Dari Ann untuk George: Tak Diinginkan Tapi Tetap Diturunkan

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Dari Ann untuk George: Tak Diinginkan Tapi Tetap Diturunkan

Kadang tidak semua apa yang orang tua miliki ingin diwariskan kepada anaknya, termasuk sifat dan kebiasaan buruk orang tua. Tapi Ann Best, ibu dari George Best, tak kuasa untuk melakukan hal tersebut.

George Best adalah idola. Ia adalah seorang pria tampan yang menjadi pesepakbola kenamaan pada dekade 60an sampai awal 70an. Ia adalah salah satu pemain legenda nomor 7 di Manchester United sebelum Eric Cantona, David Beckham, dan Cristiano Ronaldo. Torehan 137 gol dalam 361 penampilannya bersama United menegaskan sinarnya yang begitu terang bersama klub yang bermarkas di Old Trafford ini.

Selain membantu The Red Devils meraih trofi European Cup pada 1968, segala prestasi yang ia guratkan bersama tim asal Manchester tersebut membuatnya menjadi seseorang yang begitu terkenal. Best mampu menyabet penghargaan sebagai Pemain Terbaik Eropa pada 1968 berkat kontribusi yang ia berikan untuk United.

Padahal, pada awal-awal ia bermain sepakbola di Belfast bersama Glentoran (klub lokal Belfast), ia dianggap sebagai pemain yang terlalu kecil dan tidak memiliki badan yang tegap. Namun setelah ditemukan Bob Bishop, pencari bakat Manchester United, bakat Best menjadi bersinar terang, bahkan mendapatkan pengakuan dari Pele dan Diego Armando Maradona.

Akibat dari terkenalnya Best ini, setiap hari selalu ada wartawan yang mendatangi rumah kediaman Best di Belfast, berusaha untuk menanyakan apakah Best ada di rumah untuk diwawancarai, atau sekedar meminta kutipan dari keluarganya tentang kehidupan Best di rumah.

Bukan hanya wartawan, penggemar-penggemar Best pun kerap berdatangan ke rumah. Mereka meneriakan nama Best, dan juga selalu berkerumun di depan pintu rumah Best, menunggunya keluar dari rumah.

Hal tersebut ternyata membuat salah satu anggota keluarga Best merasakan tekanan yang begitu berat. Ia adalah Ann Best, ibu dari George Best yang meninggal pada usia 54 tahun karena sebab yang sama dengan meninggalnya Best, yaitu kecanduan akan alkohol.

Dari Sosok yang Hangat Menjadi Sosok yang Begitu Penuh Amarah

Ann Best sebenarnya bukan seorang alcoholic. Semasa muda, ia sama sekali tidak pernah meminum-minuman keras. Bahkan Ann tercatat sebagai seorang atlet hockey, sebelum akhirnya Perang Dunia II memupus impiannya untuk bermain hockey bersama Irlandia Utara dalam ajang Olimpiade. Bakat olahraganya inilah yang akhirnya menurun kepada sang anak, George, yang sukses berkarier sebagai pesepakbola di kemudian hari.

Setelah tidak lagi bermain hockey, ia memutuskan untuk bekerja di pabrik tembakau, lalu kemudian menikah dan memiliki keluarga. Sampai ia berusia 40 tahun, orang-orang mengenalnya sebagai perempuan yang pemalu, pendiam, dan juga tidak suka akan ekspos yang terlalu berlebihan. Ia juga dikenal sebagai sosok yang hangat dan ramah kepada semua orang.

Hari-harinya di Belfast setelah menikah banyak dihabiskan di rumah. Ia melayani suaminya, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan mengasuh anak-anaknya. Namun semua berubah ketika salah satu anaknya, George, yang merantau ke Inggris mendapatkan kesuksesan bersama Manchester United.

Rumah yang awalnya penuh kedamaian menjadi penuh sesak oleh para penggemar dan wartawan yang menunggu di kediaman Best di Belfast. Bahkan saking inginnya mereka mendapatkan kabar tentang George, beberapa wartawan sampai berkemah di sekitaran rumahnya. Hal inilah yang sedikit mengusik ketenangan Ann.

“Ketika itu, banyak sekali wartawan yang berkemah di sekitar kediaman Best di Belfast. Mereka benar-benar ingin tahu segalanya tentang George Best. Mereka tidak tahu, bahwa keluarga Best yang berada di Belfast, yang biasa hidup dalam damai dan ketenangan, sama sekali tidak menginginkan hal ini terjadi,” ujar Terry Cafolla, penulis naskah drama kenamaan dari Irlandia Utara yang juga menuliskan naskah drama televise berjudul Best: His Mother’s Son.

Ekspos berlebihan inilah yang akhirnya membuat sang ibu, Ann Best, mulai minum-minum sebagai jalan keluar untuk mengatasi stres yang melanda dirinya. Ann akhirnya menjadi seorang alcoholic. Ia minum di rumahnya, tanpa diketahui oleh siapapun selain keluarganya sendiri.

Tapi kebiasaan Ann ini akhirnya diketahui oleh para tetangganya setelah ia melihat perangai Ann yang berubah. Perempuan yang penuh kehangatan dan juga pemalu itu mendadak menjadi seorang perempuan yang mudah marah. Kecanduan alkohol telah mengubah kepribadian Ann.

Tanpa Ann sadari, ternyata hal ini terwariskan kepada sang anak yang berada di Inggris sana.

Ann dan George Beserta Warisan yang Tak Diinginkan

George mewarisi bakat Ann di bidang olahraga dengan sukses menjadi pemain sepakbola kenamaan di Manchester. Ketampanan yang membuatnya bak Cassanova yang digandrungi banyak gadis pun merupakan warisan dari kecantikan Ann. Tapi ada satu warisan lain yang juga turun kepada George, yang tidak diinginkan namun terwariskan juga, yaitu kecanduan alkohol.

Pada awalnya keluarga George di Belfast pun tidak tahu bahwa George menjadi pemuda yang kecanduan alkohol. Mereka menganggap bahwa kehidupan George di Manchester baik-baik saja. Mereka semua hanya tahu bahwa George menjadi seorang pemuda yang dikenal oleh banyak orang.

Tanpa mereka ketahui, George juga ternyata mengalami kecanduan alkohol, sesuatu yang juga dialami sang ibu di Belfast. Ketenaran yang didapat terlalu cepat membuat George menjadi tertekan, sehingga akhirnya minum-minum supaya lepas dari tekanan tersebut.

Seperti sang ibu yang perangainya berubah, hal yang sama terjadi kepada George setelah kecanduan alkohol. Ia banyak berurusan dengan polisi akibat tertangkap tangan mengendarai kendaraan sambil mabuk. Ia pun menjadi pemuda yang mudah tersinggung, dan kerap bertengkar dengan orang lain di bar-bar di wilayah kota Manchester.

Keadaan buruk George ini pun akhirnya diketahui oleh sang ibu, Ann. Ia menyadari bahwa dirinya dan anaknya memiliki masalah yang sama. Lebih menyedihkan lagi, Ann dan George ternyata tidak bisa melepaskan diri dari kecanduan alkohol yang sudah mereka alami.

**

Kisah antara George dan Ann ini pun mengundang simpati dari banyak pihak. Meski keluarga Best sempat berusaha menutup-nutupi hal ini, pada 2009, beberapa pihak memutuskan untuk merilis sebuah drama televisi berjudul Best: His Mother’s Son sebagai bentuk upaya peringatan akan bahaya kecanduan alkohol untuk semua pihak.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, itulah akhir kisah dari George dan Ann. Pada akhir hidupnya, mereka mengalami nasib yang sama-sama naas, karena warisan yang tak diinginkan akhirnya turun dari sang ibu kepada sang anak.

foto: brandnewretro.ie

Komentar