Richarlison di Antara Chelsea dan Todongan Senjata Api

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Richarlison di Antara Chelsea dan Todongan Senjata Api

Apa yang akan Anda lakukan saat Anda ditodong oleh senjata api? Ketakutan? Merasa ngeri? Itu adalah perasaan yang wajar. Richarlison, pemain Watford, juga pernah merasakannya. Namun sekarang, ia bersyukur karena hal-hal seperti itu: todongan senjata api dan kehidupan keras semasa remaja, membentuk mentalnya sebagai seorang pesepakbola.

Watford mencatatkan awal yang cukup gemilang dalam ajang Liga Primer musim 2017/2018 ini. Dari delapan pertandingan yang sudah mereka jalani, total mereka berhasil mencatatkan empat kali kemenangan, tiga kali hasil imbang, dan sekali kalah. Mereka berhasil menorehkan 15 poin dan untuk sekarang bercokol di peringkat keempat klasemen sementara Liga Primer.

Hasil positif yang diraih oleh Watford ini, selain karena penampilan mereka yang memang mengesankan (mereka bahkan sampai mengalahkan Arsenal), juga karena beberapa pemain mereka mampu tampil dengan baik. Salah satu dari pemain yang tampil ciamik untuk Watford sampai pekan ke-8 Liga Primer ini adalah Richarlison, pemain asal Brasil yang direkrut The Hornets dari Fluminense.

Sampai pekan ke-8, pemain yang berposisi sebagai winger ini sudah menyumbangkan tiga gol dan satu asis untuk Watford. Ia bahkan berkontribusi untuk kemenangan Watford atas Arsenal pada pekan ke-8 silam. Pelanggaran yang dilakukan pemain Arsenal padanya berbuah penalti dan berhasil dieksekusi oleh Troy Deeney. Ia pun dianggap sebagai rekrutan terbaik Watford saat ini.

Segala kehebatan yang ditunjukkan oleh Richarlison ini, semuanya tidak lepas dari kondisi keras yang ia alami semasa kecil dan remaja silam. Di sebuah daerah bernama Vila Rubia, Nova Venecia, Richarlison tumbuh dan menjadi pemuda yang kuat.

Nova Venecia, dan kerasnya kehidupan Richarlison

Nova Venecia merupakan sebuah provinsi yang masuk ke dalam negara bagian Espirito Santo. Berlokasi di dekat pantai, lokasi ini sebenarnya adalah salah satu tempat wisata tersohor di Brasil, dengan pantai-pantainya yang indah serta hotel-hotel tempat menginap yang berhadapan dekat dengan Samudra Atlantik.

Namun di sebuah daerah bernama Vila Rubia, segalanya tampak tidak begitu indah. Sebuah area kumuh nan keras dari Nova Venecia, sebuah area di mana setiap hari Anda bisa melihat orang-orang berjualan obat-obatan terlarang, ganja, serta adu tembak antar gangster setiap harinya.

"Hal-hal tersebut adalah hal-hal alami yang terjadi dalam hidup saya, jadi saya tidak takut sama sekali. Area itu (Vila Rubia) adalah area yang kumuh. Saya melihat obat-obatan terlarang dijual di depan saya setiap harinya, begitu juga dengan adu tembak antar gangster. Saya bahkan ingat seseorang pernah menodongkan pistolnya ke depan wajah saya, karena ia mengira saya berusaha untuk merebut wilayah kekuasaannya," ujar Richarlison, disitat dari The Telegraph.

"Saya punya rumah kecil, dan di belakang rumah saya orang-orang terbiasa menjual obat-obatan terlarang, bersembunyi dari polisi. Mereka semua adalah teman-teman saya, dan saya tidak berkuasa untuk melarangnya. Sekarang mereka semua sudah masuk penjara karena perbuatan mereka ini," kenangnya.

Sedari kecil, Richarlison memang sudah akrab dengan dunia seperti itu. Dunia keras yang penuh dengan ancaman dan juga penuh dengan bahaya. Namun, alih-alih ikut-lkutan juga menjadi penjual obat terlarang, Richarlison berhasil menemukan jalan yang lebih baik, yaitu menjadi pesepakbola profesional.

"Selalu ada cara bagi saya agar menjadi penjual obat terlarang. Namun pelatih tim junior saya tahu dari mana saya berasal, dan mereka berhasil mencegah saya menjadi seperti teman-teman saya," ujar Richarlison.

Richarlison semasa kecil. Sumber: Akun Instagram Pribadi Richarlison

Jalan menjadi pesepakbola profesional yang ia pilih

Sesuai dengan jalan yang ia pilih, ia pun akhirnya menjadi pesepakbola profesional setelah diselamatkan oleh pelatih di tim juniornya. Namun Richarlison juga mengakui kalau jalan yang ia tempuh untuk menjadi pesepakbola profesional bukanlah jalan yang mudah. Ia sempat menjadi penjual es krim dan coklat ketika ia tinggal bersama ibunya (ibu dan ayah Richarlison bercerai).

"Saya pernah menjual es krim dengan rasa yang bermacam-macam, seperti susu, anggur, dan coklat, dengan satu es krimnya seharga 20 paun. Saya juga pernah menjual coklat buatan bibi saya dengan harga 25 paun per coklatnya. Saya kerap menyimpan uang hasil saya bekerja dalam celengan babi yang saya punya," ujar Richarlison.

Masa kecil yang penuh dengan bahaya dan kesulitan, ternyata membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang kuat. Walau sempat mengalami penolakan kala akan bergabung dengan tim Avai dan Figueirense, karier sepakbola Richarlison melesat ketika ia bergabung dengan America-MG. Dari situ, jalannya untuk membela Fluminense dan akhirnya menyeberang ke Watford, mulai terbuka secara perlahan.

"Saya hampir saja menyerah pada sebuah titik, namun orang-orang tetap menyemangati saya untuk terus maju karena mereka melihat saya punya bakat. Saya pun datang ke MG, dengan uang pas-pasan dan saya menghabiskan ongkos pulang saya karena lapar. Dari situlah muncul sebuah semangat bahwa saya harus berhasil," ungkapnya.

Dengan segala ancaman dan juga todongan pistol yang pernah ia terima, ia menjadi kuat. Ia bahkan berkelakar bahwa klub sebesar Chelsea tidak bisa menakuti dirinya. "Inilah cerita hidupku, yang penuh dengan ancaman. Setelah mengalami ini semua, melawan Chelsea tampaknya menjadi sesuatu yang mudah dan tidak membuatku takut," ungkapnya.

***

Sekarang Richarlison telah menjadi bagian dari skuat Watford. Setelah mampu tampil mengesankan bersama Fluminense, dan juga punya pengalaman bersama timnas Brasil U20, Marco Silva memutuskan untuk merekrutnya ke Watford. Di Vicarage Road, ia sedang merintis jalan menjadi seorang pesepakbola kenamaan.

Namun, bermain di Inggris di usia yang masih cukup muda (usia Richarlison masih 20 tahun), masih harus banyak adaptasi yang dilakukan oleh Richarlison. Oleh karena itu, ia kursus bahasa Inggris dan meminta tolong kepada David Luiz dan Willian untuk mengenal kehidupan di Inggris.

"Saya cukup sering berkunjung ke rumah David Luiz, dan Willian juga bisa bergabung bersama kami karena keduanya memang teman dekat. Kami mengadakan pesta barbeque, bermain video game, dan juga menari samba. David memberi tahu saya bahwa saya bisa menjebol gawang tim manapun, kecuali Chelsea. Saya pun membalas, `Saya harus mengalahkan semuanya`," ujar Richarlison.

Satu atau dua tahun ke depan, jika ia memang berkembang dengan baik, ia mungkin saja akan menjadi talenta selanjutnya bagi timnas Brasil. Soal mental bertandingnya tak perlu diragukan lagi. Apalagi ia pernah ditempa oleh todongan pistol di depan wajahnya saat masih kecil.

foto: @afcstuff

Komentar