Makna Lain Kemenangan PSG di Final Coupe de France

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Makna Lain Kemenangan PSG di Final Coupe de France

“Reaksi banyak orang ketika mengetahui Les Herbiers masuk final begitu fantastik. Kami punya sejarah di Prancis di mana tim kecil dari divisi bawah tampil sangat baik dalam turnamen [Coupe de France]. Jadi orang-orang banyak mengharapkan akhir sebuah cerita yang indah,” sebut jurnalis sepakbola Prancis, Julien Laurens, kepada BBC.

Kata-kata itu diungkapkannya jelang laga final Coupe de France yang mempertemukan antara Paris Saint-Germain dan Les Herbiers VF (tim dari Divisi Ketiga Liga Prancis), di Stade de France, Rabu (9/5) dini hari WIB. Apa yang dikatakan oleh Laurens memang benar. Tercatat ada beberapa tim dari Divisi Ketiga seperti Les Herbiers yang sebelumnya juga pernah sukses mencapai final Coupe de France.

Tim tersebut antaranya adalah Nimes Olympique (1996) dan US Quevilly (2012). Sedangkan satu tim dari Divisi Keempat yang pernah berhasil mencapai final adalah Calais (2000). Akan tetapi, semuanya hanya berakhir sampai final. Belum ada di antara mereka yang berhasil menjadi juara Coupe de France.

Sedangkan dari Divisi Kedua, tercatat hanya ada dua klub yang pernah menjuarai Coupe de France, yakni Le Havre AC pada 1959 dan Guingamp pada 2009. Tak mengherankan karena sejak pertama kali dimulai pada musim 1917/18, Coupe de France adalah turnamen yang pemenangnya didominasi oleh kesebelasan-kesebelasan Ligue 1.

Catatan itu diperpanjang setelah laga final Coupe de France musim 2017/18 menelurkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Klub yang sebelumnya juga telah menjuarai kompetisi Ligue 1 ini mengalahkan Les Herbiers di final dengan skor 2-0. Dua gol PSG dicetak oleh Giovani Lo Celso (26’) dan melalui tendangan penalti Edinson Cavani (74’).

PSG begitu mendominasi jalannya pertandingan. Di awal pertandingan, PSG terus menggempur pertahanan Les Herbiers; tiga peluang PSG membentur tiang gawang. Sedangkan Les Herbiers hanya mampu membalasnya lewat tembakan jarak jauh yang dilepaskan oleh Sebastien Flochon, itu pun masih mampu diblok oleh Thiago Silva.

Sepanjang laga, Les Herbiers hanya mampu menciptakan satu tembakan yang mengarah ke gawang. Itu pun baru terjadi pada menit ke-89 lewat tembakan yang dilepaskan oleh Dianranke Fofana.

Penguasaan bola sangat timpang. PSG menguasai bola sebanyak 73% sementara Les Herbiers hanya 27%. Alhasil, PSG pun dengan mudah meraih gelar juara Coupe de France untuk yang keempat kalinya secara berturut-turut sejak 2015.

Kemenangan PSG yang Sudah Diprediksi

Tidak bisa dimungkiri bahwa sebagian besar orang sebelumnya sudah memprediksi bahwa PSG akan dengan mudah mengalahkan Les Herbiers di laga final. Kekuatan di antara kedua tim ini begitu timpang. Tidak hanya dari segi materi pemain, dari segi kekuatan finansial, catatan prestasi, sampai kapasitas penonton di stadion kandang masing-masing begitu kentara perbedaannya.

PSG dengan segala kemewahan dan catatan prestasi mengilap yang dimilikinya bagaikan raksasa besar di hadapan Les Herbiers yang hanya merupakan tim kecil dan sedang berjuang untuk lolos dari ancaman degradasi di Divisi Ketiga.

Gelandang Les Herbiers VF, Sebastien Flochon, sudah lebih dulu pesimis dalam menghadapi laga final melawan Paris Saint-Germain di Coupe de France 2018. “Peluang kami mungkin hanya setengah persen untuk bisa memenangkan pertandingan,” katanya kepada N Sport.

Rasa pesimis itu semakin menjadi-jadi ketika tahu bahwa lawan yang dihadapi adalah PSG—klub kaya raya dan bertabur bintang yang sedang dalam motivasi tinggi untuk meraih piala Coupe de France yang keempat kalinya secara berturut-turut. PSG pun sebelumnya tampak sangat antusias dan begitu serius untuk bisa memenangkan pertandingan final.

“Kami punya kesempatan besar untuk memenangkan tambahan trofi. Ini sangat penting dan kami harus fokus pada pertandingan nanti. Ini bukan pertandingan biasa, ini final. Les Herbiers pantas berada di sini. Ini adalah pesona dari Coupe de France,” ujar pelatih PSG, Unai Emery kepada Ligue 1.

Walau rasa pesimis sebelum bertanding tampak di diri pemain Les Herbiers, hal itu tidak tampak di diri para suporternya. Melansir BBC, wilayah Les Herbiers memiliki populasi 15.933 jiwa. Uniknya sebanyak 15 ribu tiket untuk pertandingan final di Stade de France, habis diborong oleh para pendukung Les Herbiers—mereka didukung oleh seluruh penduduknya.

“Seluruh penduduk akan ada di belakang ikan kecil itu,” sebut Julien Laurens sebelum laga final.

Walau pada akhirnya kalah, semangat yang terjaga dalam diri para suporter Les Hebiers sedikit terbayar di akhir pertandingan ketika kapten PSG, Thiago Silva, mengundang kapten Les Herbiers, Sebastien Flochon untuk turut naik ke podium dan mengangkat trofi. Tak hanya itu mereka juga melakukan guard of honor pada skuat Les Herbiers usai laga. Sikap terpuji dari Silva tersebut agaknya akan membuat para suporter dan pemain Les Herbiers bisa pulang dengan hati yang lapang.

Komentar