Perbedaan Level Thailand dan Indonesia

Cerita

by Sandy Firdaus 33056

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Perbedaan Level Thailand dan Indonesia

Chananan Samahito, asisten koordinator dari Sports Authority of Thailand, mengemukakan bahwa Piala AFF sudah bukan lagi levelnya Thailand. Sekarang, ucapan tersebut seakan terasa ada benarnya.

Dalam gelaran Piala AFF 2016, Thailand berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Indonesia dengan total agregat 3-2. Setelah kalah 1-2 di Stadion Pakansari, mereka sukses membalasnya dengan kemenangan 2-0 di Stadion Rajamangala lewat dua gol Siroch Chattong. Kemenangan ini mengantarkan mereka meraih Piala AFF 2016 kelima mereka, sekaligus berhasil memberikan kado yang indah bagi sang raja, Bhumibol Adulyadej, yang meninggal pada Oktober 2016 lalu.

Atas keberhasilan ini, Thailand meraih gelar juara Piala AFF kelima, dan menjadi yang terbanyak. Gelar juara AFF yang sekarang Thailand dapat ini, yang juga mereka raih pada 2014 silam, tentu bukan berasal dari proses yang instan semata.

Thailand Pun Pernah Terpuruk

Dalam ajang Piala AFF 2010 dan SEA Games 2011, Thailand pernah mengalami masa keterpurukan. Tim senior mereka gagal melaju ke babak semifinal Piala AFF 2010 (bahkan dikandaskan Indonesia saat itu), sementara tim U-23 mereka pun gagal melaju ke babak semifinal SEA Games 2011 (lagi-lagi Indonesia yang menaklukkan mereka).

Jika berbicara tentang keterpurukan, mungkin hampir semua negara pernah mengalami masa keterpurukan dalam roda sepakbola mereka. Yang membedakan adalah bagaimana cara mengatasi keterpurukan itu. Jerman pernah terpuruk pasca gagal total dalam Piala Eropa 2000. Mereka kesal. Tapi, kekesalan sesaat tidak bisa mengubah keadaan. Ada masa depan yang harus dijelang.

Oleh karena itu, mereka berbenah. Memperbaiki akademi sepakbola, memperbaiki sistem liga, juga membenahi federasi. Hasilnya? Pada 2014 mereka sukses menjadi juara dunia.

Baca Juga: Sepakbola Berkarakter, Sepakbolanya Orang Jerman

Thailand pun melakukan hal yang sama. Sadar bahwa mereka terpuruk dalam gelaran Piala AFF 2010 dan SEA Games 2011, mereka langsung berbenah. Pemain-pemain muda yang berlaga dalam SEA Games tetap disatukan dalam satu tim, meski dengan sedikit perombakan. Para pemain muda mulai dicoba masuk tim senior demi menambah jam terbang. Tak lupa kualitas Thai Premier League pun diperbaiki.

Meski gagal menjadi juara dalam Piala AFF 2012 (kalah di babak final), dalam ajang SEA Games 2013, dengan para pemain muda yang sudah lebih matang karena diasah di Thai Premier League, mereka mampu meraih medali emas (mengalahkan Indonesia di babak final). Dalam ajang SEA Games 2015 dan Piala AFF 2014, tim U-23 dan tim senior pun mampu menggondol gelar juara.

Para Pemain Muda yang Diberikan Kepercayaan

Chanatip Songkrasin, peraih gelar Pemain Terbaik Piala AFF 2016, masih muda. Sekarang saja usianya masih 23 tahun. Tapi coba perhatikan caps yang sudah ia torehkan bersama timnas Thailand. Total sekarang ia sudah mencatatkan 38 penampilan bersama timnas. Jumlah yang memang cukup banyak.

Ada juga nama Theeraton Bunmathan. Pemain asal Muangthong United ini bahkan sudah mencatatkan 45 penampilan bersama timnas dalam usianya yang masih 26 tahun. Belum lagi nama Sarach Yooyen (24 tahun) yang sudah mengemas 34 penamilan, atau Tanaboon Kesarat (23 tahun) yang sudah menorehkan 28 penampilan.

Sekarang bandingkan dengan para pemain di timnas Indonesia saat ini. Beny Wahyudi misalnya, meski sudah berusia 30 tahun, tapi ia baru membela timnas Indonesia sebanyak 24 kali. Andik Vermansah (25 tahun) yang menjadi andalan Indonesia kali ini, baru memiliki 17 penampilan, atau setengah dari Sarach Yooyen yang lebih muda dari Andik.

Boaz Solossa, kapten Indonesia saat ini, menjadi pemain dengan caps terbanyak di skuat Indonesia. Di usianya yang telah menginjak 30 tahun, ia "baru" mencatatkan 44 penampilan. Sekarang tengok Teerasil Dangda. Kapten Thailand ini menjadi pemilik caps terbanyak di Thailand. Tetapi jumlah penampilannya hampir dua kali lipat dari Boaz, yakni 85 penampilan. Tak heran Dangda sudah mengoleksi 40 gol sementara Boaz baru 14 gol saja. Dangda, meski masih berusia 28 tahun, jauh lebih berpengalaman dibanding Boaz jika berbicara level internasional.

Hal ini tak lepas dari kepercayaan yang diberikan pelatih kepada para pemain muda. Skuat Thailand dalam Piala AFF 2014 hanya diisi oleh satu pemain di atas 30 tahun, yakni Chayaphat Kitpongsrithada. Sisanya banyak diisi oleh pemain muda macam Charyl Chappuis, Chanathip Songkrasin, ataupun Tanaboon Kesarat. Chanathip bahkan sempat juga meraih gelar Pemain Terbaik Piala AFF 2014, padahal ketika itu ia masih berusia 21 tahun. Skuat Piala AFF 2014 pun tidak terlalu berbeda jauh dengan Piala AFF 2016, dengan penambahan para pemain muda yang bersinar di Thai Premier League.

Bersambung ke halaman berikutya.....

Komentar