Anomali Sepakbola Indonesia Dalam Kisah Mat Halil dan Ugik Sugiyanto

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Anomali Sepakbola Indonesia Dalam Kisah Mat Halil dan Ugik Sugiyanto

Mat Halil dan Ugik Sugiyanto hanya sebuah anomali di sepakbola Indonesia sekarang. Ketika seorang Christian Gonzales masih sanggup bermain sampai usia 40an, Halil dan Ugik malah harus mengakhiri kariernya lebih cepat.

Sebelumnya, regulasi Liga 2 yang menyebut bahwa pemain berusia maksimal 35 tahun dilarang bermain untuk klub membuat beberapa pemain akhirnya harus pensiun lebih dini. Mat Halil dan Ugik adalah dua orang yang merasakan dampak langsung dari regulasi tersebut. Mereka akhirnya harus pensiun dini dari klub yang mereka bela sekarang, saat sebenarnya kedua pemain tersebut memiliki andil yang cukup besar bagi klub yang mereka bela.

Sungguh, kisah mereka berdua adalah anomali sepakbola Indonesia yang (katanya) sedang bergerak menuju ke arah yang lebih maju dan lebih baik.

Mat Halil, Legenda Persebaya yang Harus Pensiun Lebih Cepat

Bicara tentang Persebaya, tak afdol rasanya jika tidak membicarakan Mat Halil. Bersama dengan Anang Ma`ruf, Bejo Sugiantoro, serta Uston Nawawi, ia adalah produk asli binaan Persebaya. Halil sendiri sudah memperkuat Persebaya sejak 1999 silam. Ia juga adalah bagian dari skuat Persebaya saat menjuarai Liga Indonesia 2004 silam.

Kecintaannya kepada Persebaya amatlah besar. Saat Bajul Ijo dilanda kasus dualisme dan sempat vakum dari kompetisi Liga Indonesia, ia tidak pernah berpindah klub. Ia tetap setia pada Persebaya. Walau harus berganti seragam, ia hanya melakukannya sekali, yaitu ketika ia berseragam Persida Sidoarjo pada Divisi Utama 2014 silam.

"Mulai 1999 saya main di Persebaya. Saya cuma pindah sekali ke Persida waktu Divisi Utama 2014 karena Persebaya saat itu sedang dimatikan. Selain 2014, saya tetap bermain untuk Persebaya," ujar Halil ketika dihubungi oleh panditfootball.

Kesetiaannya kepada Persebaya, sampai akhirnya Bajul Ijo bisa kembali berkompetisi secara resmi di Liga 2, akhirnya harus bertepuk sebelah tangan. Sebuah regulasi dari otoritas akhirnya memaksanya untuk lepas dari klub yang begitu ia cintai. Ia harus pensiun dini di saat ia sebenarnya merasa masih bisa bermain untuk klub yang ia kagumi sedari kecil.

"Ya, sebenarnya saya kecewa, mas.Tapi saya harus berbesar hati (pensiun dini). Padahal secara pribadi, Inshaa Allah saya masih siap mas untuk bersaing dengan para pemain lain di tim, termasuk pemain muda. Sebenarnya kan yang seharusnya nentuin pensiun itu pemain sendiri. Kalau udah nggak mampu ya, pensiun mas bukan karena batasan usia," ungkapnya.

Keluarnya Halil ini pun adalah hal yang cukup berat bagi manajemen. Tapi karena kepatuhan terhadap regulasi yang sudah disepakati bersama, akhirnya mereka pun harus memensiunkan Halil lebih dini.

"Ini sudah menjadi keputusan bersama. Harus dijalankan," ujar Direktur Tim Persebaya, Chandra Wahyudi seperti dilansir Detiksport.

Ugik Sugiyanto dan Balas Budi yang Belum Selesai

Lain kisah Halil, lain pula kisah Ugik. Ugik memang tidak seperti Halil yang setia tampil untuk satu klub (pindah hanya sekali). Selama berkarier sebagai pesepakbola, Ugik Sugiyanto pernah membela banyak klub di Indonesia. Tapi bukan berarti ia tidak menolehkan cerita manis bersama klub yang ia bela. Salah duanya adalah Persiba Bantul dan PSCS Cilacap.

Bersama Persiba Bantul, ia berhasil meraih gelar juara Divisi Utama pada musim 2010/2011, satu tim dengan Wahyu Wijiastanto, pemain yang pernah menjadi bagian dari timnas Indonesia dalam ajang Piala AFF 2012. Sedangkan bersama PSCS, kisahnya lebih manis lagi.

Pernah masuk daftar hitam PSCS karena melanggar kesepakatan kontrak, Ugik pun berhasil membayar dosanya tersebut dengan mempersembahkan gelar ISC B bagi PSCS pada 2016 silam. Ia juga berhasil meraih gelar Pemain Terbaik ISC B 2016 saat itu.

Namun, roda begitu cepat berputar. Belum selesai ia ingin membalas budi kepada PSCS, Ugik harus rela dirinya pensiun lebih dini karena regulasi. Usianya yang sudah memasuki 36 tahun membuatnya harus menepi dari tim PSCS untuk Liga 2 ini. Tak tinggal diam, Ugik pun meminta bantuan APPI dan sudah mengurus masalah ini bersama APPI ke Jakarta.

Bismillah

Sebuah kiriman dibagikan oleh Ugiex Sugianto (@ugiex_22) pada

Hal ini sebenarnya cukup disayangkan oleh manajer dan pelatih tim PSCS. Manajer tim, Bambang Tujiatno, sebenarnya sudah memperjuangkan agar regulasi pembatasan usia ini bisa berubah. Tapi ia gagal melakukannya.

"Yang kena regulasi hanya Ugik. Yang lain masih bisa masuk," ujar Bambang seperti disitat dari Suara Merdeka.

Pelatih PSCS, Gatot Barnowo pun merasa kehilangan sosok yang ia anggap pemimpin sekaligus penyerang tajam bagi PSCS. Tapi ia pun tidak mau terlalu larut dalam kesedihan karena ia ingin PSCS tidak tergantung pada satu pemain saja.

"Menggantikan Ugik, mungkin yang lain akan saya latih, agar di kompetisi nanti bisa tampil sesuai harapan," ujarnya.

*

Menjelang bergulirnya Liga 2, PT Liga Indonesia Baru yang menjadi operator liga bersama PSSI mengadakan manajer meeting dengan manajer-manajer tim Liga 1 dan Liga 2 tadi malam, Rabu (5/4). Diputuskan jika pada akhirnya bahwa setiap tim Liga 2 boleh memiliki dua pemain di atas 35 tahun.

Dengan keputusan ini, Mat Halil dan Ugik bisa kembali bermain. Meskipun begitu, Mat Halil masih belum mengetahui soal hal ini. Ia pun belum mengambil keputusan untuk menunda pensiunnya setelah adanya revisi aturan di Liga 2 ini. "Belum bisa memutuskan. Saya mau rundingkan dulu sama keluarga soal ini," ketika kami hubungi Kamis pagi tadi.

Komentar