Kenangan Masa Kecil dan Debut Donnarumma di Mata Sang ayah

Cerita

by Muhammad Firza Richsan 32423

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kenangan Masa Kecil dan Debut Donnarumma di Mata Sang ayah

Gianluigi Donnarumma tengah merayakan hari jadinya yang ke-18 pada hari Sabtu (25/2) ini. Saat ini, ia telah tumbuh dewasa menjadi sosok yang begitu kuat. Baik di dalam maupun luar lapangan. Tetapi siapa sangka, Donnarumma yang bertinggi badan besar tersebut merupakan anak yang cengeng semasa kecilnya.

Sang ayah, Alfonso, menceritakan bagaimana Donnarumma selalu menangis di sekolah. Donnarumma pernah meninggalkan gawangnya ketika bertanding karena ketakukannya terhadap kembang api. Juga bagaimana cara Donnarumma memberikan kejutan terhadap dirinya ketika akan melakoni debutnya di AC Milan beberapa waktu lalu.

Alfonso memang tidak banyak mengingat seperti Donnarumma ketika kecil dulu. Tetapi yang pasti, saat ini Alfonso akan selalu mengingat jika anaknya tersebut merupakan salah satu penjaga gawang masa depan timnas Italia.

“Seperti apa ia ketika kecil? Saya tidak begitu ingat banyak. Yang pasti anak-anak saya telah berkembang pesat, terutama dalam tinggi badannya. Pada hari pertama sekolah ia tidak mau meninggalkan ibunya dan menangis. Sebetulnya ia selalu baik-baik saja, tetapi ia gampang merindukan istri saya (ibunya),” cetus Alfonso kepada La Stampa.

“Kami menyekolahkan dia dan adik perempuannya di sebuah sekolah yang dikelola oleh biarawati. Ia selalu melarikan diri, pergi ke Nunzia dan berkata: ‘Telepon ibu’.”

“Ia mulai bermain sepakbola di pasir ketika berusia 4,5 tahun. Awalnya ia meniru kakaknya, hingga akhirnya ia tak dapat menghentikan permainan itu. Turnamen pertama yang diikutinya menyebabkan bencana, tetapi saya selalu tertawa jika mengingat hal tersebut.”

“Itu saat liburan Natal, ketika itu ada kembang api di dekat lapang, kemudian Gianluigi ketakutan dan lari meninggalkan gawangnya. Setelah itu saya mengejarnya dan meyakinkannya untuk kembali sambil berkata: ‘Bagaimana kamu akan membuat penyelamatan jika kamu tak ada di sana (gawang)?’.”

“Pelatih sekolah sepakbola Napoli, Ernesto Ferrara, marah kepada saya. Ia berkata ‘Alfonso, apakah Anda tidak tahu seberapa baiknya anak Anda, ia ditakdirkan untuk itu (menjadi bintang)’. (Kemudian) Ia memilih Milan, mengikuti jejak kakaknya, Antonio, yang telah bergabung dengan tim junior terlebih dahulu. Milan memang menjadi tim favorit Donnarumma sejak kecil.”

“Saya pun selalu mendukung Milan. Mobil pertama saya, saya cat dengan warna merah dan hitam. Tetapi istri saya selalu mendukung Napoli.”

“Kemudian Sabtu malam di bulan Oktober, datang panggilan telepon yang tak pernah terduga. Satu tahun empat bulan lalu Gigio menelpon kami: ‘Ayah, ibu, pertandingan besok, maukah kalian datang dan menonton saya?’ Saya pikir itu adalah lelucon.”

“Di usia 16 tahun, di Serie-A melawan Sassuolo. Kami tidak mengerti apa-apa, hanya saja mereka memberi kami tiket untuk menonton. Saya sangat senang dan sempat meneteskan air mata. Itu adalah momen yang tak terlupakan,” kenang Alfonso.

Selain itu, di usia Donnarumma yang telah menginjak umur 18 tahun saat ini, Alfonso pun berharap putranya tersebut dapat menikmatinya masa mudanya dengan indah dan selalu diberikan kesehatan yang baik. Ia pun menambahkan jika anaknya tersebut tidak berubah menjadi seorang yang berbeda walaupun telah melakoni debutnya bersama tim sebesar AC Milan.

“Sama sekali tidak (berubah), ia masih tetap sama. Saya berharap ia dapat menikmati usia yang indah ini, ia dapat meraih keinginan yang diidamkannya, juga selalu diberikan kesehatan yang baik. Kami selalu mencoba untuk selalu dekat dengannya. Kami sering berkunjung ke Milan, agar ia tidak merasa sendirian. Ia akan menjadi orang dewasa, tetapi bagi kami ia akan selalu menjadi seorang anak.”

“Saya selalu berpikir tentang dua anak laki-laki yang bermain bola di dalam ruangan dan itu benar-benar momen yang buruk. Dan saat ini, kami menyadari jika mereka telah tumbuh dewasa dan tidak lagi hidup bersama kami.”

Baca juga: Pesan Antonio untuk Gianluigi, Cerita Donnarumma Bersaudara

Sumber: Football-Italia

Komentar