Sepakbola Selamatkan Nadia Nadim

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Sepakbola Selamatkan Nadia Nadim

Sepakbola lebih dari sekadar 90 menit di atas lapangan. Ucapan yang klise, memang, tapi sudah banyak yang merasakan bahwa sepakbola memang lebih dari sebatas adu strategi dan taktik di atas lapangan. Nadia Nadim adalah salah satu dari sekian banyak orang yang merasakannya. Ia diselamatkan oleh sepakbola.

Nadia Nadim tercatat sebagai pemain timnas sepakbola perempuan Denmark dan sudah membela timnas sepakbola perempuan Denmark sejak 2009 silam. Namun jika melihat gurat-gurat yang ada di wajahnya, tampak jelas bahwa ia tidak memiliki darah Skandinavia khas Denmark sama sekali. Nadia memang bukan asli Denmark. Ia berasal dari Afghanistan, lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang juga asli dari Afghanistan.

Perkenalan Nadim dengan sepakbola dimulai saat ia masih kecil. Ayahnya, Rabani Nadim, adalah orang yang mengenalkannya dengan sepakbola, di sebuah pekarangan kecil di belakang rumahnya di wilayah Herat, Afghanistan. Semua tampak baik-baik saja, sampai akhirnya pada usia 10 tahun, ayahnya meninggal setelah dieksekusi oleh Taliban. Dipanggil untuk melakukan pertemuan dengan Taliban, sang ayah tak pernah kembali lagi ke rumah.

Sejak saat itu, kehidupan Nadim bersama dengan ibu dan saudara-saudaranya, mulai dipenuhi dengan perjuangan dan usaha agar bisa bebas dari represi Taliban yang begitu mengontrol Afghanistan ketika itu.

Kehidupan di Afghanistan yang penuh dengan represi

Sebagai seorang perempuan, kehidupan Nadim dan saudara-saudaranya yang juga kebanyakan perempuan dipenuhi dengan batasan. Mereka dilarang untuk bekerja, keluar rumah, serta beraktivitas secara publik. Nadim kecil mengalami hal tersebut, dan salah satu usaha eskapisme yang ia lakukan adalah dengan cara menendang bola di belakang rumahnya.

Tanpa ditemani siapapun, dan hanya berbekal bola yang diberikan oleh mendiang ayah, Nadim kecil terus bermain bola secara tertutup di belakang rumahnya. Ia tak melihat siapapun, atau di manapun, perempuan berolahraga dan bermain sepakbola seperti dirinya. Terang saja, ia hanya bermain di rumahnya, karena perempuan dilarang untuk beraktivitas secara publik.

Represi ini membuatnya dan keluarganya tidak tahan. Mereka ingin kebebasan. Mereka ingin bebas beraktivitas tanpa kekangan dari pihak-pihak yang menamakan diri mereka Taliban. Usaha mencari suaka pun dilakukan. Berbekal paspor Pakistan palsu yang mereka miliki, Nadim dan keluarganya berhasil melarikan diri. Tujuan mereka adalah London, Inggris.

Namun, takdir membawa mereka ke tempat lain yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Sebuah negara di daerah Skandinavia bernama Denmark, menjadi tempat kehidupan baru yang sudah menjelang Nadia bersama keluarganya.

Denmark, sepakbola, dan eskapisme manis Nadia

Di usianya yang masih 12 tahun, Nadia sudah menginjakkan kaki di negara yang begitu asing baginya. Negara kecil bernama Denmark, menjadi awal sekaligus usaha eskapisme yang manis bagi Nadia dan keluarganya.

Tinggal di daerah pedesaan Denmark, bersama dengan para pencari suaka yang lain, Nadia tidak menjadi anak yang tenggelam begitu larut dalam trauma. Bersama teman-teman yang ia temui di pengungsian, ia menemukan satu hal yang sudah ia kenal sejak ia masih kecil: sepakbola. Sepakbola-lah yang membuatnya mampu melupakan trauma yang menghantuinya semasa ia kecil. Sepakbola menjadi eskapisme yang manis bagi Nadia.

"Itu (sepakbola) dengan segera berubah menjadi obsesi dalam hidup saya. Dulu sampai sekarang, sepakbola selalu menghibur saya dengan perasaan yang sama. Saya begitu mencintai permainan ini, juga kesenangan yang muncul saat memainkannya. Sepakbola bisa menjadi sederhana dan kompleks dalam waktu yang sama. Siapapun bisa memainkannya," ujar Nadia.

Sepakbola pula yang perlahan mulai mengubah hidup perempuan kelahiran Herat tersebut ke arah yang lebih baik. Bermula dari keberaniannya bertanya kepada pelatih tim Gug Boldklub (klub di daerah tempat Nadia mengungsi) apakah ia bisa ikut berlatih atau tidak, Nadia merintis jalannya menjadi seorang pesepakbola profesional.

Bakat yang ia miliki segera tercium ketika ia bisa bermain sepakbola secara publik. Dimulai dari Gug Boldklub, ia pun merantau ke beberapa klub sepakbola di Denmark seperti B-52 Aalborg, Team Viborg, IK Skovbakken, serta Fortuna Hjørring. Namanya mulai dikenal di seantero Denmark sebagai pesepakbola ulung, terutama dalam urusan mencetak gol.

Karier yang cemerlang mengantarkannya menyeberang jauh ke Amerika Serikat, berkompetisi di NWSL (liga sepakbola perempuan Amerika Serikat) bersama Sky Blue FC serta Portland Thorns FC. Per September 2017, Nadim menandatangani kontrak bersama Manchester City dan akan menjadi pemain Manchester City mulai Januari 2018.

Usaha Nadim untuk melakukan hal yang lebih dari berterima kasih kepada sepakbola

Sepakbola telah menjadi usaha menyelamatkan diri yang berakhir indah bagi Nadim. Sekarang ia sudah resmi membela Manchester City, dan memberikan kontribusi manis bagi timnas sepakbola perempuan Denmark dengan mengantarkan mereka menjadi runner-up dalam ajang Piala Eropa Perempuan 2017 yang digelar di Belanda.

Nadim pun ingin berterima kasih kepada sepakbola yang sudah menjadi usaha eskapisme yang manis baginya. Selain sedang terlibat dalam sebuah proyek akademi sepakbola bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus, ia juga berencana untuk menjadi ahli bedah ketika pensiun sebagai pesepakbola nantinya. Selain tetap bisa berkecimpung di dunia sepakbola lewat medis, impiannya ini muncul karena keinginannya untuk bisa melakukan hal yang lebih bagi orang lain.

"Orang-orang yang membantu saya selama saya meniti karier sebagai pesepakbola ini memberikan pengaruh yang tidak sedikit bagi kehidupan saya. Oleh karena itu, saya juga ingin jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Saya suka bermain sepakbola, tapi jika saya bisa melakukan lebih, apa salahnya? Saya ingin menjadi ahli bedah ketika pensiun nanti. Dengan begitu, saya bisa menolong orang lain dan memahami penderitaan yang mereka rasakan," ujar Nadim.

Lebih dari itu, lewat perjalanan hidupnya yang banyak terbantu oleh sepakbola ini, Nadim ingin menunjukkan kepada banyak orang bahwa semua bisa terjadi dalam hidup. Hal-hal yang pada awalnya tidak mungkin, bisa saja menjadi mungkin, salah satunya adalah bermain sepakbola dengan bebas. Dengan kerja keras, semua bisa diraih asal kita tidak menyerah.

"Saya harap di akhir karier saya sebagai pesepakbola, saya sudah bisa menunjukkan kepada orang-orang bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Tidak peduli dari mana asalmu dan apa saja yang sudah pernah kamu lalui di masa lalu, dengan kerja keras dan semangat tanpa henti, apa yang kau harapkan dan inginkan bisa menjadi kenyataan," pungkasnya.

Selain Nadia Nadim, ada juga perempuan yang menjadi simbol dari perjuangan sepakbola perempuan Afghanistan. Ia adalah Khalida Popal. Anda bisa membaca kisah Khalida Popal di sini.

foto: @City_Chief

Komentar