Lebih Dewasa, Lebih Baik

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Lebih Dewasa, Lebih Baik

Florian Thauvin harusnya memperkuat Newcastle United selama lima tahun. Nyatanya ia hanya singgah selama empat bulan. Bakat besar yang membuat Newcastle rela mengeluarkan dana 18,35 juta euro itu lebih banyak bertingkah di luar lapangan ketimbang merepotkan lawan di pertandingan. Tidak mengejutkan sebenarnya, mengingat sang pemain sayap sudah berani mogok latihan bahkan saat usianya baru 19 tahun.

Tawaran Olympique de Marseille di hari penutup bursa transfer musim dingin 2016 untuk Thauvin tak dilewatkan Newcastle. Di muka, kesepakatan ini tampak sederhana: pemain badung dipinjamkan setengah musim agar ketika kembali bisa lebih berguna. Nyatanya tidak demikian.

“Semua orang menyarankan aku tidak kembali ke Marseille,” Thauvin berkisah kepada L’Equipe Senin (14/5) lalu mengenai kepulangannya dua tahun lalu itu. “Aku tidak mendengarkan dan bekerja saja.”

Masa pinjaman yang sejatinya berdurasi setengah musim tersebut diperpanjang. Marseille menginginkan Thauvin sepanjang 2016/17. Newcastle tidak keberatan karena Thauvin masih sosok yang sama. Angkuh, congkak, dan mudah marah. Tidak perlu menangani pemain seperti itu selama semusim bukan kerugian. Saat itu tidak ada yang tahu bahwa di akhir musim, Marseille yang diuntungkan.

Thauvin berada di tempat yang tepat di waktu yang tepat. Kemauan menjadi lebih baik, ditambah para pemain senior yang bersedia membimbing, membuat transformasi Thauvin berjalan mulus.

“Dia membimbingku, memberiku masukan, dan membantuku meraih kembali rasa percaya diriku,” ujar Thauvin mengenai Bafetimbi Gomis kepada Ligue 1 Show pada pertengahan Mei 2017. “Kemudian Patrice Evra bergabung. Dia pemain pro yang sangat berpengalaman. Dia memenangi nyaris semua piala yang tersedia. Dia juga banyak membantuku. Selain itu aku juga mendengarkan nasihat Dimitri Payet. Aku beruntung dikelilingi para pemain profesional yang membantuku.”

Bantuan dan bimbingan para pemain yang lebih senior membuat Thauvin menjadi sosok yang lebih dewasa. Bersamaan dengan itu, penampilannya di lapangan pun membaik. Musim 2016/17 menjadi yang paling produktif sepanjang karier Thauvin. Dengan 15 gol dan 9 asis Thauvin membantu Marseille mengakhiri musim di peringkat kelima, lolos ke fase kualifikasi Europa League 2017/18.

Masa pinjaman yang berakhir tidak diperpanjang. Namun Thauvin tetap berseragam Marseille karena pihak klub menebus Thauvin dari Newcastle dengan mahar 11 juta euro. Seperti transformasinya sebagai seorang pribadi, kepulangan permanen ke Marseille juga bisa terjadi karena Thauvin berada di tempat yang tepat di waktu yang tepat.

Kepemilikan Marseille berpindah tangan dari Margarita Louis-Dreyfus ke Frank McCourt pada Agustus 2016. Sejak saat itu Marseille menjadi lebih baik. Rudi Garcia tidak hanya dibebani target juara tetapi juga didukung secara penuh. Pemain-pemain yang dia butuhkan, dia dapatkan. Termasuk Thauvin. Walau sebagai pemain pinjaman pada awalnya, tak jadi soal.

“Aku selalu ingin bersinar di Olympique de Marseille,” kata Thauvin. “Setelah gagal di Inggris aku ditawari kesempatan untuk kembali dan kali ini aku tidak ingin mengecewakan, dan saat ini semuanya berjalan lancar jadi aku sangat bahagia.”

Pernyataan tersebut diucapkan pada Mei 2017. Namun dicabut dari konteks aslinya dan dianggap diucapkan belum lama ini pun pernyataan tersebut tetap cocok. Thauvin yang tidak ingin mengecewakan, tidak mengecewakan. Musim ini ia jauh melampaui standar tinggi musim lalu. Musim ini Thauvin sudah mencetak 26 gol dan 18 asis. Masih sangat mungkin bertambah karena masih ada 2 pertandingan tersisa untuk Thauvin di musim ini: pekan penutup Ligue 1 dan, yang lebih dekat, final Liga Europa.

Komentar