Akhir Karanka di Middlesbrough

Cerita

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng!

Akhir Karanka di Middlesbrough

"0011010100". Angka apakah itu? Angka tersebut adalah angka yang membuat Aitor Karanka dipecat dari jabatannya sebagai manajer Middlesbrough. Sebelum saya menjelaskannya, kita bisa menyimak terlebih dahulu perjalanan Karanka bersama dengan The Boro di Liga Primer Inggris musim ini.

Perdamaian di situasi internal Middlesbrough menjadi salah satu kunci Karanka untuk membawa kesebelasan tersebut promosi ke Liga Primer 2016/2017. Tapi konflik kembali terjadi dengan dewan kesebelasan karena Karanka dikecewakan pada bursa transfer Januari 2017. Saat itu, Karanka masih kurang puas dengan kedatangan empat pemain baru untuk menghindarkan Middlesbrough dari zona degradasi. Kedatangan empat pemain tersebut dianggap tidak sebanding dengan keinginannya untuk mendatangkan Bojan Krkic, Jese Rodriguez, Gerard Deulofeu, dan Robert Snordgrass.

Karanka sempat mengungkapkan bahwa pihak kesebelasan tahu pemain-pemain yang ia inginkan sesungguhnya. Ia juga sudah mengatakan tujuannya di bursa transfer Januari untuk memperbaiki skuatnya. Middlesbrough sendiri belum pernah menang sejak Natal 2016 sehingga gaya permainan Karanka terus dikritik.

Sementara Karanka sendiri tidak tahu mengapa kesebelasan tidak bisa mendatangkan target yang sesungguhnya. Skuatnya saat ini dianggap Karanka tidak memiliki banyak pengalaman bermain di Liga Primer Inggris. Satu-satunya yang bisa dilakukan mantan asisten pelatih Real Madrid itu hanyalah percaya kepada para pemainnya di lapangan.

Ya, Karanka sendiri selalu menunjukkan kepercayaannya itu ketika memimpin kesebelasannya di pinggir lapangan. Ia selalu berteriak kepada para pemainnya "ayolah, ayolah, ayolah!" atau "Kita butuh mencetak gol. Ketika kita mendapatkan kesempatan, kita harus mengambilnya", bahkan bisa lebih spesifik lagi seperti teriakannya kepada Adama Traore, "Adama, jika kau kalah di sini, kita mati!", dan saat skuatnya mampu mencetak gol, Karanka akan bersorak memakai bahasa Spanyol "Eso es! (Ini dia!)," teriaknya bahagia.

Karanka terus memiliki inisiatif untuk percaya kepada skuatnya. Kepercayaan lain kepada Middlesbrough sebetulnya lebih besar karena ia selalu ramah kepada seluruh elemen kesebelasan tersebut, bahkan untuk berbaur dengan petugas di kantin sekalipun. Pergaulannya itu membuat Karanka memiliki banyak teman di Middlesbrough. Ia juga tipikal manajer yang membebaskan para pemainnya. Tidak seperti Mauricio Pochettino yang mewajibkan para pemainnya makan bersama-sama.

Karanka juga tidak menuntut para pemainnya menjalani diet. Kelonggaran itu dilakukan karena Karanka tidak ingin memperlakukan para pemainnya seperti anak kecil.

Sebetulnya Karanka adalah manajer memerhatikan teknologi. Di Middlesbrough, ia mengembangkan perangkat lunak yang disebut 3D Futbol Tactico Coach seperti Josep "Pep" Guardiola. Setiap sebelum pertandingan, Karanka menerima 80 halaman analisis skuat dan lawannya. Ketebalan laporan itu pun diringkas menjadi sebuah presentasi video berdurasi sekitar 15 menit untuk skuatnya, kemudian diberikan kepada masing-masing pemainnya agar menganalisis lawannya selama dua hari. Salah satunya Alvaro Negredo yang sering diberi analisis ketika mengatasi situasi satu lawan satu.

Gambaran itu diberikan bukan untuk menang atau kalah, namun untuk menunjukkan betapa giatnya Karanka membimbing para pemainnya sebelum bertanding. Bahkan Traore dikhususkan menganalisis video di kantor pribadi Karanka. Manajer asal Spanyol itu memiliki harapan besar kepada Traore. Kurang kontributif dalam membantu pertahanan adalah sorotan kepada pemain jebolan La Masia Barcelona tersebut. Tidak hanya Traore, pintu kantor Karanka selalu terbuka bagi siapapun pemainnya yang ingin terbuka kepadanya. Di balik kantornya itu, Karanka juga sering menikmati rasa sakitnya sendiri karena tidak ingin menunjukan kepada para pemainnya.

"Saya memahami rasa frustasi karena saya juga ingin memenangkan setiap pertandingan dengan skor 5-0. Jika saya melatih Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Mesut Ozil, dan Dele Alli, mungkin kami akan melakukan itu," imbuh Karanka seperti dikutip dari Daily Mail.


Baca Juga: Rapor Musim Dingin Liga Primer Inggris 2016/2017.


Karanka sendiri mengalami kekalahan yang bertubi-tubi dari tiga pertandingan Liga Primer Inggris terakhir. Namun Karanka menegaskan tidak akan gampang menyerah dan yakin mampu menjaga Middlesbrough di Liga Primer Inggris. Karanka merasa percaya diri karena merasa pemain-pemain mendukungnya dan selalu mencoba memberikan yang terbaik sehingga merasa ingin terus berjuang.

"Saya memiliki pemain yang sudah bersama saya sejak tiba di sini. Dan saya akan melakukan lebih baik dari yang terbaik untuk tinggal bersama mereka sampai saat-saat terakhir," tegas Karanka seperti dikutip dari Gazette Live.

Tapi rasa percaya diri Karanka itu sudah terlanjur kepalang oleh situasi yang buruk dan kritik terus deras mengalir. Ada kabar hubungannya retak dengan Stewart Downing. Karanka sampai ingin mencoba menjual Downing dua kali, yaitu pada awal musim dan tengah musim ini.

Hubungannya dengan Gaston Ramirez juga retak setelah gelandang asal Uruguay tersebut meminta pindah ke Leicester City pada Januari 2017. Kepindahannya dihadang oleh Karanka dan agen sang pemain, Pablo Bentacur, mengklaim jika Karanka mengancam akan mengundurkan diri jika transfer tersebut rampung.

Meskipun demikian, beberapa pemain terlihat sedih dengan dipecatnya Karanka, di antaranya adalah Marten de Roon dan Victor Valdes. Valdes bahkan menulis di twitter-nya: `Ketika sepakbola berkata tidak kepada saya, kamu adalah satu-satunya yang memberikan saya opsi untuk menikmati olahraga indah ini lagi. Aku selalu merasa bersyukur!`

Pada akhirnya mantan pelatih Spanyol U16 itu dipecat Middlesbrough atas rentetan hasil buruk sejak akhir Desember 2016. Steve Agnew akan mengambil alih posisi manajer saat Middlesbrough berhadapan dengan Manchester United akhir pekan ini.

Sebetulnya, Karanka sudah berjuang di jalannya sendiri dan memberikan perasaan yang jarang dikenali banyak orang. Tapi ketidakpuasan banyak orang itu juga tidak kalah banyak dirasakan kepadanya. Mulai sekarang, tidak ada lagi musim baru bersama Middlesbrough seperti yang diharapkan Karanka.

Rentetan hasil tanpa kemenangan sejak Natal 2016, tepatnya "0011010100" (0 untuk nihil poin karena kalah, 1 untuk mendapatkan satu poin karena imbang) di Liga Primer pada akhirnya membuat Karanka kehilangan jabatannya. Jika kita terjemahkan angka biner "0011010100" ini menjadi angka desimal, maka kita akan mendapatkan angka "212"... yang tidak ada hubungannya sama sekali.

Sumber lain: The Telegraph.

Komentar