Tinjauan Paruh Musim Bundesliga 2016/2017

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Tinjauan Paruh Musim Bundesliga 2016/2017

Seperti halnya yang terjadi dalam ajang La Liga Spanyol, sebenarnya tak banyak perubahan yang terjadi dalam ajang Bundesliga pada 2016. Setelah menelurkan nama Bayern München sebagai kampiun Bundesliga 2015/2016, sekarang Bayern masih menguasai pucuk tertinggi klasemen Bundesliga 2016/2017 setelah mengungguli RB Leipzig dengan selisih tiga poin di penghujung 2016.

Namun jika hanya melihat Bayern yang sekarang menduduki peringkat teratas, itu sama saja seperti menafikkan kekuatan-kekuatan serta hal-hal lain yang sudah terjadi selama 2016 ini dalam Bundesliga. Seperti halnya menikmati La Liga dari peringkat tiga ke bawah (karena satu dan dua lazim diduduki Real Madrid dan Barcelona), menikmati Bundesliga dari peringkat dua/tiga ke bawah juga dapat menjadi opsi menikmati Bundesliga, liga yang sebenarnya tak kalah menarik di antara liga-liga Eropa yang lain.

Apalagi pada pertengahan pertama Bundesliga 2016/2017, banyak hal yang terjadi dan sedikit memengaruhi peta persaingan Bundesliga yang pada musim 2015/2016 benar-benar dikuasai Borussia Dortmund dan Bayern München.

Kesebelasan Terbaik: RasenBallsport Leipzig (RB Leipzig)

Bayern München menguasai Bundesliga adalah hal yang lumrah. Tapi melihat tim yang menduduki peringkat kedua Bundesliga 2016/2017, Anda akan disuguhi hal menarik. Ada nama RB Leipzig di situ. Tunggu, siapa itu RB Leipzig?

Jika kisah RB Leipzig ini harus diceritakan, akan menghabiskan cukup banyak waktu karena perjalanan mereka untuk masuk ke Bundesliga 2016/2017 pun cukup panjang. Yang jelas, kisaran 2009 silam, klub ini baru berdiri setelah perusahaan minuman benergi, Red Bull, mengakuisisi kepemilikan klub SSV Markranstädt. Sekarang, mereka berkompetisi di Bundesliga.

Selain kisah-kisah yang berisikan tentang perjuangan sekaligus usaha untuk mengembalikan kesetaraan sepakbola Jerman Timur dan Barat, serta inovasi taktik yang berhasil diterapkan oleh Ralf Rangnick dan Ralph Hasenhüttl, RB Leipzig pun kaya akan kisah-kisah berbau penolakan dari suporter lain.

Ini tak lepas dari nama Red Bull yang mereka bawa di stadion (Zentralstadion yang namanya diganti menjadi Red Bull Arena). Para suporter lawan menganggap kalau RB Leipzig membawa korporasi masuk ke dalam tubuh klub, sesuatu yang dilarang di Jerman dengan aturan "50+1" yang diterapkan oleh DFB. Maka tak heran, suara penolakan pun kerap bermunculan ketika Leipzig bermain tandang, seperti usaha boikot, lemparan kepala banteng, dan spanduk-spanduk berisikan penolakan yang terbentang di stadion.

Walau dibumbui dengan hal-hal negatif dalam perjalanan mereka sepanjang setengah musim 2016/2017, apa yang mereka catatkan patut untuk diapresiasi. Apalagi kebijakan pemain muda yang mereka terapkan membuat banyak pemain muda Jerman seperti Davie Selke ataupun pemain muda dari negara lain macam Naby Keita ataupun Emil Forsberg memiliki jam terbang yang lebih banyak.

Selain itu statistik pun menunjukkan bahwa RB Leipzig adalah tim yang mengejutkan. Mereka baru mencicipi kekalahan pada spieltag 14 ketika dikalahkan oleh FC Ingolstadt dengan skor 1-0. Sampai pertengahan musim, total mereka mencatatkan 11 kali kemenangan, tiga kali hasil seri, dan hanya dua kali kalah. Catatan inilah yang membuat mereka sekarang bercokol di peringkat dua klasemen sementara Bundesliga 2016/2017.

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah, untuk pertengahan musim selanjutnya, apakah mereka mampu mempertahankan penampilan yang impresif ini?

Pelatih Terbaik: Julian Nagelsmann

Musim 2016/2017 menjadi musim yang cukup suram bagi pelatih-pelatih Inggris. Di Liga Primer, sekarang tercatat hanya ada empat klub yang menggunakan jasa pelatih Inggris, yaitu AFC Bournemouth (Eddie Howe), Burnley (Sean Dyche), Hull City (Mike Phelan), dan Sam Allardyce yang menggantikan Alan Pardew (Crystal Palace). Sisanya mereka semua menggunakan jasa pelatih luar Inggris.

Ini tentunya adalah hal yang mengkhawatirkan karena dapat mengganggu regenerasi pelatih di Inggris sendiri. Lain di Inggris, lain hal dengan yang terjadi di Jerman. Pelatih-pelatih asal Jerman begitu subur menangani klub-klub Jerman, meski sosok asing pun masih ada dan menangani klub (Carlo Ancelotti di Bayern, contohnya). Dari sekian banyak nama pelatih asal Jerman di Bundesliga, Julian Nagelsmann adalah nama yang patut untuk dikedepankan dan diperhitungkan.

Mulai menangani TSG 1899 Hoffenheim secara resmi sebagai pelatih kepala pada 2016, Nagelsmann langsung beraksi dengan membawa Hoffenheim, yang ketika itu berada di peringkat 17 beranjak naik ke peringkat 15 dengan memenangkan tujuh dari 14 pertandingan terakhir. Hasil positif ini terus berlanjut, dan sampai akhir 2016, ia sukses membawa Hoffenheim duduk di peringkat lima dengan catatan dengan enam kemenangan, 10 kali imbang, tanpa mengalami satu kali pun kekalahan.

Secara formasi, Nagelsmann sebenarnya kerap memakai formasi dasar 3-1-4-2. Namun ia juga berhasil membuat para pemainnya fasih memakai formasi dasar lain seperti 3-5-2/4-3-3/3-2-4-1. Ini tak lepas dari apa yang pernah ia ujarkan soal Ralf Rangnick dan Thomas Tuchel, dua sosok yang menjadi inspirasinya.

"Gaya sepakbola Rangnick memang menarik, begitu juga dengan Tuchel. Tapi gaya seperti itu (menekan lawan dan mendesain situasi agar lawan lebih mudah kehilangan bola) memiliki kelemahannya sendiri. Oleh karena itu, harus ada solusi yang ditemukan ketika tim sedang memegang bola, begitu juga ketika bola lepas dari penguasaan. Saya meminta agar para pemain saya bermain lebih cair dan efektif," ujar Nagelsmann.

Pemain Terbaik: Emil Forsberg

Sebenarnya untuk pemain terbaik, ada nama Thiago Alcantara yang berhasil menjadi sosok kunci di lini tengah Bayern saat ini. Catatan tiga gol dan tiga asis, serta catatan 90,3% umpan sukses adalah catatan yang tak terhindarkan yang menjadikan Alcantara sebagai pemain terbaik Bundesliga 2016/2017 sampai pertengahan musim menurut Whoscored.

Tapi, nama Emil Forsberg, pemain tengah RB Leipzig patut dikedepankan. Jika Alcantara dikelilingi oleh pemain kelas wahid macam Robert Lewandowski, Arturo Vidal, Xabi Alonso, dan Mats Hummels, Forsberg mampu menjadi sosok kunci yang menarik permainan anak-anak muda RB Leipzig. Ia menjadi poros penyerangan Die Bullen, dengan catatan lima gol dan delapan asis yang membuat Leipzig sekarang duduk di peringkat kedua klasemen sementara Bundesliga.

Perannya juga semakin vital sebagai jembatan dari lini tengah ke lini depan Leipzig dalam formasi dasar 4-2-2-2 yang diterapkan Raloh Hasenhüttl. Meski hanya mencatatkan rataan umpan sukses sebesar 77,8%, ini tak lain karena permainan direct yang diterapkan oleh Die Bullen sehingga umpan yang dilepaskan Forsberg pun tak banyak tapi langsung mengarah ke lini depan.

Rekrutan Terbaik: Ousmane Dembele

Selain nama Nagelsmann yang menjadi salah satu rekrutan pelatih terbaik pada musim dingin 2016, ada beberapa rekrutan terbaik yang menjadi pemain kunci pada 2016 ini di tim yang ia bela. Untuk rekrutan terbaik, ada nama Ousmane Dembele yang menjadi rekrutan terbaik Borussia Dortmund. Diboyong dari Stade de Rennes, pemain ini langsung menjadi sosok kunci penyerangan Die Borussen selama pertengahan awal Bundesliga.

Memiliki kecepatan dan kemampuan dribel yang baik, sampai sekarang ia sudah menorehkan empat gol dan tujuh asis dari 15 pertandingan yang ia jalani bersama Dortmund di Bundesliga. Pemain kelahiran Vernon ini pun mencatatkan usaha dribel yang cukup banyak, yaitu 3,9 per pertandingan. Ini tak lepas dari kemampuannya yang kerap melakukan cut inside dari sayap ke tengah. Dengan harga 15 juta euro, ia adalah jaminan serangan berbahaya Dortmund.

Halaman selanjutnya, Best Eleven

Komentar