Menjadi Tua seperti Capello

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Menjadi Tua seperti Capello

“Pada saat kau berumur 60 tahun, kau akan mempunyai 6 cacat di tubuhmu. Pada saat kau berumur 70 tahun, kau akan mempunyai 7. Begitu seterusnya.” Kalimat tersebut diucapkan oleh Johan, seorang tokoh utama dalam film drama berjudul “Saraband” karya sineas asal Swedia, Ingmar Bergman.

Kalimat Johan tersebut seakan menjadi nubuat tentang seperti apa rasanya menjadi tua—menjadi renta. Cacat yang dimaksud Johan, mungkin merupakan cacat secara fisik. Namun boleh kita tafsirkan, bahwa cacat yang dimaksudnya bisa juga merupakan cacatnya mental seseorang ketika sudah menjadi tua. Saat ia menyadari bahwa banyak hal sudah terlalu terlambat untuk dikejar dan diselesaikan. Hal-hal tersebut berbuhul dalam ingatannya, lalu berubah menjadi sebuah penyesalan yang membuat mentalnya tertekan.

Akan tetapi, hal tersebut agaknya tak berlaku bagi seorang pria Italia yang saat ini sudah berumur 71 tahun, Fabio Capello. Ketika ia memutuskan untuk pensiun dari dunia kepelatihan yang telah melambungkan namanya, tak ada gelagat penyesalan darinya. Sebaliknya, ia mengaku sangat puas atas perjalanan kariernya selama ini.

“Saya telah melakukan semua yang saya inginkan. Saya sangat bahagia dengan apa yang sudah saya lakukan, dan sekarang pun saya senang akan berkarier sebagai komentator,” tutur Capello seperti dilansir dari SkySports pada Senin (9/4).

Kebahagiaan yang dirasakan oleh Capello tentu beralasan. Sepanjang karier kepelatihannya, ia telah berhasil membawa beberapa tim yang dibesutnya merengkuh trofi.

Ketika mulai melatih AC Milan pada 1991, Capello langsung membawa Milan meraih gelar Serie A musim 1991/92. Hebatnya lagi, prestasi itu berlanjut hingga tiga musim berikutnya, sehingga di awal karirnya bersama AC Milan, Capello langsung membawa Milan meraih empat trofi Serie A secara beruntun. Ia juga berhasil memenangkan Milan atas Barcelona di final Liga Champions 1993/94, membuat prestasinya bersama Milan semakin lengkap dengan gelar juara Liga Champions tersebut.

Capello juga berhasil membawa Milan menjadi juara Piala Super Italia sebanyak tiga kali berturut-turut sejak musim 1992/93. Pada musim 1994/95, ia berhasil menambah koleksi di lemari trofi Milan dengan menjuarai Piala Super UEFA.

Di musim 1996/97, ketika dirinya mulai melatih Real Madrid, Capello langsung membawa Madrid berprestasi dengan meraih gelar La Liga di musim pertamanya melatih.

Musim 2000/2001, yang merupakan musim kedua Capello melatih AS Roma, ia berhasil membawa Roma meraih gelar Serie A. Musim berikutnya, Capello berhasil membawa Roma menjuarai Piala Super Italia pada musim 2001/02.

Pada 2004, secara mengejutkan Capello menerima tawaran Juventus. Di musim pertamanya itu, ia langsung berhasil membawa Juventus meraih Scudetto dua musim berturut-turut. Akan tetapi gelar tersebut lantas dihapuskan lantaran keterlibatan Juventus dalam skandal pengaturan skor ketika itu.

Musim 2006/07 Capello kembali ke Real Madrid. Saat itu ia sempat mendapat kecaman dari para pendukung Real Madrid karena menampilkan gaya bermain defensif. Capello lantas menjawab kecaman tersebut dengan mengatakan bahwa anggapan keindahan hanya ada dalam gaya sepakbola menyerang, adalah anggapan usang.

Capello lantas membuktikan ucapannya tersebut dengan berhasil membawa Madrid menjuarai La Liga musim 2006/07.

Fabio Capello mendapat sambutan hangat dan antusias dari masyarakat dan media Inggris ketika dirinya memutuskan untuk menukangi tim nasional Inggris pada 2008. Ia mendapat sambutan hangat tersebut karena reputasinya sebagai pelatih yang sarat prestasi dengan membuat klub-klub yang dilatihya memenangi banyak gelar.

Namun karier Capello saat melatih tim nasional ternyata tak semulus saat ia berkarier melatih klub. Tak ada satu pun gelar yang dihasilkan olehnya selama melatih Inggris sampai 2012. Hal yang sama juga terjadi saat ia melatih tim nasional Rusia dari 2012 hingga pertengahan 2015.

Fabio Capello lantas menerima tawaran klub asal Tiongkok, Jiangsu Suning, pada pertengahan 2017. Ia melatih klub tersebut selama satu musim. Di akhir musim Jiangsu hanya berhasil finish di peringkat ke-12. Karena hasil tak memuaskan tersebut, Capello diberhentikan dari tugasnya pada bulan Maret 2018.

Usai menangani Jiangsu, Capello tampaknya sudah merasa cukup dengan karier kepelatihnnya. Ia memang sempat dirumorkan akan melatih tim nasional Italia yang baru saja memberhentikan Gian Piero Ventura, namun Capello menolaknya. Tampaknya pengalaman buruk ketika melatih tim nasional Inggris dan Rusia membuat Capello kapok melatih tim nasional.

“Saya sudah katakan tidak untuk melatih tim nasional Italia. Saya sudah punya pengalaman dengan timnas Inggris dan Rusia. Saya kemudian ingin melatih satu klub lagi, dan Jiangsu adalah klub terakhir saya,” ujarnya.

***

Kita tahu, karier kepelatihan Capello tak selalu berakhir mulus. Walau sebelumnya banyak membawa klub-klub yang dilatihnya meraih gelar, ia ternyata tidak berhasil melakukan hal yang sama saat melatih tim nasional Inggris selama empat tahun, lalu tim nasional Rusia selama tiga tahun.

Akan tetapi, Capello menerima kenyataan itu semua dengan lapang sehingga ia mengaku sangat bahagia ketika memutuskan untuk pensiun dari karirnya di dunia kepelatihan. Sehingga, di usianya yang kini sudah memasuki kepala tujuh, ia tak merasakan dirinya dirundung oleh tujuh cacat seperti yang dinubuatkan Johan dalam film Saraband.

Baginya, semuanya tampak berjalan begitu sempurna. Ia reguk seluruh lakon hidup hingga ke dasar cawan.

“Life can only be understood backwards, but it must be lived forward.” Kalimat itu pernah dihadirkan oleh salah seorang filsuf penubuh eksistensialisme, Soren Kierkegard. Dan Capello tampak sangat mengamini kalimat tersebut.

Ungkapan Capello saat memutuskan untuk pensiun, adalah bahwa ia mengaku sangat bahagia dengan apa yang sudah selama ini ia lakukan. Ini membuktikan bahwa ia begitu memahami segala pelajaran yang telah diberikan kehidupan—termasuk segenap pengalamannya melatih—di masa yang telah lewat.

Namun di sisi lain, Capello juga enggan menyudahi kehidupannya begitu saja dengan berdiam diri di rumah dan menunggu kematian datang menghampiri. Seperti kata Kierkegard, Capello juga memilih melanjutkan kehidupannya saat ini di dunia yang baru—sebagai komentator.

Komentar