahnya, bagaimana mungkin menciptakan suatu masyarakat yang berolahraga jika pemerintah masih membatasi aktivitas warganya.

Sekalipun ada pemain muda berbakat, dia butuh kompetisi bahkan di kesebelasannya sendiri agar bakat si anak terus terasah dan kualitasnya tetap terjaga. Masalahnya, bagaimana bisa menciptakan kompetisi bagi para pemain muda di level kesebelasan jika presiden kesebelasan saja tidak paham sepakbola.

Berkat adanya “Saudi Vision 2030”, gejala-gejala di atas tampak sudah teratasi. Pemerintah Arab Saudi berjanji akan memberikan kebebasan bagi warganya untuk berolahraga. Selain itu, pemerintah juga mensinyalir akan membuka diri terhadap modal asing yang masuk demi meliberalisasi kesebelasan-kesebelasan sepakbola. Dengan adanya bantuan dana sekaligus manajemen dari pihak swasta, diharapkan akan meningkatkan kualitas para pemain muda berbakat.

Sebagai negara dengan peringkat FIFA terendah di Piala Dunia 2018 nanti, SAFF (PSSI-nya Arab Saudi) tidak memasang target tinggi. Daripada bermimpi untuk mengulang prestasi saat Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, lebih baik SAFF fokus pada implementasi “Saudi Vision 2030”. Arab Saudi harus mengambil pelajaran dari Rusia, selagi membenahi reformasi-reformasi di bidang sepakbola. Mungkin di Piala Dunia 2018 Arab Saudi tidak bisa bicara banyak, tapi mereka punya harapan saat Piala Dunia 2030 nanti.

Komentar