Negeri Matahari Semakin Membuat Chanatip Bersinar

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Negeri Matahari Semakin Membuat Chanatip Bersinar

Chanatip Songkrasin tampaknya tengah menikmati masa-masa indah bermain di J-League 1 bersama Consadole Sapporo. Melihat catatan bermainnya, Chanatip telah memainkan peran penting di sektor lapangan tengah klub berjuluk Consa itu. Dari total 10 pertandingan yang sudah dimainkan Consadole Sapporo di kompetisi domestik, Chanatip terlibat dalam tujuh pertandingan dengan hanya satu pertandingan saja yang dimulainya dari bangku cadangan.

Sebenarnya, catatan bermain Chanatip bersama Consadole bisa lebih banyak lagi, andai ia tiba lebih cepat ke Jepang. Pemain berusia 24 tahun itu tiba di Negeri Matahari tersebut pada 24 Juli lalu, molor 23 hari dari kick off J-League 1 yang dimulai pada 1 Juli. Otomatis, Chanatip pun harus melewatkan dua laga awal bersama Consadole.

Namun itu bukan masalah berarti bagi Chanatip, karena di laga ketiga Consadole di J-League 1 melawan Urawa Reds, pemain kelahiran Nakhon Pathom 5 Oktober 1993 itu langsung dipasang sebagai starter untuk bermain selama 63 menit. Debutnya terbilang mengesankan karena diwarnai dengan kemenangan dua gol tanpa balas Consadole atas Urawa.

Setelahnya Chanatip terus dipercaya oleh pelatih Consodale, Shuhei Yomoda, untuk mengisi pos gelandang serang Consadole. Dari total tujuh penampilannya itu, mantan pemain BEC Tero Sasana itu bermain selama 1006 menit, catatan tersebut terbilang jauh lebih baik ketimbang menit bermain yang dimiliki dua pemain asal Asia Tenggara, Le Cong Vinh (501’) dari Vietnam dan Irfan Bachdim (227’) dari Indonesia yang sebelumnya juga pernah memperkuat Consadole dalam periode yang berbeda.

Chanatip juga sejauh ini sudah memberikan kontribusi berupa satu asis yang ia ciptakan saat Consadole dikalahkan Corezo Osaka 1-3. Perannya yang cukup vital di lapangan tengah klub yang bermarkas di Sapporo Dome itu juga membuat ia mulai dicintai para penggemar. Saat Consadole menggelar pertandingan kandang, beberapa penggemar kerap membawa bendera Thailand yang dimodifikasi dengan angka 18 dan menyematkan nama Chanatip di bawahnya.

?????????????????"?????#thailand #cs18 #???????"??????????????

A post shared by Chanathip Songkrasin (@jaychanathip) on

Tentunya itu merupakan sebuah bentuk dukungan dan kasih sayang yang nyata dari para pendukung terhadap kiprah pemain yang bisa bermain sebagai gelandang serang itu. Bila mampu mempertahankan performa impresifnya, bukan tidak mungkin Consadole mempermanenkan statusnya. Seperti diketahui bahwa status Chanatip di Consadole adalah pemain pinjaman, ia dipinjam selama 18 bulan.

Menunjukkan Progres yang Signifikan

Chanatip memilih berkompetisi di J-League 1, salah satu harapannya tentu agar ia bisa lebih berkembang di level kompetisi yang lebih baik. Seperti diketahui bahwa kompetisi sepakbola Jepang menjadi salah satu yang terbaik di Asia. Dari kompetisi itu banyak pemain-pemain Jepang yang berhasil menembus kompetisi Eropa. Melihat performa impresif yang ditunjukkan Chanatip selama kurang lebih tiga bulan bermain di J-League 1, mustahil bila tidak ada peningkatan yang signifikan dalam permainannya.

Presiden Asosiasi Sepakbola Thailand (FAT), Somyot Poompanmoung, mengungkapkan bahwa progres signifikan itu memang diperlihat Chanatip sejak ia bermain di J-League 1. Somyot mengungkapkan perkembangan Chanatip terlihat dari sisi kecepatan dan ketajamannya.

"Chanathip telah menjadi pemain yang lebih baik setelah pindah ke Jepang, semua orang bisa melihatnya. Dia lebih tajam dan tampaknya lebih cepat, dia bermain di tingkat yang lebih tinggi. Chanathip cukup baik untuk beradaptasi dan belajar dari orang lain," kata Somyot seperti dilansir dari ESPNFC.

Somyot melanjutkan bahwa progress yang ditunjukkan Chanatip yang mampu bersaing di kompetisi sekelas J-League 1 merupakan kabar baik bagi perkembangan sepakbola Thailand. Dikatakannya Chanatip bisa menjadi patron bagi pemain asal Thailand lainnya untuk lebih berani lagi menunjukkan bakatnya dengan bermain di kompetisi yang levelnya lebih tinggi.

"Ini bagus bagi sepakbola Thailand untuk memiliki karena kami memiliki pemain yang sukses di Jepang, ini menunjukkan bahwa kami dapat menghasilkan pemain bagus yang bisa bersaing di tingkat Asia. Saya yakin kita akan melihat lebih banyak lagi pemain yang pergi ke sana (Jepang), atau negara-negara kuat Asia lainnya di masa yang akan datang,” terangnya.

FAT, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas perkembangan sepakbola di Thailand, kini tengah menggalakkan pembinaan pemain muda secara berjenjang dengan tujuan tampil di Piala Dunia. Agar bisa tampil di Piala Dunia, tentunya Thailand harus bisa bersaing dengan negara-negara kuat Asia lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, Iran, hingga Australia.

"Kami tahu kami memiliki jalan yang panjang untuk mencapai tujuan-tujuan kami, tapi jika kita memiliki lebih banyak pemain yang bisa bermain di kompetisi dengan level yang lebih tinggi, tentunya ini akan membantu kami. Chanathip bukan hanya pemain dengan kualitas yang baik, namun juga ia adalah sosok pekerja keras, inilah yang harus kita lakukan untuk membantu sepakbola Thailand berkembang," tukasnya.

***

Melihat geliat sepakbola Asia Tenggara yang semakin berkembang pada setiap musimnya, sebenarnya sosok Chanatip hanyalah contoh dari pembuktian diri para pemain asli Asia Tenggara untuk bisa bersaing di kompetisi yang lebih tinggi. Selain Chanatip masih ada beberapa pemain asal Asia Tenggara yang mampu menunjukkan kapasitasnya di kompetisi elite Asia lainnya, Irfan Bachdim dan Le Chong Vinh juga bisa dijadikan contoh.

Ada juga Safuwan Baharudin misalnya yang juga pernah melakoni enam penampilan di A League Melbourne City. Pemain asal Singapura itu merapat ke Melbourne dengan status sebagai pemain pinjaman dari Lions XII pada 2015 lalu, dari total penampilannya tersebut Safuwan berhasil menciptakan dua gol. Selain Safuan ada pula Luong Xuan Truong, pemain asal Vietnam yang saat ini bermain di Liga Korea bersama Gangwon FC.

Kemudian ada satu sosok lain juga yang cukup menyita perhatian akhir-akhir ini, siapa lagi kalau bukan Egy Maulana Vikri. Ia memang belum pernah tampil di kompetisi elite Asia seperti nama-nama yang telah disebutkan di atas, namun Egi dipercaya memiliki potensi yang bahkan bisa sampai menembus kompetisi Eropa. Salah satu media kenamaan Inggris, The Guardian, bahkan memasukannya ke dalam daftar 60 pemain muda berbakat dunia.

Komentar