Perbedaan Level Thailand dan Indonesia

Cerita

by Sandy Firdaus 33069

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Perbedaan Level Thailand dan Indonesia

Lanjutan artikel Perbedaan Level Thailand dan Indonesia

Berbeda dengan Thailand, Indonesia masih terlalu mengandalkan para pemain senior. Pada 2014 misalnya, terdapat nama-nama seperti Zulkifli Syukur (30 tahun), Firman Utina (32 tahun), Muhammad Ridwan (34 tahun), Supardi Nasir (31 tahun), Cristian Gonzales (38 tahun), dan Sergio Van Dijk (32 tahun).

Terlihat, ketika Thailand hanya menggunakan satu pemain di atas 30 tahun, Indonesia masih mengandalkan pemain-pemain senior. Sementara jika skuat Thailand 2014 diisi oleh 14 pemain yang berusia di bawah 25 tahun, skuat Indonesia 2014 hanya dihuni oleh empat pemain yang berusia 25 tahun.

Ini tentunya berdampak pada Piala AFF 2016 setelah terbatasi oleh aturan maksimal dua pemain per klub. Alhasil, Alfred Riedl harus memanggil pemain-pemain yang masih minim penampilan internasional. Dari 23 pemain, hanya tiga pemain yang memiliki lebih dari 20 caps. 11 pemain lainnya bahkan belum 10 kali membela timnas Indonesia.

Situasi ini jelas dipengaruhi oleh apa yang terjadi di masa lampau. Indonesia memang sudah sejak lama tidak berani mengandalkan pemain muda. Demi mengejar hasil instan, para pemain senior diandalkan, bahkan pemain asing. Sialnya, meski sudah mengandalkan pemain senior dan menaturalisasi pemain, prestasi juga tak kunjung datang.

Pelatih Lokal? Tidak Masalah

Sempat beberapa kali ditangani oleh pelatih asing macam Bryan Robson, Peter Reid ataupun Winfried Schäfer, akhirnya Thailand menjatuhkan nama pada Kiatisuk Senamuang. Pelatih yang mendapatkan julukan "Zico" semasa masih menjadi pemain ini membuktikan bahwa meski masih berusia muda, ia mampu menjadi pelatih yang cukup mumpuni untuk tim sekaliber timnas Thailand.

Pemahamannya yang baik akan taktik, dengan berani menerapkan formasi tiga bek dan menempatkan Bunmathan serta Tristan Do sebagai wing back, serta kharismanya yang kuat karena ia dikenal sebagai legenda sepakbola Thailand, membuatnya mampu membawa Thailand menjuarai dua Piala AFF berturut-turut (2014 dan 2016). Ini seolah membuktikan bahwa pelatih lokal sebenarnya kualitasnya tak kalah baik dibandingkan pelatih luar.

Yang perlu diperhatikan adalah, selain pelatih lokal, Kiatisuk masih berusia 43 tahun. Sekarang bandingkan dengan Indonesia, siapa pelatih Indonesia seusianya yang bisa berbicara banyak di kancah internasional? Aji Santoso sempat menangani timnas, tapi justru malah menorehkan sejarah kelam dengan dikalahkan Bahrain 10-0. Sementara pelatih lain seangkatannya, mungkin masih berburu lisensi kepelatihan yang layak.

Kiatisuk juga bisa menerapkan permainan indah pada para pemainnya. Umpan-umpan pendek diperagakan Thailand dengan begitu mengalir. Permainan yang ditunjukkan sangat menghibur, dan sering diakhiri dengan kemenangan. Sementara jika permainannya dibandingkan dengan Indonesia.... yah, kalian sendiri pasti bisa menilainya.

**

Terpuruk itu kepastian. Ia adalah bagian dari roda kehidupan yang terus berputar tanpa henti. Tapi seperti yang dijelaskan di atas, yang membedakan adalah bagaimana sikap dalam menghadapi keterpurukan tersebut. Indonesia harus banyak belajar dari keterpurukan yang sudah dialami, karena siapa tahu keterpurukan itu akan membawa Indonesia menuju masa depan yang indah.

Tapi selama ini, federasi sepakbola Indonesia masih belum terlalu berbenah. Padahal, sudah banyak contoh dari negara lain bagaimana membangun fondasi sebuah negara sepakbola, dimulai dari Jerman hingga Islandia.

Baca juga: Perencanaan, Faktor Utama Kesuksesan Islandia

Bahkan tak perlu jauh-jauh, kekalahan Indonesia di Piala AFF 2016 ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Ya, Thailand mengajarkan pada kita semua bahwa keberhasilan-keberhasilan mereka sekarang ini sudah mereka persiapkan sejak lama, bukan hasil instan seperti yang kerap coba dilakukan Indonesia.

Komentar