Barcelona dan Kebiasaan Sulit Bangkit

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Barcelona dan Kebiasaan Sulit Bangkit

“Tidak mudah untuk kami bangkit kembali. Namun tidak ada jalan lain, hari Sabtu kami harus maksimal untuk mendapatkan dua gelar tersisa.” Kalimat itu diucapkan oleh Andres Iniesta jelang laga antara Barcelona vs Valencia dalam lanjutan La Liga pekan ke-23, Sabtu (14/4).

Jika kita cermati warna kalimat yang dilontarkan Iniesta, jelas tersirat di sana masih ada suasana murung yang melingkupi Barcelona usai mereka menerima kekalahan yang mengejutkan dari AS Roma di perempatfinal Liga Champions, tengah pekan lalu. Pertandingan itu memang menyakitkan bagi Barca dan, pada gilirannya, akan sulit mereka lupakan. Bagaimana tidak, AS Roma yang tidak begitu banyak diunggulkan dan kalah 4-1 di leg pertama, seketika di leg kedua bisa membalikkan keadaan dengan membobol gawang Barca sebanyak tiga kali tanpa balas. Publik Spanyol jika menyaksikan pertandingan ini, niscaya akan berkata, "madre mia!" untuk mengekspresikan rasa terkejut mereka.

Sialnya lagi, pahit kekalahan tak bisa mereka ubah menjadi pelecut untuk bangkit. Seperti yang dijelaskan Iniesta, kekalahan mengejutkan itu justru membuat Barcelona semakin tertekan dan sulit untuk bangkit.

Kondisi Barca tak ubahnya seperti seorang remaja yang baru saja dikalahkan kawannya dalam persaingan mendapatkan cinta seorang gadis. Terlalu sulit untuk percaya atas kekalahan yang baru saja diterima; terlalu jemawa untuk mengakui kemenangan yang didapatkan lawan.

Konon, sulitnya Barcelona untuk bangkit dari keterpurukan usai mengalami kekalahan yang menyakitkan, telah menjadi semacam tradisi yang mengurat-akar di klub berjuluk Blaugrana itu.

Karena ini bukan kali pertama Barcelona mengalami kekalahan mengejutkan dari kesebelasan Italia di ajang Liga Champions. Barca juga pernah mengalami kekalahan yang begitu menyakitkan saat menghadapi AC Milan di final Liga Champions 1994. Mengingat ketika itu Barcelona begitu diunggulkan berkat kehebatan dan dominasi mereka di bawah arahan Johan Cruyff. Barcelona era Cruyff adalah salah satu generasi terbaik yang pernah diberikan sepakbola, mereka sampai mendapat julukan “The Dream Team” ketika itu.

Di sisi lain, AC Milan tampil pincang di final karena tidak bisa diperkuat kapten mereka, Franco Baresi, dan bek andalan mereka, Alessandro Costacurta. Barca tentu semakin merasa di atas angin.

Kolumnis The Guardian, Sid Lowe, dalam esainya yang berjudul Barcelona vs Milan Revisited: The Night in 1994 Dream Died, menceritakan bahwa saking diunggulkannya Barcelona jelang final itu, sang pelatih Johan Cruyff sampai berkata bahwa dirinya tak perlu mempersiapkan banyak taktik dan strategi untuk menang dari Milan; Barcelona sudah merasa juara sebelum bertanding.

Di sinilah lalu sepakbola menampilkan sisi irasionalnya berupa sebuah kejutan dengan telengas: di final Barcelona remuk redam oleh AC Milan dengan skor telak 4-0.

Jangan tanya apa yang dirasakan oleh para pendukung Barcelona saat itu; yang bukan pendukung Barca saja pasti banyak yang sulit percaya atas hasil final yang digelar di kota Athena tersebut. Dewa-dewi yang bermukim di bumi Yunani seakan membungkam kesombongan Barcelona dengan memberi mereka kejutan berupa kekalahan yang menyakitkan.

Karena Barcelona, seperti halnya saat ini, selalu kesulitan untuk bangkit kembali jika mengalami kekalahan semacam itu. Tentu ada hal yang bisa menjadi sebab di balik fenomena tersebut. Alasan yang barangkali paling bisa diterima adalah, karena Barca terlalu terbiasa dengan kemenangan dan superioritas. Sehingga ketika dihadapkan dengan sebuah kekalahan yang mengejutkan, mereka sulit memercayainya—apalagi menerimanya.

Identiknya Barcelona dengan superioritas bukanlah isapan jempol belaka. Belum terkalahkannya mereka di La Liga musim ini adalah bukti paling nyata untuk menunjukkan betapa lekatnya Barcelona dengan label tersebut. Pada musim sebelum-sebelumnya, seperti 2008/09 dan 2010/11, Barcelona menampilkan superioritasnya dengan berhasil mengawinkan gelar La Liga dengan gelar Liga Champions.

Tahun-tahun superiornya Barcelona juga selalu beriringan dengan permainan indah yang mereka tampilkan di atas lapangan. Darmanto Simapea, dalam buku kumpulan esai sepakbolanya yang berjudul Tamasya Bola, menyebut permainan indah yang pernah ditampilkan oleh dua generasi terbaik Barcelona (era Cruyff dan Guardiola), adalah permainan yang membutuhkan etos artistik tingkat tinggi. Umpan-umpan dilepaskan secara presisi dengan gerakan yang sangat halus—kalau perlu tanpa harus mengeluarkan keringat. Dengan permainan itu, Barcelona bagai sedang menerjemahkan lukisan Pablo Picasso di atas lapangan hijau.

Tapi justru karena gayanya yang penuh kelembutan dan keindahan itulah, Barcelona kerap kesulitan untuk bangkit. Mereka bukanlah kesebelasan dengan gaya yang menggebu-gebu penuh semangat yang berjuang sampai—dalam bahasa pelatih legedaris Liverpool Bill Shankly—melampaui urusan hidup dan mati.

***

Apa yang diucapkan oleh Iniesta sebelum pertandingan menghadapi Valencia, mempunyai kemiripan dengan apa yang dikatakan oleh Pep Guardiola pada 2012 saat masih menangani Barcelona. Ketika itu, Barcelona baru saja mengalami kekalahan yang menyakitkan setelah disingkirkan secara dramatis oleh Chelsea di semifinal Liga Champions.

“Ini malam yang menyedihkan. Tapi kita akan merasakan lebih banyak hal seperti ini,” tutur Pep usai pertandingan.

Kita semua tahu, Pep Guardiola adalah pria yang di dalam sel darah merahnya mengalir DNA Catalan. Tentunya, ia sudah tidak asing lagi dengan fenomena sulitnya Barca bangkit usai mendapat kekalahan yang perih. Sehingga Pep berani menubuatkan bahwa Barcelona akan sulit lepas dari fenomena tersebut dengan berkata, “Kita akan merasakan lebih banyak hal seperti ini.”

Ramalan yang sungguh terbukti dan saat ini tengah dirasakan oleh Iniesta beserta koleganya. Lalu, memang seperti yang sudah-sudah, membuat mereka kesulitan untuk bangkit.

Akan tetapi mau bagaimana lagi, nasi telah menjadi bubur. Harapan yang tersisa bagi Barcelona untuk meraih gelar saat ini adalah di ajang La Liga dan Copa del Rey. Walau sudah pasti sensasi memenangi dua gelar itu jauh berbeda dengan sensasi memenangi Si Kuping Besar, tapi setidaknya, dengan memenangi dua gelar itu Barcelona bisa sedikit terobati dari sakit hati yang sedang mereka rasakan saat ini.

Walau sulit, tak ada pilihan lain bagi Barca selain bangkit. Dan menjamu Valencia di Camp Nou akhir pekan ini adalah panggung bagi mereka untuk membuktikannya. Namun jika gagal, tampaknya tradisi sulit bangkit ini masih akan menghantui Barcelona sampai entah kapan.

Komentar