Merusak Dominasi di Kompetisi Domestik dengan Uang

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Merusak Dominasi di Kompetisi Domestik dengan Uang

Dalam 10 tahun terakhir, beberapa kompetisi besar Eropa mengalami pergeseran dominasi. Yang paling kentara terlihat di Liga Primer Inggris dan Ligue 1 Prancis. Di Inggris, Pergeseran dominasi tim juara di kompetisi domestik mulai terlihat saat Roman Abramovich mengambil alih kepemilikan Chelsea pada Juni 2003. Melalui gelontoran dana yang melimpah, raja minyak asal Rusia itu mampu menyulap Chelsea, dari klub biasa saja menjadi kesebelasan luar biasa.

Dana melimpah yang digelontorkan Abramovich membuat Chelsea leluasa mendatangkan pemain-pemain bintang ke Stamford Bridge. Alhasil, Chelsea mampu meruntuhkan dominasi Manchester United dan Arsenal yang kala itu begitu meraja dalam perburuan gelar juara liga. Sejak dipimpin Abramovich, Chelsea sudah meraih lima gelar juara di Liga Primer (2004/05, 2005/06, 2009/10, 2014/15, 2016/17).

Kesuksesan Chelsea kemudian menular kepada Manchester City. Revolusi Man City dimulai pada 2008, saat taipan kaya asal Uni Emirat Arab (UEA), Mansour bin Zayed Al Nahyan, mengambil alih kepemilikan klub. Sheikh Mansour begitu royal menggelontorkan dana besar bagi The Citizens membeli pemain bintang hingga pelatih kenamaan. Sejak tahun 2011, Man City kemudian menjelma sebagai salah satu kekuatan besar di sepakbola Inggris. Tercatat, dalam tujuh tahun terakhir, Man City mampu mengumpulkan tiga trofi Liga Primer.

Hal yang tak berbeda jauh pun terjadi di Ligue 1, di mana saat ini dominasi diambil alih Paris Saint-Germain (PSG). Sebelumnya, AS St. Etienne, Olympique de Marseille, dan Olympique Lyonnais adalah tiga kesebelasan yang merajai kompetisi Prancis itu. Khususnya Lyon, yang sejak tahun 2001 hingga 2008 tidak pernah absen meraih gelar juara.

Namun semua berubah ketika PSG diambil alih pengusaha asal Qatar, Nasser Al-Kheilaifi pada 2008. Sejak kepemimpinan klub diambil alih Al-Khelaifi, PSG seakan tak terbendung dalam perburuan gelar di kompetisi domestik. Dari tahun 2012 hingga 2018, lima gelar juara Ligue 1 berhasil diraih.

Pola pengambilalihan dominasi PSG di Ligue 1 sama dengan Chelsea dan Man City di Liga Primer. Melalui gelontoran dana melimpah, PSG bisa mendatangkan banyak pemain bintang. Bahkan, menjadikan seorang pemain sebagai pemain termahal dunia pun bukan hal mustahil. Contohnya Neymar, yang mereka boyong dari Barcelona dengan mahar 200 juta euro, saat jendela transfer musim panas 2017 lalu.

Kesuksesan Man City, Chelsea, hingga PSG mengambil alih dominasi juara di kompetisinya masing-masing bisa dibilang sebagai pembuktian bahwa dominasi terdahulu bisa diputus dengan kekuatan finansial yang baik.

Baca juga: Kenapa Dominasi Ada dan Bagaimana Cara Memutusnya?

***

Tapi sayangnya, kemunculan tim seperti Man City, Chelsea, hingga PSG, tak membuat banyak penggemar sepakbola senang. Apalagi, mereka yang berstatus sebagai penggemar kesebelasan yang terenggut dominasinya. Tak sedikit, penggila bola menyebut klub perebut dominasi karena kekuatan finansialnya dengan istilah tim karbitan atau glory hunter.

Namun pertanyaannya, apakah salah bila ada kesebelasan yang bisa mengubah arah dominasi prestasi dengan kekuatan finansial yang mereka miliki? Saya pikir tidak salah, karena di sepakbola modern seperti saat ini, semua hal mencakup soal bisnis, dan bisnis adalah uang.

Selain itu, beberapa kesebelasan besar sarat sejarah juga meraih dominasinya melalui gelontoran uang melimpah. Contoh paling jelas, Real Madrid. Di Spanyol, Madrid merupakan kesebelasan tersukses, dengan 33 gelar juara La Liga. Padahal, dalam 20 tahun awal penyelenggaraan La Liga, Athletic Bilbao lebih dominan, dengan enam gelar juara yang diraih dari tahun 1930 sampai 1950. Sementara Madrid, kala itu hanya mencatatkan dua gelar juara saja.

Namun, pola dominasi kemudian berubah di era 1950-an. Kala itu, Spanyol yang tengah mengalami keterpurukan ekonomi akibat perang saudara. Tak ingin citra negara hancur, Jenderal Franco, diktator yang kala itu menjadi penguasa Spanyol, membuat pencitraan soal kondisi negaranya yang digambarkan seolah baik-baik saja.

Memuluskan langkah tersebut, Jenderal Franco pun menjadikan Madrid sebagai salah satu alat pencitraan. Ia, menjadikan Madrid sebagai kesebelasan paling kaya di Spanyol. Ia tak segan menggelontorkan dana segar agar El Real bisa mendatangkan pemain-pemain sekaliber Raymond Kopa, Ferench Puskas, hingga Alfredo Di Stefano.

Melalui kekuatan finansial yang kuat, serta skuat yang mumpuni ,Madrid pun perlahan namun pasti mulai merajai La Liga. Bahkan hingga saat ini, mereka tercatat sebagai pengoleksi gelar terbanyak La Liga.

Tak hanya di kompetisi domestik, Madrid juga menuai kesuksesan besar di kancah Eropa, khususnya di Liga Champions (pengoleksi gelar terbanyak dengan 12 trofi). Hebatnya, Madrid konsisten dengan apa yang sudah mereka capai dulu.Kekuatan finansial mereka hampir tidak pernah mengalami masalah. Tak ayal, status kesebelasan besar pun disandang Madrid.

Baca juga: Hanya Ada Tiga Kesebelasan Besar di Dunia

***

Faktanya, memang tidak semua kesebelasan kaya bisa mengambil alih dominasi dari klub sebelumnya. Namun, kegagalan tersebut juga lebih dikarenakan faktor inkonsistensi para pemilik klub dalam menyuntikkan dana. Contoh kasusnya adalah Malaga.

Di tahun 2010, Malaga yang tengah mengalami keterpurukan finansial mendapat pertolongan setelah kepemilikan klub diambil alih pengusaha Qatar, Sheikh Abdullah bin Nasser Al Thani. Sang Sheikh tak tanggung menyuntikkan dana dalam jumlah besar kepada Malaga untuk membeli pemain bintang.

Menjelang bergulirnya musim 2011/12, Malaga pun jor-joran di jendela transfer dengan mendatangkan pemain-pemain sekaliber Santi Cazorla, Joaquin Sanchez, Isco, Nacho Monreal, Jeremy Toulalan, hingga Ruud van Nistelrooy.

Namun, petaka datang saat Sheikh Abdullah memutuskan menghentikan pasokan dana kepada Malaga. Setelah itu, kondisi finansial klub Andalusia itu mulai memburuk. Sampai-sampai mereka menunggak gaji pemain pada awal musim 2012/13.

Tak hanya itu, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, Malaga pun bahkan mendapatkan sanksi dari UEFA karena krisis finansial yang mereka miliki. Alih-alih bisa menghentikan dominasi Madrid dan Barcelona di La Liga, Malaga malah terpuruk.

Hal yang sama juga menimpa, klub Rusia, Anzhi Makhachkala. Pada Januari 2011, saham dominan Anzhi dibeli pengusaha tambang Rusia, Suleyman Kerimov. Saat itu, Kerimov menggelontorkan dana besar bagi Anzhi untuk membeli pemain seperti Samuel Eto`o, Lassana Diarra, hingga Yuri Zhirkov. Tak tanggung, Anzhi juga merekrut Guus Hiddink sebagai manajer kesebelasan.

Namun lambat laun, kondisi finansial Anzhi mulai menurun. Hingga puncaknya pada 2013, mereka mengalami krisis keuangang. Mau tak mau, Anzhi melego banyak pemain bintangnya sebagai solusi terbaik untuk menyelamatkan tim dari krisis yang lebih parah.

Konon, krisisi finansial yang dialami Anzhi disebabkan prestasi klub yang tak menunjukkan kemajuan. Bahkan kondisi kesehatan Kerimov dikabarkan menurun karena hal tersebut.

Contoh lainnya adalah AC Milan. Sejak saham terbesar klub diambil alih Li Yonghong, pengusaha asal Tiongkok, Rossoneri mendapat suntikan dana melimpah di awal musim 2017/18. Di bursa transfer, mereka jor-joran dengan mendatangkan 11 pemain baru ke San Siro.

Sayangnya, gelontoran dana melimpah belum membuat Milan mampu menggusur dominasi Juventus di Serie A. bahkan, di tabel klasemen sementara Serie A, Milan hanya mampu menduduki posisi enam.

Sempat tersiar kabar bahwa kondisi finansial Milan goyah, karena pemilik klub mengalami kebangkrutan. Isu tersebut dibantah keras pihak klub. "Sejauh ini, Klub (Milan) maupun perusahaan-perusahaan saya masih berjalan tanpa masalah. Oleh karena itu saya berharap bahwa pemberitaan yang ada saat ini tidak perlu dipedulikan, karena itu tidaklah benar," katanya, dilansir dari BBC, Februari 2018 lalu.

Bila memang seperti itu, bisa dibilang Milan masih dalam proses untuk menghentikan atau lebih tepatnya merebut kembali dominasinya dari tangan Juventus. Biar bagaimanapun, kekuatan finansial yang mumpuni juga sebenarnya tak bisa begitu saja menghadirkan prestasi secara instan. Tetap dibutuhkan proses untuk berkembang.

Baca juga: Baca juga: Man City Sedang Menciptakan Sejarah

Chelsea, Man City, hingga PSG pun tidak langsung meraih gelar juara saat pemodal datang. Ketiga kesebelasan tersebut juga melewati berbagai proses untuk mengonsolidasi kekuatan, mengumpulkan pengalaman hingga akhirnya meraih kesuksesan. Chelsea, setidaknya butuh waktu satu tahun sementara Man City dan PSG membutuhkan waktu dua tahun lamanya untuk berkembang, sebelum akhirnya bisa mendominasi gelar juara di kompetisi masing-masing.

Komentar