Proses Pembentukan Budaya Itu Bernama Pembinaan Usia Muda (Bagian 2)

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Proses Pembentukan Budaya Itu Bernama Pembinaan Usia Muda (Bagian 2)

Budaya, seperti halnya dalam teori mitos yang diujarkan oleh Roland Barthes, adalah sesuatu yang bisa dibentuk dalam waktu yang cukup lama dan melalui proses yang berulang-ulang. Ia berawal dari sebuah kepercayaan, yang pada akhirnya membentuk sebuah kebiasaan yang mengakar di masyarakat. Ini tercermin juga dalam pembinaan usia muda yang dilakukan Persebaya.

Saat itu siang menjelang sore di Surabaya. Mes pemain Persebaya yang terletak di Karanggayam tampak sepi. Tak ada aktivitas yang terlalu mencolok terjadi di sana. Hanya ada beberapa pekerja yang sedang mengerjakan sesuatu, melakukan proses renovasi mes yang katanya akan membuat mes jadi lebih nyaman ditinggali oleh para pemain. Setidaknya itu yang Koesnadi dan rekannya dengar dari penjaga mes yang terlihat sudah seusia dengan bapak penjaga komplek di wilayah Buah Batu, Bandung, tempat Koesnadi tinggal.

Koesnadi dan rekannya pun memutuskan untuk masuk ke dalam setelah meminta izin untuk sekadar melihat-lihat, mendokumentasikan, serta membuat rekaman dari lemari-lemari trofi dan foto-foto skuat yang terpajang di ruang tengah mes. Banyak sekali trofi, penghargaan, serta foto-foto yang terpasang di sana, bahkan ada yang sudah sejak tahun 1960-an silam. Di sana juga terpajang jersey legenda milik almarhum Eri Irianto, sang pemilik cannon ball yang dipensiunkan oleh manajemen Persebaya.

Selang beberapa lama, Koesnadi dan rekannya mendengar teriakan-teriakan dari arah belakang mes. Terdengar seperti ada yang sedang asyik bermain sepakbola di belakang sana. Koesnadi dan rekannya pun bergegas menuju ke belakang mes, lalu terlihatlah sebuah pemandangan yang cukup menyejukkan baginya. "Oh, ada yang sedang bermain bola, rupanya," ujarnya dalam hati.

Saat sedang tekun menikmati pemandangan tersebut, Koesnadi dan rekannya pun dikejutkan oleh suara bapak-bapak yang sudah berdiri cukup lama di belakang mereka. "Bagaimana, Mas, sudah puas lihat-lihatnya?"

Mereka pun terkaget, dan memerhatikan sosok bapak tersebut sejenak. Bapak yang mengenakan topi, baju polo shirt berwarna merah dengan kerah polo nya yang hitam, serta mengenakan celana panjang bahan katun warna hitam. Dari wajahnya yang terlihat mulai digerogoti keriput, Koesnadi memprediksi bahwa bapak ini sudah cukup berumur, sekaligus paham betul dengan seluk-beluk mes ini serta cerita apa saja yang sudah terjadi di dalamnya.

Berawal dari keterkejutan, akhirnya pertemuan Koesnadi dan rekannya dengan si bapak yang bernama Mariono ini berlanjut kepada sebuah obrolan ringan namun sarat dengan kenangan. Pak Mariono, yang merupakan bagian dari Divisi Pembinaan Usia Muda Persebaya, saat itu kebetulan juga sedang memantau para pemain muda yang sedang bermain di lapangan belakang mes. Lapangan tersebut bernama Lapangan Persebaya ternyata. Ia bercerita banyak hal soal pembinaan pemain usia muda di Persebaya, dulu dan sekarang.

Pembinaan usia muda Persebaya dan hasilnya

Teriakan dan sahut-sahutan anak-anak masih terdengar begitu jelas dari arah lapangan Persebaya. Saat Koesnadi dan rekannya sedang berbincang ringan dengan Pak Mariono, di lapangan itu sedang diadakan uji tanding yang mempertemukan tim Persebaya U14 melawan salah satu tim junior dari kesebelasan internal Persebaya. Pertandingan berjalan menarik, dengan teriakan dari anak-anak yang menggema membelah lapangan yang serupa dengan Mini Estadi yang terletak di Barcelona sana.

Percakapan bersama Pak Mariono berjalan hangat. Bapak yang Koesnadi taksir usianya sudah mencapai angka 50 tahun ini berkisah panjang lebar tentang pembinaan usia muda di Persebaya yang melibatkan kesebelasan internal yang awalnya 30 kesebelasan. Sekarang, kompetisi internal Persebaya hanya menyisakan 20 kesebelasan (konon 10 kesebelasan yang tersisa menyeberang ke tim sebelah).

Pak Mariono, beserta dengan tim Divisi Pembinaan Usia Muda Persebaya, bahkan berencana untuk membentuk tim yang akan dikirim ke Liga 3 (Liga Nusantara) bernama Kota Pahlawan Surabaya. Tim ini kelak diproyeksikan menjadi Kawah Chandradimuka bagi pemain muda sebelum akhirnya mereka kelak direkrut oleh tim senior Persebaya.

"Jadi, di Persebaya sekarang ini ada 20 klub anggota yang sedang berkompetisi, bahkan sudah berlangsung selama setengah musim putaran. Kita ini, kan, 20 klub, kalau tiap klub rata-rata ada 22 pemain, sudah ada banyak stok pemain. Mereka berproses di klub masing-masing, tinggal kita memfasilitasi dengan pertandingan, mereka pun terpantau oleh kami. Ada sebuah jenjang proses yang dilalui pemain-pemain kami, bahkan sejak mereka masih berusia 12 tahun."

"Untuk memasok pemain bagi tim Persebaya, kami sudah siapkan tim untuk berkompetisi di Liga 3 (Linus), namanya Kota Pahlawan Surabaya. Belum, tim ini belum berkompetisi di Liga 3. Kebetulan sudah diseleksi dan mengerucut ke 35 pemain, memang jenjang kita ke sana. Jadi anak-anak ini diharapkan masuk di Liga 3, di amatir dulu, nanti sudah sekian tahun berproses dan kalau cocok, bisa dinaikkan ke tim senior tergantung dari kebutuhan pelatih nantinya," ujarnya.

Suara anak-anak pun kian menggema ketika tim Persebaya U14 sukses mencetak gol dalam pertandingan yang sedang berlangsung di lapangan tersebut. Saat sang anak sudah mencetak gol, Pak Mariono seolah tidak mau kalah. Ia menyebutkan pemain-pemain hasil binaan kesebelasan internal yang sudah kembali ke Persebaya ataupun masuk skuat tim senior di kesebelasan lain.

"Banyak produk hasil kesebelasan internal ini dipakai oleh klub-klub lain, termasuk Andik (Vermansyah) dan Evan (Dimas). Ada juga nama Prasetyo Handoko, Mohamad Erfan, tapi ada juga produk Persebaya yang banyak berproses di luar. Ada Oktaviano Fernando, ada (Sidik) Saimima, ada juga Rahmat Irianto, itu juga produk-produk lokal Persebaya. Angga Febryanto juga produk Persebaya yang berproses di luar, pernah masuk tim Danone," ujarnya dengan bangga.

Koesnadi terhenyak. Sesaat dia merasa bahwa dia pernah mendengarkan perkataan yang sama dengan yang Pak Mariono katakan dari orang lain. Oh ya, Pak Totok Risantono yang pernah dia temui pada suatu sore di Tambaksari juga mengucapkan hal yang mirip. Selain berbicara tentang kekecewaannya atas Persebaya zaman sekarang, Pak Totok juga mengungkapkan sesuatu tentang banyaknya pemain binaan Persebaya yang banyak menjadi pemain-pemain inti, baik itu di kesebelasan lain maupun sudah pulang ke Persebaya lagi.

"Hasil kompetisi Persebaya yang ada di luar itu banyak, seperti Dimas Galih, Syaifudin, itu semua produk internal Persebaya. Ada Sidik Saimima, Rahel (pemain Persegres), ada juga Fandi Eko Utomo, itu semua hasil produk Persebaya. Belum lagi ditambah Evan Dimas, Andik Vermansyah, sama Andika Rama. Tradisi memproduksi pemain memang sudah berjalan sejak dahulu," ujar Pak Totok.

Persebaya memang gudangnya pemain berbakat sepertinya, gumamnya dalam hati.

lanjut ke halaman berikutnya

Komentar