Dua Makna Conte Out

Cerita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

a freelance journo. full-time researcher. bachelor of law

Dua Makna Conte Out

Dante Alighieri pernah menulis dalam karyanya berjudul Inferno, bahwa di tengah perjalanan hidupnya, ia tersesat di sebuah hutan yang gelap nan kelam. Penyair asal Italia itu tidak ingat pasti bagaimana ia bisa tersesat. Ia hanya sadar bahwa dirinya telah memasuki tempat yang menakutkan, gelap, dan lembah yang kusut.

Antonio Conte bukan seorang penyair. Pria yang lahir di Lecce, Italia, itu adalah seorang pelatih yang kebetulan sedang tersesat di tengah perjalanannya bersama klub yang ia tukangi, Chelsea.

Ketika ditunjuk jadi pelatih pada musim panas 2016/17, publik Stamford Bridge menaruh harapan besar kepadanya. Mantan pelatih tim nasional Italia itu dituntut untuk memperbaiki kondisi Chelsea yang babak belur pada musim sebelumnya.

Adapun tuntutan itu segera dijawab oleh Conte. Pada musim pertamanya di Inggris, ia membawa Chelsea juara liga. Bahkan Chelsea nyaris mengakhiri musim dengan status double winners, andai tidak kalah oleh Arsenal di partai final Piala FA.

Pada tur pramusim Chelsea, Telegraph mewawancarai Antonio bulan Juli 2017. Di tengah panasnya cuaca Beijing, mantan pelatih Juventus itu berkata: “musim lalu adalah musim yang sulit, musim yang berat, musim yang sangat ketat bagi saya dan para staf. Sekarang saya putuskan untuk terus melanjutkan perjalanan bersama klub. Saya telah bicara dengan klub dan (kami) menemukan pandangan yang tepat tentang masa depan bagi klub ini.”

Selang beberapa bulan pasca pernyataan tersebut, Conte kembali mendapati musim yang sulit, bahkan mungkin jauh lebih sulit dari musim-musim yang pernah ia jalani sepanjang karier kepelatihannya. Posisi klub juara bertahan Liga Primer di klasemen saat ini berada di luar zona liga Champions. Klub milik Roman Abramovich itu juga tersingkir di babak semifinal Piala Liga. Terbaru, Chelsea kalah berturut-turut dari duo Manchester, yang membuat posisi Conte terus disorot.

Ada beberapa faktor yang membuat catatan Conte di Chelsea terus memburuk, mulai dari hubungan yang tidak harmonis dengan pihak klub hingga jadwal Chelsea yang lebih padat dari musim lalu.

Di musim pertamanya, Conte tidak perlu berpergian ke luar wilayah Inggris Raya. Wajar mengingat Chelsea tidak tampil di liga Champions akibat finish di peringkat kesepuluh klasemen pada musim sebelumnya. Praktis, fokusnya hanya pada partai-partai di level domestik saja.

Ketika tim-tim seperti Tottenham, Arsenal, Manchester City, dan Manchester United harus membagi fokus mereka dengan pertandingan-pertandingan Liga Europa dan Liga Champions, Chelsea tidak demikian. Fakta itu menjadikan Chelsea kesebelasan paling bugar dari para pesaing lainnya di liga Inggris.

Faktor lain yang tidak kalah menentukan adalah komunikasi antara Conte dengan pihak klub. Musim ini, Conte sudah beberapa kali mengeluh terkait kebijakan transfer yang diterapkan oleh pihak klub. Sebenarnya, dinamika itu wajar dan hampir setiap klub mengalaminya. Namun yang disayangkan, Conte kerap melontarkan keluhan itu di depan awak media, sehingga menyiratkan ada hubungan yang kurang baik antara dirinya dengan dewan direksi.

Hal tersebut mengundang perdebatan di antara para pendukung Chelsea. Ada yang bilang Chelsea adalah klub pelit karena tidak mendukung secara finansial keinginan Conte untuk merekrut Alex Sandro, Radja Nainggolan, dan Fernando Llorente.

Meski ada juga yang berkata sebaliknya. Fakta bahwa Chelsea menggelontorkan dana hingga 140 juta euro atau sekitar 2,18 triliun rupiah untuk belanja pemain musim ini, jadi pembuktian bahwa klub sebenarnya sudah memberi apa yang Conte mau. Alvaro Morata, Antonio Rudiger, dan Tiemoue Bakayoko adalah nama-nama yang konon merupakan daftar pemain incaran Conte.

Selain jadwal yang lebih padat dan hubungan dengan pihak klub, Conte juga harusnya sadar bahwa taktik 3-4-3 versinya sudah tidak istimewa lagi. Musim lalu Chelsea juara berkat revolusi taktik ala Conte yang kembali mengaktifkan peran wing-back dalam skema empat gelandang tengah.

Namun patut diingat, musim itu Chelsea jadi kesebelasan pertama yang tampil dalam formasi 3-4-3 di Inggris. Wajar saja jika kesebelasan lawan gagap menghadapi formasi baru yang Conte terapkan. Dengan formasi itu, Chelsea berhasil meraih 13 kemenangan secara beruntun sebelum catatan itu dihentikan Spurs. Uniknya, anak asuh Pochettino menerapkan formasi yang sama dengan Conte, yakni 3-4-3, ketika membungkam Chelsea di White Hart Lane.

Terbukti bahwa formasi juara milik Conte mampu diadaptasi serta dimodifikasi kesebelasan lain. Hal itu seharusnya tak membuat manajemen taktik Conte stagnan agar tidak mudah terbaca lawan. Meski sempat menggunakan variasi 3-5-2, percobaan Conte belum optimal. Maklum, formasi itu sifatnya masih sebatas opsi.

Pemakluman demi pemakluman mungkin akan terus diberikan Chelsea, tapi mungkin juga tidak. Conte pasti paham watak Abramovich yang terkenal mudah mendepak seseorang dari kursi pelatih. Bukan tak mungkin, jika tren negatif terus berlanjut, perjalanan Conte bersama Chelsea akan berakhir lebih cepat.

Sebaliknya, jika Conte mampu berhasil menghalau awan gelap yang saat ini tengah menyelimuti Chelsea, tentu chants “Antonio, Antonio, Antonio” akan semakin riuh dikumandangkan para pendukung setia.

Saat tersesat, Dante Alighieri sempat bertemu dengan sosok spiritual. Dalam percakapannya, sosok bernama Virgil itu setuju untuk membantunya keluar dari ketersesatan itu. Hanya, jalan itu berliku dan harus melalui neraka (inferno) terlebih dahulu.

Seperti halnya Dante, perjalanan Conte juga sedang berliku bersama Chelsea. Namun akhir perjalanan itu masih jadi misteri karena frasa Conte Out bisa berarti Conte keluar dari tren negatif dan kembali ke jalur kemenangan, atau justru Conte keluar dari Stamford Bridge seperti pelatih-pelatih lain di era Abramovich.

Komentar