Menantikan Romantisme Gareth Bale dengan Stadion Millennium

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Menantikan Romantisme Gareth Bale dengan Stadion Millennium

Bermain di tanah kelahiran bagi seorang pemain adalah hal yang membanggakan. Tapi, Gareth Bale tampaknya akan cukup sulit menorehkan sebuah romantisme jilid II nya di Stadion Millennium, Cardiff.

Stadion Millennium, Cardiff, bukanlah tempat yang asing bagi seorang Bale. Di stadion ini, pada usia 15 tahun, ia pernah menorehkan sebuah kisah yang cukup fenomenal. Membela tim U18 sekolahnya kala itu, Whitchurch High School, Bale menorehkan penampilan yang mengesankan dalam partai final turnamen Cardiff & Vale Senior. Hal itu pun menjadi romantisme jilid I nya bersama Stadion Millennium.

Salah satu gurunya, Gwyn Morris, mengenang masa-masa tersebut. Masa yang ia sebut sebagai masa perpisahan Bale dengan sepakbola masa sekolahnya, untuk bergerak menuju ke arah sepakbola yang sifatnya lebih serius.

"Kemampuan luar biasa Gareth (Bale) terlihat jelas dalam pertandingan terakhirnya untuk sekolah. Saya ingat ketika itu di Stadion Millennium, ia mengalahkan pemain yang berusia tiga tahun lebih tua darinya. Dribel yang ia lakukan, umpan yang ia lakukan, dan serangan yang ia lancarkan menghancurkan pertahanan lawan, seorang diri," kenang Morris seperti dilansir Daily Mail.

"Dari situlah kami sadar bahwa ia adalah pemain yang spesial," tambahnya.

Morris, yang memantau perkembangan Gareth Bale semasa remaja, mengungkapkan bahwa kesukaan Bale akan semua jenis olahraga adalah satu hal yang membantunya mampu tampil baik di dunia sepakbola sekarang ini. Kemampuan atletisnya, sebut Morris, terbentuk dari rajinnya ia mengikuti berbagai jenis olahraga semasa ia masih remaja dulu.

"Ia benar-benar atlet yang luar biasa. Ia bisa dan mau melakoni olahraga jenis apapun semasa dia sekolah dulu. Cross country, atletik, hoki, rugby, dan sepakbola. Demi sekolah, ia mau bermain olahraga apapun. Ia bahkan sampai menekuni cross country, olahraga yang berat secara mental dan fisik untuk anak seusianya ketika itu. Situasi sulit itu menempa dirinya," ujar Morris.

Setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Whitchurch, Bale pun langsung melanglang ke Inggris. Pada usia 16 tahun, tepatnya pada 17 April 2006, Bale memulai karier sepakbola profesionalnya bersama Southampton. Sekarang, 11 tahun berselang setelah debut tersebut, Bale sudah bertransformasi menjadi pemain kelas dunia bersama Real Madrid. Ia bahkan dapat mengantarkan timnas Wales melangkah sampai babak semifinal Piala Eropa 2016 dan mengantarkan Madrid dua kali meraih trofi Liga Champions.

Lama melanglang buana di luar Wales, harapan masyarakat Wales menyaksikan Bale secara langsung di tanah Wales pun muncul setelah Madrid lolos ke babak final Liga Champions 2017. Partai yang rencananya akan dihelat di Stadion Millennium ini akan menjadi romantisme tersendiri bagi Bale. Pada saat remaja, ia pernah punya kenangan manis di sini. Jika hal yang sama kembali terulang, bukan tidak mungkin akan muncul romantisme Bale dan Stadion Millennium jilid II.

Namun, romantisme jilid II Bale yang menjadi salah satu tajuk utama partai final Liga Champions 2017 ini tampaknya bakal urung terjadi. Kondisi Bale yang masih belum 100% fit usai mengalami cedera dalam laga El Clasico melawan Barcelona pada 23 April 2017 silam adalah salah satu penyebabnya. Ia pun tampak pasrah menerima apapun keputusan Zidane soal diturunkan atau tidaknya dirinya pada partai final nanti.

“Saya baik-baik saja, tidak ada masalah. Namun, saya belum 100% pulih sejak saya menjalani operasi engkel. Saya juga belum bermain selama enam atau tujuh minggu. Saya telah bermain dengan rasa sakit, bahkan ketika saya pulang saya tetap harus meminum obat untuk bisa melewati latihan,” ungkap Bale seperti dilansir France 24.

“Anda ingin segera kembali bermain. Jika saya lihat lagi, saya seharusnya menepi sedikit lebih lama untuk pemulihan cedera saya. Tentu saya akan belajar dari cedera saya dan siap tampil kapanpun dibutuhkan. Jika saya harus bermain dari bangku cadangan, maka akan seperti itulah saya memberikan kontribusi. Apapun yang terbaik untuk klub, saya akan ikuti,” tegasnya.

Meski mengungkapkan bahwa ia belum berada dalam kondisi terbaiknya, nama Bale tetap dicantumkan oleh Zidane dalam 25 pemain yang ia bawa ke Cardiff untuk menghadapi partai final Liga Champions menghadapi Juventus. Zidane mengungkapkan bahwa Bale, meski masih belum fit, kondisinya sudah siap untuk dimainkan.

"Saya senang melihatnya (Bale) dalam kondisi bagus dan terus pulih. Kami akan mempersiapkan diri menghadapi pertandingan ini bersama-sama seperti biasanya. Kami siap menghadapi laga nanti. Bale tak perlu mengatakan apapun. Ia dalam kondisi siap. Bale memiliki harapan besar untuk bermain di negaranya. Ia punya motivasi tinggi dan itulah hal yang sangat penting bagi kami," ucap Zidane seperti dilansir AS.

Romantisme jilid II Bale bisa saja terjadi di Cardiff nanti, lagi pula stadion ini menjadi tempat ia pernah menorehkan memori manis ketika ia masih remaja. Namun itu semua tergantung dari Zidane sendiri, apakah ia akan memainkan Bale atau tidak, apalagi selama Bale tidak main, Isco mampu tampil brilian bersama Real Madrid.

Belum lagi lawan mereka, Juventus, tentu bukan lawan yang dengan mudah akan membiarkan romantisme Bale jilid II ini terjadi di Stadion Millennium kelak. Selain harus menghadapi cedera yang ia alami, Bale pun harus menaklukkan Juventus, sama seperti ketika ia menaklukkan lawannya yang berasal dari sekolah lain untuk meraih trofi pada masa remaja dulu. Baru jika semua itu bisa dilakukan, romantisme Bale dan Stadion Millennium jilid II akan terjadi.

Komentar