Sejak Tiba di Sini, Aku Ingin Menjadi Legenda Arsenal

Cerita

by Muhammad Firza Richsan

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Sejak Tiba di Sini, Aku Ingin Menjadi Legenda Arsenal

Arsenal sempat mendapatkan ledekan dari para pendukung rivalnya di aktivitas transfer musim 2015-16 lalu. Di saat Chelsea mendatangkan Pedro Rodriguez, Manchester United mendatangkan Anthony Martial dan Bastian Schweinsteiger, serta Manchester City yang mendatangkan Raheem Sterling dan Kevin de Bruyne, Arsenal hanya mendatangkan seorang Petr Cech.

Cech sendiri bukanlah sosok yang bisa dianggap sebelah mata. Dan itu merupakan transfer yang bagus bagi Arsenal. Tetapi dengan kondisi tim yang membutuhkan outfield player jempolan untuk dapat mendongkrak posisi The Gunners, para pendukung sejatinya menginginkan Wenger untuk mendatangkan, setidaknya, satu pemain kelas atas untuk bersaing dengan kesebelasan lain yang diperkuat banyak pemain bintang.

Namun keinginan para pendukung tak digubris oleh Wenger, karena pada kenyataannya Petr Cech-lah yang menjadi satu-satunya nama besar yang didatangkan oleh Arsenal di bursa transfer musim panas. Asa para pendukung kembali muncul ketika waktu memasuki transfer musim dingin di bulan Januari. Terlebih ketika Arsenal dihubung-hubungkan dengan sosok bernama Karim Benzema.

Akan tetapi, alih-alih mendaratkan Benzema, Arsenal justru mendatangkan seseorang yang sangat asing bernama Mohamed Elneny. Wenger pun mencoba meyakinkan para pendukung dengan menyebut gelandang timnas Mesir itu sebagai pemain yang bervisi, berteknik, dan sangat pintar.

“Dia bisa berperan box-to-box, juga menjadi jangkar, jadi itu sangat menjanjikan bagi kami. Kami mengincar pemain yang versatile dan saya mengincar pemain yang dapat bertahan dengan baik, namun dapat juga menjadi box-to-box,” cetus Wenger seperti yang dikutip Express.

“Kekuatannya, tekniknya, visinya, intelejensinya, juga kedisiplinan dan fisiknya dapat digunakan untuk bersaing di level tertinggi. Saya pikir ia memiliki kualitas fisik untuk bermain di level tertinggi. Secara keseluruhan ia memiliki atribut yang cukup baik, yang dapat membuatnya untuk cepat beradaptasi dengan sepakbola Inggris,” tambahnya.

Elneny sendiri terlihat sumringah ketika berhasil bergabung dengan Arsenal. Karena menurutnya, bermain untuk salah satu klub terbaik di dunia hanyalah sebuah angan yang selalu ia impikan sebelumnya.

“Pada awalnya, aku tidak mempercayai akan hal itu. Aku tahu aku bermain baik di Basel, tetapi untuk dapat pergi ke salah satu klub terbaik di dunia, itu hanyalah sebuah mimpi. Ketika Anda mempunyai mimpi dan mimpi itu menjadi nyata, tentu saja Anda tidak akan mempercayainya langsung,” ungkap Elneny kepada dailymail.

“Wenger adalah pelatih terbaik di dunia, jadi ketika ia menghubungiku… itu berarti aku telah berada di jalan yang benar. Itu menjadi tahun yang hebat bagiku. Bermain di Inggris, di salah satu dari lima klub terbaik di dunia.”

“Sejak aku tiba. Aku menikmati seluruh pengalaman ini. Bukan hanya ketika bermain bagi klub, tetapi dengan negaraku juga. Pertemanan yang aku buat, para pendukung, seluruh suasana di sekitar sepakbola. Ini menjadi salah satu tahun terbaik dalam hidupku,” tambahnya.

Sejak bergabung dengan Arsenal, permainan Elneny memang mengalami peningkatan yang cukup pesat. Elneny bahkan berhasil menyabet predikat pemain terbaik Arsenal di bulan Maret dan April musim 2015-16 lalu. Bahkan ketika Arsenal mendatangkan Granit Xhaka di musim ini, Elneny pun masih tetap mendapatkan tempat yang cukup di lini tengah Arsenal.

Elneny mengaku, jika kekeluargaan di tubuh Arsenal-lah yang membuatnya dapat beradaptasi dengan cukup cepat, dan dapat menampilkan permainan yang baik di tanah Inggris.

“Di Basel, aku memeroleh pengalaman. Tetapi ketika datang ke Inggris, ke Arsenal, aku beradaptasi dengan cepat karena aku merasa ini seperti sebuah keluarga, keluarga yang begitu besar. Anda adalah orang baru, tetapi mereka merangkul Anda. Mereka membawa Anda ke dalam (kekeluargaan itu).”

“Semua orang mencintai satu sama lain. Ketika Anda merasa orang-orang mencintaimu, dan mereka menginginkanmu berada di sekitarnya, itu dapat membuat Anda menjadi cepat beradaptasi, Anda akan merasa nyaman berada di sana. Itulah mengapa ketika aku pergi, bahkan ketika berlibur atau sedang membela Mesir, aku merindukan hal itu.”

Sepakbola sendiri memang telah mengalir deras dalam darah Elneny. Ayahnya merupakan mantan pemain yang saat ini menjabat sebagai pelatih di salah satu kesebelasan di Mesir. Elneny berujar, jika bukan karena sosok sang ayah, dirinya mungkin tidak akan berada di tempat yang ia pijak saat ini.

Mimpi Elneny kedepannya pun sangat besar, karena ia sangat berambisi untuk menyamai Thierry Henry yang mendapatkan predikat legenda di Arsenal.

“Di mana aku berada sekarang, aku berhutang segalanya kepada ayahku. Ia selalu berada di belakangku, ia selalu mendukungku. Ia masih tetap memberi nasihat kepadaku hingga saat ini. Jadi sudah tentu, ialah yang membentuk karier dan seluruh hidupku.”

“Aku ingin menjadi legenda di klub ini. Seperti Thierry Henry. Maksudku, jelas tidak persis seperti dia. Aku memiliki kepribadian sendiri, karakter sendiri. Aku ingin menjadi berbeda dari siapapun yang telah pergi sebelumnya. Tetapi sejak aku tiba di sini, aku selalu memiliki pemikiran itu. Aku ingin menjadi legenda Arsenal,” tutup Elneny.

Elneny didatangkan oleh Arsenal dari Basel dengan harga 7,4 juta paun pada bulan Januari tahun 2016 lalu. Debutnya terjadi ketika Arsenal menang atas Burnley di babak keempat ajang Piala FA. Sedangkan gol pertamanya tercipta ke gawang Barcelona di babak 16 besar Liga Champions. Sejauh ini Elneny telah bermain sebanyak 35 kali bagi Arsenal dengan keberhasilan mencetak satu gol serta tiga asis.

Komentar