Gianluigi Buffon dan Kiper-Kiper yang Ia Sisihkan

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi 44956

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Gianluigi Buffon dan Kiper-Kiper yang Ia Sisihkan

Gianluigi Buffon sudah tak muda lagi. 28 Januari 2017 ini adalah ke-39 kalinya kiper timnas Italia dan Juventus tersebut merayakan ulang tahun. Usia yang terbilang sudah sangat tua bagi seorang pesepakbola, bahkan untuk seorang penjaga gawang sekalipun.

Buffon rencananya masih ingin terus bermain bersama Juventus. Pada 2013, ia sempat mengatakan akan pensiun jika timnas Italia sudah tak membutuhkannya lagi. Sebenarnya Buffon sudah memiliki rencana tersendiri terkait kariernya di dunia sepakbola. Saat ia diwawancarai football Italia usai menerima penghargaan Gianni Brera award Sportsman of the Year 2016, ia mengatakan akan pensiun usai Piala Dunia 2018.

“Jika saya bisa mendorong saya ke Piala Dunia 2018, maka saya akan terus berusaha. Setelah itu, saya akan menutup semua pintu dan berhenti bermain sepakbola,” ujar Buffon.

Tahun 2017 sendiri merupakan 21 tahun kariernya di Serie A. Dari dua dekade ia berkiprah di Serie A, ia hanya membela dua kesebelasan saja, AC Parma dan Juventus. Ia hengkang dari Parma ke Juventus dengan status sebagai kiper termahal dunia (52 juta euro) pada 2001. Dan Buffon begitu loyal dengan kesebelasan berjuluk Si Nyonya Tua tersebut hingga saat ini.

Ini artinya, sudah 16 tahun Buffon membela panji-panji Juventus. Segala pahit-manis dalam kariernya telah ia dapatkan selama membela kesebelasan berjuluk Si Nyonya Tua tersebut. Ia juga berhasil mengalahkan banyak pesaingnya yang juga berharap bisa menjadi kiper utama Juventus.

Korban-Korban Kehebatan Buffon

Meski membicarakan yang terbaik sering memancing perdebatan, namun menyebut Buffon sebagai salah satu kiper terbaik dunia saat ini bukan lah hal yang terlalu keliru. Ia masih sangat layak disejajarkan dengan Manuel Neuer, David De Gea, Thibaut Courtois, Keylor Navas, Samir Handanovic, Petr Cech, atau kiper-kiper lainnya yang lebih muda darinya. Kemampuan Buffon memang tak menurun (bahkan cenderung meningkat) di mana kemampuannya saat ini kurang lebih sama dengan ketika ia dibanding-bandingkan dengan Oliver Kahn, Edwin van der Sar, Fabien Barthez atau Iker Casillas di masa lalu.

Kehebatan Buffon di bawah mistar gawang memang tak perlu disangsikan lagi. Meski bukan berarti tanpa cela, di mana Buffon pun pernah melakukan blunder, baik Juventus maupun timnas Italia selalu menjadikan Buffon sebagai kiper utama. Tak sedikit kiper-kiper berkualitas yang berhasil ia singkirkan di Juventus maupun timnas Italia.

Di timnas Italia, Buffon saat ini sudah mencatat 167 penampilan, penampilan terbanyak sepanjang sejarah Italia. Dipanggil timnas sejak berusia 19 tahun, ia lantas menyingkirkan Gianluca Pagliuca, Angelo Peruzzi, Francesco Toldo, Christian Abbiati, Francesco Antonioli, Federico Marchetti, hingga Salvatore Sirigu untuk menjadi kiper utama timnas Italia hingga saat ini.

Di level klub, Buffon memiliki sejarah panjang. Juventus adalah kesebelasan besar yang selalu dihuni oleh pemain-pemain top Eropa. Pemain bintang datang dan pergi. Tapi Buffon berhasil bertahan dan menjadi legenda Bianconeri. Di Parma, ia menyisihkan Luca Bucci dan Matteo Guardalben.

Dimulai pada 2001, Juventus berani menjual Edwin van der Sar ke Fulham karena berencana mendatangkan Buffon. Pada musim panas yang sama kala itu, Juve pun lantas menjual salah satu kiper muda berbakat, Andreas Isaksson, ke Djurgardens. Isaksson sendiri kemudian menjadi kiper utama timnas Swedia sejak 2002 hingga 2014 (dan menjadi wakil kapten dari Zlatan Ibrahimovic) serta pernah membela Manchester City dan PSV Eindhoven.

Untuk menjadi kiper utama Juventus, di awal kariernya Buffon harus bersaing dengan kiper timnas Uruguay, Fabian Carini. Carini sudah mendapatkan panggilan dari timnas Uruguay sejak 1999 dan kala itu sudah berstatus kiper utama. Carini sendiri tiba di Turin setelah dibeli dari Danubio enam bulan sebelum kedatangan Buffon.

Namun Buffon langsung membuktikan diri dengan selalu menjadi pilihan utama pelatih Juventus saat itu, Marcelo Lippi. Bahkan Carini harus tersisih di mana ia sempat dipinjamkan ke Standard Liege sebelum akhirnya direkrut Internazionale Milan pada 2004.

Pada musim 2005-2006, Buffon menderita cedera dislokasi bahu. Sadar bahwa ia akan absen untuk jangka waktu yang lama, Juventus pun lantas mendatangkan Christian Abbiati dari AC Milan dengan status pinjaman. Abbiati didatangkan karena kiper Juve lainnya, Antonio Chimenti dan Landry Bonnefoi, dianggap belum layak bermain sebagia kiper utama.

Abbiati kemudian tampil cukup gemilang dengan mencetak 13 cleansheet dan hanya kebobolan 17 gol dari 26 penampilan pada musim 2005-2006. Namun pelatih Juventus saat itu, Fabio Capello, lebih membutuhkan Buffon di bawah mistar gawang. Usai Buffon kembali pulih, Abbiati pun kembali dipulangkan.

Kehebatan Buffon saat itu semakin nyata setelah Italia berhasil menjuarai Piala Dunia 2006 dengan Buffon sebagai penjaga gawang utama. Namun saat itu Juventus terlibat skandal calciopoli yang membuat Juventus mendapatkan hukuman terdegradasi ke Serie B.

Mayoritas rekan-rekannya memilih hengkang dari Juve saat itu. Bagi seorang kiper yang baru saja menjuarai Piala Dunia, tentunya banyak kesebelasan yang mengantre untuk menampungnya. Buffon pun menghadapi dilema.

Tapi keputusan yang ia pilih saat itu adalah untuk tetap membela Juventus. Bersama Alessandro Del Piero, Pavel Nedved, Mauro Camoranesi, Alessio Tacchinardi dan David Trezeguet, Buffon berupaya mengembalikan Juventus kembali ke habitatnya, yaitu Serie A.

Hanya semusim Buffon dkk. berlaga di divisi dua liga Italia tersebut. Setelah itu misinya adalah untuk membuat Juve kembali menjadi salah satu kesebelasan top Italia dan Eropa. Sempat kesulitan di awal-awal kembalinya ke Serie A, namun akhirnya Juve berhasil menjadi juara setelah Antonio Conte menukangi Si Nyonya Tua pada 2011.

Buffon semakin tua. Tapi belum ada yang bisa menggantikannya. Rivalnya nama-nama senior seperti Antonio Chimenti (yang kembali direkrut pada 2007), Alex Manninger, dan Marco Storari. Hingga Juventus meraih scudetto kelima beruntunnya bahkan mencapai babak final Liga Champions pada 2015, Buffon masih merupakan penjaga gawang utama bahkan sekaligus kapten Juventus.

Kehebatan Buffon di bawah mistar gawang pun menelan korban dari para pemain akademi Juventus. Carlo Pinsoglio, Christian Novembre, Claudio Scharzanella, dan Antonio Mirante, serta kiper-kiper berbakat dari akademi Juventus lainnya, harus rela dipinjamkan ke kesebelasan lain selama memiliki kontrak di Juventus (sebelum akhirnya dilepas).

Nama terakhir, Mirante, sempat digadang-gadang sebagai penerus Buffon karena menjadi cadangannya saat Juventus berkompetisi di Serie B. Namun karena Buffon tak kunjung menurun kualitasnya, ia akhirnya dijual ke Sampdoria pada 2008. Tapi kemudian kemampuannya melindungi gawang membuatnya sempat menjadi kiper utama AC Parma sebelum kesebelasan tersebut bangkrut dan terlempar ke Serie D. Kini ia menjadi kiper utama Bologna.

Di penghujung karier Buffon ini, kiper-kiper muda potensial pun sudah mengantre untuk merebut singgasana Buffon sebagai kiper utama Juventus. Dari akademi, terdapat Emil Audero. Belum lagi kiper-kiper muda berbakat yang sedang dipinjamkan seperti Laurentiu Branescu dan Nicola Leali.

Hanya saja tak akan mudah bagi mereka untuk promosi ke skuat utama Juventus dalam waktu dekat. Saat ini, terdapat kiper asal Brasil, Neto, yang sebelumnya secara reguler bermain di Fiorentina. Bukan tak mungkin ia sudah diplot untuk menjadi pengganti Buffon kala kapten timnas Italia tersebut pensiun. Namun Neto pun harus sadar bahwa tak mudah menjadi cadangan Buffon di mana jika kiper berusia 27 tahun ini tak sabar, kariernya di Juventus bisa saja akan berakhir seperti Carini, Abbiati, Isaksson, Storari ataupun Manninger.

Di penghujung kariernya, Buffon masih menjadi andalan Juventus. Rekor demi rekor pun ia torehkan baik rekor untuk Juventus maupun rekor untuk timnas Italia. Dan rekor tersebut masih akan terus bertambah karena Buffon menyatakan baru akan pensiun pada 2018 nanti.

Salah satu cela dalam karier Buffon adalah kenyataan bahwa ia masih mengidamkan trofi Liga Champions. Sebagai kiper hebat, trofi Liga Champions tentu akan menyempurnakan kariernya. Dan jika dalam periode tahun ini ia bisa mengangkat trofi Liga Champions, hal tersebut tampaknya akan semakin membuatnya tenang ketika kelak ia memastikan untuk gantung sepatu.

Komentar