Profil Les Herbiers, Lawan PSG di Final Coupe de France dari Divisi Tiga

Cerita

by Redaksi 18

Redaksi 18

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Profil Les Herbiers, Lawan PSG di Final Coupe de France dari Divisi Tiga

Paris Saint-Germain akan bertemu dengan Les Herbiers VF di partai final turnamen Coupe de France, yang akan digelar di Stade de France pada Selasa (8/5) nanti. Ketetapan ini diketahui setelah Paris-Saint Germain memenangi laga semifinal melawan Stade Malhebre Caen, dengan skor 3-1 pada Kamis (19/4) dini hari WIB. Sementara Les Herbiers sudah lebih dulu menunggu di final, sehari sebelumnya menang atas FC Chambly dengan skor 2-0 di babak semifinal.

Pencapaian Les Herbiers ke babak final Coupe de France sendiri merupakan prestasi tertinggi yang pernah mereka raih sepanjang klub tersebut berdiri. Namun ketangguhan Les Herbiers belum cukup teruji, karena sepanjang perjalanan mereka ke babak final, mereka belum pernah bertemu tim besar yang berpotensi menyulitkan langkah mereka; Les Herbiers tidak pernah bertemu dengan klub Ligue 1 sejak babak 32 besar di turnamen itu.

Di babak 32 besar, Les Herbiers berhasil menang dari FC Saint-Lo Manche yang merupakan klub dari Divisi Kelima. Di babak 16 besar, giliran klub Divisi Kedua, AJ Auxerre, yang menelan kekalahan dari Les Herbiers. Masuk ke babak perempatfinal, Les Herbiers bertemu dengan RC Lens yang juga berasal dari Divisi Kedua, dan berhasil menang lewat adu penalti. Terakhir di babak semifinal, mereka berhasil mengalahkan kesebelasan Divisi Ketiga, FC Chambly.

Walau begitu, Les Herbiers menjadi tim baru dari divisi bawah yang berhasil menembus babak final. Pada 2015, kesebelasan Divisi Dua, Auxerre, melangkah ke babak final untuk menghadapi PSG, yang akhirnya dimenangkan PSG. Les Herbiers mengikuti jejak Quevilly sebagai kesebelasan Divisi Ketiga yang melangkah ke babak final pada 2012.

Melawan PSG pada final musim ini, ketimpangan jelas terlihat. Lawan Les Herbiers, selain merupakan kampiun Ligue 1 musim ini, juga merupakan juara di tiga edisi Coupe de France terakhir. Jika berhasil menembus final merupakan suatu prestasi yang luar biasa bagi Les Herbiers, maka bagi PSG hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang sangat biasa.

Duel antara PSG kontra Les Herbiers adalah duel antara dua tim yang sangat timpang dari segala aspek. Selain timpang dari segi catatan prestasi mereka di ajang Coupe de France, ketimpangan antara dua tim ini juga terlihat bahkan sampai ke segi kapasitas stadion kandang mereka masing-masing.

Stade Massabielle yang merupakan markas dari Les Herbiers, hanyalah stadion kecil yang berkapasitas lima ribu penonton. Bandingkan dengan Parc Des Princes kandang PSG yang berkapasitas 47.929 penonton.

Selain itu, kedua tim ini juga jelas sangat timpang dalam segi kekayaan klub. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Ouest France, bujet operasional tim Les Herbiers hanya mencapai dua juta euro per musim. Bagi PSG yang merupakan klub kaya raya, jumlah bujet operasional tersebut hanya satu persen dari total transfer mereka ketika mendatangkan Neymar dengan harga 222 juta euro.

Masih dari sumber yang sama, ketimpangan yang mencolok juga terlihat dari pendapatan kedua klub yang didapat dari penyiaran televisi. Les Herbiers hanya mendapat 50 ribu euro setiap tahunnya dari pendapatan penyiaran televisi. Sementara PSG, menurut Forbes, mendapat pemasukan 186.265 euro setiap tahunnya dari penyiaran televisi. Pendapatan yang didapat PSG tersebut setimpal dengan 19% dari total pendapatan yang didapat Ligue 1 melalui penyiaran televisi, yang mencapai 625.477 euro.

Les Herbiers juga merupakan klub yang belum pernah merasakan menjadi kontestan Ligue 1 sepanjang sejarah mereka. Berhasil menembus Divisi Ketiga Prancis sejak musim 2015/16, adalah prestasi terbaik yang sejauh ini berhasil mereka raih. Di sisi lain, PSG merupakan klub yang secara resmi belum pernah terdegradasi sekali pun ke divisi bawah sejak klub tersebut didirikan pada 1970.

***

Dengan segala ketimpangan yang begitu mencolok di antara keduanya, agaknya dengan mudah kita dapat memprediksi seperti apa laga final akan berjalan dan siapa yang akan keluar sebagai juara. Final yang sebetulnya tidak menarik sama sekali. PSG kemungkinan berpesta gol pada partai final nanti.

Akan tetapi kita juga perlu ingat, sepakbola kerap menampilkan sisi irasionalnya kapan pun ia mau. Dan jika itu terjadi di final Coupe de France pada Mei nanti, tentu final tersebut akan menjadi salah satu pertandingan bersejarah yang layak kita ceritakan dan kenang bersama-sama.

Komentar