Menang Menggunakan Seragam Pinjaman dan Bermain Tanpa Pemanasan

Cerita

by Muhammad Firza Richsan 56984

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Menang Menggunakan Seragam Pinjaman dan Bermain Tanpa Pemanasan

Kejadian cukup menarik terjadi di babak kualifikasi Copa Libertadores musim ini. Atletico Tucuman, klub asal Argentina, nyaris didiskualifikasi karena lawatannya dalam laga leg kedua ke kandang klub asal Ekuador, El Nacional, terkendala oleh delay-nya pesawat yang akan membawa mereka ke Kota Quito, tempat diberlangsungkannya pertandingan tersebut.

Atletico Tucuman sebenarnya telah berada di Ekuador. Mereka memilih kota Guayaquil sebagai tempat peristirahatannya sebelum menyongsong laga. Dan berhubung laga akan dimainkan pada malam hari, Atletico Tucuman pun memilih penerbangan pada siang hari.

Namun sial, sesampainya di bandara, tim asal kota San Miguel itu harus tertahan selama kurang lebih tiga jam. Penyebabnya disinyalir karena pesawat yang akan ditumpangi mereka dari Kota Guayaquil ke Kota Quito tak mendapatkan izin terbang.

Pada akhirnya, Atletico Tucuman pun mau tidak mau harus mengganti pesawat. Dan setelah melewati perjalanan yang berjarak sekitar kurang lebih 450 kilometer, klub berjuluk Decano itu akhirnya sampai di bandara Mariscal Sucre Internasional, Quito.

Mereka pun bergegas menuju bus yang akan membawa seluruh komponen tim ke stadion. Dalam perjalanannya, Atletico Tucuman masih diliputi oleh ketidakpastian mengenai masih bisa atau tidaknya mereka bertanding pada malam itu, alasannya jelas, karena CONMEBOL, selaku konfederasi sepakbola Amerika Selatan, memiliki aturan yang dapat membuat sebuah tim kehilangan hak bermainnya andai tim tersebut datang terlambat ke stadion dalam jangka waktu kurang dari 45 menit sebelum sepak mula dilangsungkan.

Kesialan bagi Atletico Tucuman tampaknya tak berhenti sampai di situ. Sesampainya di stadion, mereka nyatanya tak membawa bagasi yang berisi perlengkapan bertanding. Bagasi itu sendiri ternyata tertinggal selepas mereka memutuskan untuk mengganti pesawat di Kota Guayaquil.

Namun kesialan tersebut agak terobati begitu sampai di lapangan. Karena di saat yang bersamaan, Stadion Olimpico Atahualpa yang menjadi tempat diberlangsungkannya pertandingan itu, juga menjadi venue dari ajang Copa America U-20 yang diikuti pula oleh timnas Argentina U-20. Maka dari itu, Atletico Tucuman pun mau tak mau harus meminjam sepatu dan seragam bertanding kepada timnas Argentina U-20 terlebih dahulu

Laga sendiri sejatinya akan dibatalkan. Hal itu diminta oleh pihak El Nacional dengan alasan Atletico Tucuman telah terlambat datang dari waktu yang sudah ditentukan. Akan tetapi , permintaan dari 30 ribu suporter yang memaksa pertandingan harus tetap diberlangsungkan mau tak mau juga harus dituruti oleh klub berjuluk The Red Machine itu.

Kesialan kali ini nyatanya berpihak kepada kubu El Nacional. Karena tanpa diduga, Atletico Tucuman akhirnya mampu mengakhiri laga dengan kemenangan tipis 1-0. Itu artinya mereka unggul secara agregat menjadi 3-2 (pertemuan pertama 2-2).

Selepas laga, pelatih Atletico Tucuman, Pablo Lavallen, mengaku tidak tahu secara pasti mengenai alasan pencegahan yang menyebabkan penerbangan harus diberhentikan sebanyak dua kali itu apakah memang benar adanya intimidasi dari pihak mereka (El Nacional) atau hanya tambahan keamanan yang diberikan usai terjadinya kecelakaan pesawat yang menimpa klub Chapecoense beberapa waktu lalu.

Namun yang pasti ia memuji penampilan anak asuhnya yang mampu tampil dengan penuh semangat dalam meraih kemenangan di laga tersebut. Lavallen pun mengungkapkan jika Tuhan telah berlaku adil terhadap timnya tersebut.

“Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan untuk apa yang telah terjadi di bandara. Seseorang menghentikan pesawat kami selama dua jam, dua jam! Dan kalian bisa melihat hasilnya (kemenangan). Kami pergi ke stadion dan bermain tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu. Mereka mengintimidasi kami dengan melarang kami bermain setelah kami datang. Tetapi inilah hasil yang dapat kalian lihat (kemenangan). Tuhan itu sungguh adil,” ungkap Lavallen seperti yang dilansir ESPN FC.

Selain Lavallen, Fernando Zampedri, yang menjadi satu-satunya pencetak gol di laga tersebut pun turut memberikan komentarnya. Menurut penyerang berkebangsaan Argentina itu, Atletico Tucuman berubah menjadi kuat setelah menghadapi kesulitan.

“Kami menjadi kuat dalam menghadapi kesulitan. Kami terjebak di bandara (di Guayaquil) sejak pukul satu siang, dan kami melawan ketidakpastian. Kami tidak tahu apakah kami bisa bermain atau tidak, dan itu sungguh mengganggu pikiran,” ujar Zampredi, juga kepada ESPN FC.

“Kami sedikit merasakan kelelahan sesampainya di sini, tapi kami ingin bermain dan rekan-rekan serta staf pelatih membuat kesepakatan, dan kami memutuskan untuk membuat yang terbaik dari situasi yang benar-benar buruk ini,” tambah Zampredi.

Dengan hasil ini, Atletico Tucuman berhak lolos ke babak berikutnya untuk menjadi penantang wakil dari Kolombia, Club Deportivo Popular Junior. Laga sendiri akan dimainkan pada tanggal 17 dan 24 Februari mendatang.

Komentar