18 Tahun Penantian Feyenoord untuk Mengangkat Trofi

Cerita

by redaksi 32184

18 Tahun Penantian Feyenoord untuk Mengangkat Trofi

Sejak tahun 2000-an, Ajax Amsterdam dan PSV Eindhoven selalu bersaing dalam perebutan gelar juara Eredivise Belanda. Kedua kesebelasan tersebut selalu bergantian menempati posisi puncak klasemen di akhir musim, yang artinya mendaulat diri sebagai juara Eredivise. Meski pada tahun 2008 dan 2009 FC Tweente dan AZ Alkmaar sempat mengganggu dominasi keduanya, namun kembali setelah itu PSV dan Ajax mencatatkan namanya sebagai yang terbaik di kompetisi utama sepakbola Belanda itu.

Namun memasuki musim 2016/2017, Ajax dan PSV harus beristirahat dalam persaingan perebutan juara di kompetisi. Sebab pada musim ini, Feyenoord Roterdam-lah yang berhasil menjadi jawara Eredivise. Di daftar klasemen akhir, perjuangan Feyenoord untuk mengangkat trofi memang tidak semudah yang dilakukan Bayern Muenchen di Liga Jerman. Penentuan gelar juara di Eredivise harus ditentukan hingga pekan ke-34, atau pekan terakhir kompetisi.

Selisih poin antara tim papan atas Liga Belanda tidak berbeda jauh. Feyenoord misalnya, mereka berhasil meraih juara setelah unggul satu poin saja dari Ajax Amsterdam di posisi dua. Kesebelasan berjulukan De club aan de Maas itu finis di urutan pertama dengan 82 poin, sementara Ajax 81 poin. Dramatis memang perebutan gelar juara Liga Belanda musim ini.

Keberhasilan Feyenoord sebagai jawara musim ini menjadi pencapaian terbaik yang pernah mereka torehkan dalam 18 tahun terakhir. Maklum, kali terakhir mereka mengangkat trofi Eredivise adalah pada tahun 1998/1999. Saat itu, pesaing terdekat mereka adalah Willem II Tilburg.

Kuyt, pemain gaek yang membungkam keraguan

Kepastian Feyenoord menjadi juara Eredivise musim ini tak terlepas dari keberhasilan mereka menumbangkan Heracles Almelo 3-1 pada pertandingan terakhirnya. Dalam laga tersebut, Dirk Kuyt menjadi pahlawan kemenangan Feyenoord dengan tiga gol yang berhasil ia sarangkan. Uniknya, itu adalah hat-trick satu-satunya di musim ini.

Lebih dari pada itu, Kuyt memang menjadi salah satu sosok sentral keberhasilan Feyenoord meraih gelar juara musim ini. Mantan penyerang timnas Belanda itu hampir selalu tapil dalam setiap pertandingan yang dilakoni Feyenoord di kompetisi domestik. Tercatat, 31 penampilan dibukukannya musim ini. Ia, tercatat hanya absen dalam tiga pertandingan saat Feyenoord tampil melawan AZ Alkmaar, PSV Eindhoven, dan Vitesse Arnhem.

Dari 31 penampilan itu, Kuyt berhasil mencetak 12 gol. Torehan yang sepatutnya menjadi pujian baginya di usianya yang saat ini hampir menginjak 37 tahun. Tercatat dalam skuat Feyenoord musim ini, Kuyt menjadi pemain tertua, yang kemudian disusul oleh Brad Jones yang berusia 35 tahun.

Keberhasilan Kuyt dalam usahanya membawa Feyenoord sebagai kesebelasan terbaik di Belanda musim ini adalah ungkapan membungkam keraguan yang sempat dialamatkan kepadanya saat kali pertama kembali ke Feyenoord dua tahun lalu.

Saat itu, Kuyt mendapat serupa cemoohan dari publik sepakbola Belanda saat ia mengatakan bisa membawa Feyenoord merebut gelar juara Eredivisie. Wajar bila saat itu banyak yang mengganggap keinginan Kuyt hanyalah harapan utopis semata.

Sebab, sulit rasanya bagi Feyenoord kala itu untuk menggeser dominasi Ajax yang dominan dengan empat gelar beruntun yang diraih dari tahun 2011 hingga 2014, yang kemudian dilanjutkan dominasi PSV yang meraih dua gelar beruntun dari tahun 2014 hingga 2016.

“Saya ingat saat saya bicara bahwa kami bisa memenangkan piala, kemudian semua orang menertawakan saya saat saya mengatakannya,” ungkap Kuyt seperti dikutip dari Reuters.

Melihat pencapaiannya sebagai seorang pemain, Kuyt terbilang salah satu produk terbaik Belanda dengan berbagai pencapaian yang pernah ia dapatkan. Kuyt pernah bermain di final Liga Champions 2009, saat masih berseragam Liverpool. Ia juga pernah tampil di final Piala Dunia 2010 bersama Belanda. “Tapi inilah saat terbaik dalam karier saya, karena saya bisa mengangkat trofi,” tegasnya.

Gelar pertama Van Bronckhorst sebagai pelatih

Keberhasilan Feyenoord meraih gelar juara di Eredivise tidak hanya menjadi momen spesial bagi Kuyt, terkhusus bagi Giovani van Bronckhorst, gelar tersebut juga menjadi spesial dalam perjalanan kariernya sebagai pelatih.

Setelah memutuskan pensiun sebagai pemain pada tahun 2010, Gio mencoba melanjutkan karier sebagai seorang pelatih. Memulai dengan menjadi asisten di timnas Belanda U21, kemudian ia melakoni peran yang sama di Feyenoord pada tahun 2011. Selama empat tahun menjabat sebagai asisten, ia kemudian dipercaya untuk menukangi tim pada tahun 2015.

Pencapaiannya di musim pertama sebagai pelatih Feyenoord tidak terlalu mengecewakan. Gio mampu menempatkan tim di posisi tiga besar. Meski secara raihan poin ada gap yang terlalu besar dengan Ajax yang berada di posisi dua, namun pencapaian itu terbilang luar biasa bagi Gio. Pada musim keduanya, Gio akhirnya berhasil membawa Feyenoord sebagai juara.

Tantangan bagi Gio akan semakin berat pada musim depan, sebab selain tantangan untuk menjaga konsistensi di kompetisi domestik, secara tidak langsung juga untuk kali pertama ia akan mencicipi sengitnya persaingan Liga Champions sebagai seorang pelatih. Kesan berbeda tentu akan ia alami dibandingkan 10 tahun lalu, saat ia masih aktif bermain di Barcelona.

(SN)

Komentar