Bangkrut Empat Kali Tak Membuat SPAL Putus Asa ke Serie A

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi 58421

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Bangkrut Empat Kali Tak Membuat SPAL Putus Asa ke Serie A

Musim 2017/2018 Serie A Italia kemungkinan besar akan kedatangan pendatang baru bernama SPAL 2013. Nama SPAL tentu cukup asing. Cukup wajar memang, karena terakhir kali mereka berlaga di Serie A adalah pada musim 1968. Ini artinya, kesebelasan asal kota Ferrara ini sudah tak mencicipi divisi teratas Italia sekitar setengah abad.

Pada musim 2016/2017, SPAL memang tampil di luar dugaan di Serie B, divisi dua Italia. Saat artikel ini ditulis, kesebelasan berjuluk Biancazzuri ini sedang memuncaki klasemen Serie B. Dari 39 pertandingan, mereka sudah mengumpulkan 74 poin, unggul delapan poin dari Hellas Verona yang baru menjalani 38 pertandingan.

Di Serie B musim ini sendiri, kesebelasan yang diprediksi bakal promosi ke Serie A adalah kesebelasan-kesebelasan yang sebelumnya terdegradasi dari Serie A seperti Hellas Verona, Frosinone, dan Carpi. Hal ini dikarenakan skuat ketiga kesebelasan tersebut masih diperkuat oleh sejumlah pemain top level Serie A.

Di Verona misalnya, mereka dipimpin oleh mantan penyerang AC Milan, Giampaolo Pazzini. Selain Pazzini, Verona juga diperkuat oleh Romulo, Eros Pisano, Ferdinando Coppola, Nicolo Cherubin, Alex Ferrari, Juanito Gomez, dan pemain pinjaman dari Manchester City, Bruno Zuculini.

SPAL juga berbeda dengan kebanyakan kesebelasan Serie B lainnya. Dari 25 pemain yang mereka miliki, semuanya merupakan pemain Italia. Di Serie B, SPAL adalah satu-satunya kesebelasan yang tidak menggunakan pemain yang berasal dari luar Italia.

Jika berhasil lolos ke Serie A, tentu hal tersebut sudah menorehkan prestasi tersendiri. Apalagi jika melihat perjalanan mereka sejak awal dibentuk 1907 atau 110 tahun yang lalu, krisis finansial seringkali menerpa SPAL sehingga harus dinyatakan bangkrut berkali-kali.

Tak heran sebenarnya SPAL selalu didera krisis finansial. SPAL merupakan singkatan dari Società Polisportiva Ars et Labor, atau Persatuan Klub Olahraga Para Buruh. Sejak awal terbentuknya, mereka hidup dari kalangan para buruh.

Hingga 110 tahun usianya, tercatat SPAL pernah dinyatakan bangkrut sebanyak empat kali. Kebangkrutan pertama terjadi pada 2005. Dinyatakan bangkrut, SPAL memulai kembali dari Serie D, dengan nama baru yakni SPAL 1907. Namun SPAL 1907 kesusahan untuk menunjukkan eksistensi mereka di kancah sepakbola Italia karena hanya mampu bersaing di Serie C. Akhirnya SPAL 1907 kembali bangkrut pada 2012.

Kebangkrutan kedua membuat SPAL kembali berubah nama, yang pada musim 2012/2013 menggunakan nama Real SPAL. Namun baru satu musim di Serie D, mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa manajemen baru pun kesulitan memiliki bisnis yang baik sehingga harus kembali bangkrut.

Namun di akhir musim 2012/2013 tersebut, sang pemilik klub, Roberto Benasciutti, berusaha sekuat tenaga untuk membuat SPAL agar bisa terus berlaga di sepakbola Italia. Hingga akhirnya ia bertemu dengan keluarga Colombarini yang merupakan pemilik klub Serie D lainnya yaitu AC Giacomense. Saat itu Giacomense sendiri selalu kesulitan menjalani liga terus berkutat di papan bawah.

Pertemuan antara Benasciutti dan keluarga Colombarini akhirnya memutuskan bahwa Real SPAL dan Giacomense melakukan merger. Dengan negosiasi alot, Giacomense-lah yang mengalah sehingga gabungan kedua kesebelasan ini tidak menggunakan sejarah Giacomense, melainkan menggunakan sejarah SPAL karena SPAL berdiri lebih lama dari Giacomense yang baru terbentuk pada 1967, lebih muda 50 tahun dari SPAL. Nama baru pun didapatkan, yaitu SPAL 2013.

Namun di SPAL 2013 ini, Benasciutti tak lagi menjadi pemilik klub. Pemilik klub SPAL 2013 dipimpin oleh presiden klub Giacomense sebelumnya yaitu Walter Mattioli. Mattioli sendiri sedari awal mengatakan bahwa negosiasi antara kubu Real SPAL dan Giacomense memang berjalan sangat alot.

Ternyata hasil merger ini menjadi kolaborasi yang luar biasa. Karena sejak saat itu, SPAL terus menapaki tangga promosi. Di musim pertamanya di Serie D, mereka langsung naik ke Serie C melalui play-off. Di Serie C, mereka nyaris langsung promosi ke Serie B pada musim pertamanya, namun kalah di babak play-off. Baru pada musim kedua akhirnya SPAL promosi otomatis ke Serie B karena berhasil menjuarai Serie C2 alias Girone B. Pencapaian yang luar biasa karena terakhir kali SPAL berlaga di Serie B adalah pada musim 1992/1993.

Kini, SPAL pun berada di ambang keberhasilan mereka promosi ke Serie A pada musim pertamanya di Serie B. Keberhasilan ini tak lepas dari kejelian mantan pelatih tim muda Fiorentina, Leonardo Semplici, dalam merekrut pemain. Dalam skuat SPAL saat ini terdapat beberapa pemain muda berbakat seperti Alex Meret (Udinese) dan Gianmarco Zigoni (AC Milan).

Dari pemain senior, pemain yang berhasil meningkatkan kualitas SPAL adalah Sergio Floccari, Michele Cremonesi, dan Mirco Antenucci. Nama terakhir merupakan pemain yang dipinjam dari Leeds United yang kemudian menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan 17 gol dari 33 pertandingan, di bawah Pazzini yang menjadi top skorer Serie B dengan 23 gol.

SPAL kini hanya membutuhkan satu kemenangan untuk memastikan tiket lolos ke Serie A. Dari tiga laga tersisa, kesempatan tersebut sangat terbuka karena lawan terkuat mereka hanya Bari yang menanti mereka di pekan terakhir. Dua sisanya adalah Pro Vercelli dan Ternana. Pro Vercelli saat ini menempati peringkat 15, sementara Ternana di posisi 20. Tampaknya kita memang hanya tinggal menunggu waktu SPAL berhasil menggenggam tiket Serie A mereka, yang mereka nantikan sejak 50 tahun lalu.

Komentar