Pahlawan Terlupakan Bernama Isco Alarcon

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi 90578

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Pahlawan Terlupakan Bernama Isco Alarcon

Casemiro boleh jadi menjadi pemain yang paling mengubah nasib Real Madrid pada partai final Liga Champions 2017. Kemampuannya dalam menetralisir serangan Juventus tak perlu diragukan lagi. Ia juga menjadi pemain yang menjatuhkan mental Juventus setelah tendangan jarak jauhnya mengubah skor menjadi 2-1, dan kemudian dua gol Real Madrid menyusul untuk melengkapi kemenangan 4-1.

Namun peran Isco Alarcon pada laga semalam pun tak bisa dilupakan begitu saja. Meski ia tak mencetak gol ataupun asis, pergerakan dan aksinya di lini tengah Real Madrid berhasil membuat Juventus kewalahan di lini tengah. Gelandang berusia 25 tahun ini punya peran besar dalam menjalankan strategi Real Madrid yang menurunkan pola 4-3-1-2.

Sebelum final, pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane, dihadapkan pada pilihan antara memainkan Isco atau penyerang asal Wales, Gareth Bale, di lini depan. Selain karena Bale kebugarannya belum fit 100% dari cederanya, tentu ada alasan khusus mantan gelandang Valencia tersebut dipercaya menyokong Karim Benzema dan Cristiano Ronaldo. Apalagi di skuat Madrid, masih ada nama James Rodriguez, Mateo Kovacic atau Lucas Vazquez.

Isco lantas menjawab kepercayaan Zidane tersebut dengan penampilan impresif. Bermain selama 82 menit, Isco mencatatkan 51 operan dengan tingkat akurasi mencapai 90%. Dua umpan kunci ia catatkan dari total 12 umpan kunci yang dicetak Real Madrid pada laga ini. Dari empat kali upaya melewati lawan, terbanyak kedua di Real Madrid setelah Benzema, tiga kali Isco melewati pemain lawan. Dua tembakan juga dicatatkan oleh pemain bernomor punggung 22 ini.

Pada babak pertama, peran Isco sebenarnya tak begitu terlihat. Namun pada babak kedua, ia mulai lebih sering ikut berperan dalam setiap serangan Real Madrid. Hal ini dikarenakan pada babak pertama Isco lebih menjaga kedalaman di lini tengah menemani Luka Modric, Casemiro dan Toni Kroos. Baru pada babak kedua ia lebih banyak bermain di area pertahanan Juventus.

Isco sejatinya memang merupakan gelandang serang, bahkan second striker ketika ia masih membela Malaga. Namun sejak pindah ke Real Madrid pada 2013, atau lebih tepatnya setelah direkrut oleh Carlo Ancelotti, Isco lebih banyak bermain sebagai deep-playing playmaker. Namun bersama Zidane, Isco bisa menyempurnakan pola 4-3-1-2 ketika Bale cedera.

Pola 4-3-1-2 sendiri sebenarnya merupakan formasi dasar yang kurang familiar bagi Real Madrid. Dari musim ke musim, Los Galacticos selalu bermain dengan pola tiga penyerang baik dalam pola 4-3-3 atau 4-2-3-1. Namun Zidane berhasil membuat para pemain Real Madrid nyaman dengan pola 4-3-1-2 ini.

Zidane yang semasa masih menjadi pemain cukup familiar dengan pola 4-3-1-2, tentu tahu bagaimana seharusnya bermain sebagai gelandang di belakang striker. Bahkan ketika ia membela Juventus, pola inilah yang selalu ia mainkan untuk memberikan enam trofi bagi Si Nyonya Tua.

Pengalaman Zidane bermain sebagai pemain no.10 dalam pola 4-3-1-2 tentu membantu Isco bisa memainkan perannya dengan baik meski awalnya Isco lebih sering bermain di pola 4-2-3-1. Meski tanpa Bale di penghujung musim 2016/2017 ini, Real Madrid tetap mampu meraih kemenangan-kemenangan penting, termasuk dalam perjalanannya meraih gelar La Liga dan Liga Champions.

Pahlawan Terlupakan

Dalam sederet prestasi yang diraih Real Madrid, nama Cristiano Ronaldo, Bale, atau Sergio Ramos lebih sering disebut sebagai pahlawan Real Madrid. Sementara itu, Isco lebih sering menjadi pahlawan yang terlupakan. Padahal, tiga trofi Liga Champions yang diraih Real Madrid diraih setelah dirinya bergabung ke kesebelasan ibu kota Spanyol tersebut.

"Ini adalah gelar Liga Champions ketiga dalam empat musim bagi Madrid dan yang ketiga bagi saya sebagai pesepakbola profesional. Saya tidak pernah memimpikan hal seperti itu dalam hidup saya!" ujar Isco kepada Antena3.

Isco adalah pemain pertama yang didatangkan Ancelotti saat ditunjuk sebagai pelatih Real Madrid pada 2013, ketika itu Zidane menjabat sebagai asisten pelatih. Dengan biaya 30 juta euro, pelatih Italia tersebut percaya bahwa Isco punya kualitas dan kemampuan untuk bisa bersanding dengan nama-nama besar di skuat Real Madrid meski saat itu belum banyak orang yang mengenal Isco, apalagi biaya transfernya cukup mahal.

"Isco adalah pemain fantastis," ujar Ancelotti pada 2013 ketika memperkenalkan pemain bernama lengkap Francisco Roman Alarcon ini seperti yang dilansir ESPNFC. "Ia adalah salah satu pemain yang punya kualitas segalanya. Ia bisa bermain di kesebelasan manapun."

Hal senada diakui oleh Presiden Real Madrid, Florentino Perez. Tak ada keraguan baginya ketika harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk mendatangkan Isco yang ketika itu masih berusia 21 tahun. "Isco adalah salah satu pemain terbaik Spanyol. Dan para staf teknis di sini percaya bahwa kualitasnya layak bermain untuk Real Madrid."

Sejak musim pertama, di tengah-tengah pemain yang lebih populer dibanding dirinya, Isco selalu mendapatkan tempat di skuat Real Madrid. Pada musim pertamanya itu, di usianya yang masih terbilang muda, ia langsung mencatatkan 53 penampilan. Total dalam empat musim, 190 pertandingan sudah dijalaninya, hampir 50 laga per musim.

Isco selalu bisa menjadi pemain yang diandalkan oleh pelatih-pelatih Real Madrid. Jika saat ini ia mampu mengisi kekosongan setelah Bale cedera, ia juga mampu membuat James Rodriguez lebih banyak duduk di bangku cadangan, bermain di posisi sayap dan pernah juga menggantikan peran Kroos dengan baik. "Isco punya positioning yang bagus saat bertahan, kemampuan menyerangnya tidak perlu diragukan lagi. Ia membuktikan diri bisa bermain di posisi ini [posisi Kroos] tanpa masalah apapun."

Isco pun punya catatan menarik selama kiprahnya di Real Madrid. Dalam tiga kali penampilan starternya di partai final, tiga kali juga Real Madrid sebagai juara, yakni ketika ia bermain sejak menit pertama pada Piala Dunia Antar Klub 2014, Copa del Rey 2014, dan Piala Super Eropa 2016. Selain itu, ia juga bermain di final Liga Champions 2014 dan 2016, yang keduanya dimenangkan Real Madrid, meski ia hanya masuk sebagai pengganti.

***

Sejak bergabung pada 2013, Isco diikat selama lima musim oleh Real Madrid. Maka musim panas 2018 kontraknya tersebut akan berakhir. Meskipun begitu, dengan kontribusi besar Isco selama empat musim, penggawa timnas Spanyol ini tampaknya akan segera disodori kontrak baru. Ia pun tak sabar untuk melanjutkan kariernya bersama Real Madrid.

"Saya berharap bisa segera mendapatkan kontrak baru. Tidak ada tempat yang lebih baik dibanding Madrid untuk bermain sepakbola," tukas Isco seperti yang dilansir Goal.

Dengan usianya yang masih 25 tahun, Isco tentu masih menjanjikan bagi masa depan Real Madrid. Apalagi dalam empat musim bersama Real Madrid, Isco mampu membuktikan diri bisa bersaing dengan banyak talenta hebat sekaligus bisa membantu Real Madrid mengukuhkan diri sebagai raja Eropa karena namanya tercatat sebagai pemain yang mengantarkan Real Madrid meraih trofi Liga Champions ke-10, 11 dan 12.

Komentar