Kembali Menjadi Manusia di Kampung Halaman

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Kembali Menjadi Manusia di Kampung Halaman

Hampir setiap manusia, salah satunya pesepakbola, pernah merasakan namanya merantau jauh dari kampung halaman. Karena merantau ini pula, hampir setiap manusia, termasuk pesepakbola, pernah merasakan manisnya pulang kampung alias mudik.

Tradisi mudik adalah salah satu tradisi yang jamak dilakukan orang-orang, termasuk di Indonesia. Terutama ketika menyambut hari raya keagamaan yang sifatnya cukup besar, seperti Idul Fitri, Natal, atau Tahun Baru Imlek, mudik menjadi tradisi yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Mudik adalah saatnya untuk kembali ke kampung halaman, berkumpul bersama keluarga dalam sebuah tempat nyaman bernama rumah serta balutan kenangan masa kecil yang begitu menyenangkan.

Oleh karena itu, saking mendalamnya makna dari tradisi mudik ini, tak jarang beragam hal dilakukan oleh orang-orang supaya mereka bisa mudik ke kampung halaman. Menaiki berbagai mode transportasi, bahkan tak jarang melakukan hal-hal nekat macam bersepeda atau menumpang kendaraan orang, dilakukan supaya bisa mudik menuju kampung halaman. Ada sesuatu tak terlihat yang seolah membuat orang-orang sampai memaksakan diri hanya agar bisa pulang kampung.

Ini tak lepas dari peran penting kampung halaman sebagai tempat instrospeksi, tempat beristirahat, serta tempat katarsis (pembersihan diri) bagi batin seseorang. Dengan mudik, seseorang akan melepaskan diri untuk sementara dari kerasnya perantauan, sekaligus mengingat kembali masa-masa awal kehidupannya sebagai seorang manusia. Sisi humanis dari seseorang akan kembali terbangun ketika mudik, dan tak jarang ia akan kembali dalam keadaan lebih segar usai mudik ke kampung halamannya tersebut.

Ini juga yang dialami oleh beberapa pesepakbola yang selama kariernya tak jarang dihiasi dengan perantauan yang tak kunjung henti. Bermain untuk satu klub ke klub lain, membuat mereka layaknya seorang musafir yang tak henti terus mencari sukses di perantauan (terkecuali Totti atau Maldini, mungkin).

Ada masa ketika mereka meraih sukses di tanah rantau, tapi tak jarang para pemain sepakbola juga akan mengalami masa-masa jenuh dan sulit di perantauan, seperti tekanan hidup yang terus-menerus datang ataupun lingkungan yang membuat sang pemain kehilangan sisi humanisnya sebagai manusia.

Beberapa pemain pasti pernah mengalami hal ini, terutama pemain yang terhitung gemar berpindah klub. Ada kala ketika mereka sukses, tapi ada kala juga mereka mengalami masa-masa sulit di perantauan. Hal ini kadang membuat mereka tidak bisa tampil maksimal, karena sisi humanis mereka sudah tidak semurni ketika mereka masih berada di kampung halaman.

Oleh karena itu, mudik ke kampung halaman adalah sesuatu yang kerap para pemain lakukan kala mereka sudah jenuh menghadapi kerasnya dunia di perantauan. Beberapa dari mereka, tak jarang malah menemukan kembali bentuk permainan terbaik mereka saat bermain di kampung halaman mereka sendiri. Contohnya adalah Fernando Torres.

Fernando Torres pernah mengalami hal ini. Ia adalah salah satu pemain berbakat di Spanyol. Hampir semua orang di kampung halamannya, Atletico Madrid, tak ada yang meragukan kapasitasnya. Ia bahkan sudah menjabat posisi sebagai kapten Atletico Madrid saat ia masih berusia cukup muda, yaitu 19 tahun.

Namun ia belum merasa puas. Ia akhirnya memutuskan untuk merantau ke Liverpool. Sukses di Liverpool, ia kembali merantau dengan mencoba peruntungan di Chelsea. Di Chelsea inilah, masa-masa sulitnya sebagai pemain mulai muncul. Seret gol adalah kesulitan tersendiri yang dialami oleh penyerang yang baby face ini, dan hal ini berlanjut kala ia dipinjamkan ke AC Milan.Torres mulai jenuh. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.

Kegamangan yang ia alami di perantauan akhirnya membawanya kembali ke Atletico Madrid, kampung halamannya. Di Vicente Calderon-lah, ia kembali menemukan dirinya. Tempat yang menjadi saksi tumbuh besarnya Torres ini, juga menjadi saksi mulai bangkitnya kembali permainan seorang Torres. Sebuah proses katarsis terjadi di dalam dirinya, membuatnya kembali menjadi manusia setelah masa-masa sulit di perantauan yang sempat mengikis sisi kemanusiaannya.

Beberapa pemain lain pun pernah mengalami proses katarsis setelah ia kembali ke kampung halaman. Ada nama Dirk Kuyt yang bangkit kembali saat pulang ke kampung halamannya di Feyenoord. Ada juga nama Hamka Hamzah dan Zulkifli Syukur, dua nama asal Makassar yang mulai bangkit kembali setelah pulang kampung ke PSM Makassar.

Tapi tak semua cerita tentang pulang kampung ini membuat para pemain menjadi manusia. Contohnya adalah Mario Götze. Walau ia sudah pulang kampung ke Dortmund, ia sampai sekarang masih sulit menemukan sisi humanisnya kembali. Meski begitu, perlahan Mario mulai menemukan kenyamanan, karena selama merantau ke München, ia kerap tidak mengalami kenyamanan tersebut.

Pulang kampung, memang bisa memanusiakan seseorang yang merasakan kerasnya dunia perantauan.

***

Dalam hidup, terkadang manusia tak harus melulu memandang ke depan. Saat saat ini terasa begitu jenuh, tak ada salahnya untuk rehat sejenak, pulang ke kampung halaman, dan mengingat dari mana kita berasal sehingga kita tahu bahwa ada sebuah tujuan di balik hal yang kita lakukan di masa kini. Inilah yang juga coba dilakukan oleh pesepakbola yang memilih untuk mudik ke kampung halaman mereka.

Saat mereka meleng dari tujuan, dan tak kuat menghadapi kerasnya dunia perantauan, pulang ke kampung halaman bisa menjadi opsi yang baik untuk menyegarkan diri. Mengingat kembali dari mana asal kita, serta untuk siapa kita berjuang, akan membuat para pemain tidak meleng dari tujuan mereka, dan ingat untuk siapa mereka berjuang di dunia sepakbola ini.

Karena, sejauh apapun sang pemain melangkah, rumah akan menyambut mereka dengan tangan terbuka ketika kerasnya dunia sudah tidak mampu lagi mereka hadapi.

Baca Juga: Tentang Mudik dan Tommy Oar

foto: @Mister_Pirlo

Komentar