Catatan-catatan Perjalanan Indonesia Menuju Final di Piala AFF

Cerita

by Muhammad Firza Richsan

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Catatan-catatan Perjalanan Indonesia Menuju Final di Piala AFF

Indonesia akhirnya berhasil melangkah maju ke final piala AFF 2016 setelah mati-matian menghentikan perlawanan tuan rumah Vietnam, Rabu (7/12/16) malam. Lolosnya Indonesia ke babak final jelas menjadi sesuatu yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dengan persiapan yang terbilang mepet karena baru terbebas dari sanksi FIFA, sempat terancam tidak bisa mengikuti AFF, lalu pada akhirnya hanya bisa memanggil maksimal dua pemain dari masing-masing klub, adalah prestasi yang luar biasa.

Keberhasilan ini menjadikan Indonesia sebagai negara kedua yang paling sering berlaga di babak final setelah Thailand. Thailand sendiri sejauh ini telah berlaga sebanyak tujuh kali di babak final, dan akan menjadi yang ke delapan kalinya andai nanti malam berhasil menyingkirkan Myanmar. Sedangkan Indonesia, keberhasilan ini menjadi yang kelima kalinya bagi tim Merah Putih dalam sejarah keikutsertaannya di ajang ini.

Final Pertama Tahun 2000

Ajang dua tahunan Piala AFF pertama kali diselenggarakan pada tahun 1996 di Singapura, ketika itu masih bernama Piala Tiger. Indonesia yang diperkuat oleh Robby Darwis, Kurniawan Dwi Yulianto, dan Peri Sandria hanya mampu finish di peringkat ke empat setelah dikalahkan oleh Vietnam 3-2 di perebutan posisi ketiga.

Butuh waktu empat tahun bagi Indonesia untuk merasakan final pertamanya di ajang ini. Kurniawan Dwi Yulianto kembali menjadi tumpuan Indonesia di ajang yang kali ini diselenggarakan di Thailand. Indonesia sendiri tergabung di grup A bersama tuan rumah Thailand, Myanmar, dan Filipina.

Indonesia memulai laganya dengan sempurna setelah menang dengan skor meyakinkan 3-0 atas Filipina. Gol-gol dari Aji Santoso, Kurniawan Dwi Yulianto, dan Eko Purdjianto langsung membawa Indonesia memuncaki grup A. Namun sayang, di pertandingan kedua Indonesia tidak mampu menghadapi kedigdayaan Thailand. Skor 4-1 tidak terelakan. Gol dari Gendut Doni pun seolah menjadi gol hiburan bagi Indonesia.

Indonesia dan Myanmar sama-sama telah mengantongi poin 3. Laga terakhir di grup A ini pun menjadi partai hidup mati bagi kedua tim karena wajib memenangi pertandingan agar bisa lolos ke semifinal. Di babak pertama skor sama kuat 0-0. Akan tetapi cerita berubah di babak kedua, Indonesia mengamuk, satu gol dari Uston Nawawi serta masing-masing dua gol dari Gendut Doni dan Kurniawan Dwi Yulianto menghentikan perlawan Myanmar dan berhasil membawa Indonesia lolos ke semifinal.

Di babak semifinal, Indonesia bertemu dengan juara dari grup B, Vietnam. Kemenangan 2-1 yang telah di depan mata pun sempat sirna setelah Nguyen Duc Thang dari Vietnam menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Namun, Gendut Doni lagi-lagi menjadi pahlawan bagi Indonesia. Golnya di menit ke-120 memaksa pertandingan tidak jadi diakhiri melalui drama tos-tosan. Indonesia pun lolos ke final.

Di babak final, Indonesia lagi-lagi bertemu dengan tuan rumah Thailand yang berhasil mengalahkan Malaysia. De ja vu terjadi bagi Indonesia. Skor 4-1 yang terjadi di pertemuan sebelumnya kembali terjadi. Gelar ini pun menjadi yang kedua kalinya bagi Thailand setelah tahun 1996 menjadi juara.

Final Kedua Tahun 2002

Untuk pertama kalinya turnamen di gelar di dua negara berbeda. Kali ini Indonesia dan Singapura ditunjuk oleh AFF sebagai tuan rumah. Indonesia sendiri tergabung di grup A bersama Vietnam, Myanmar, Kamboja, dan Filipina.

Setelah ditahan imbang 0-0 oleh Myanmar di laga pertama, Indonesia akhirnya mampu memperoleh tiga poin pertamanya di pertandingan kedua. Bertemu Kamboja, Bambang Pamungkas menjadi pahlawan Indonesia dengan hattrick yang diciptakannya. Di laga yang berakhir dengan skor 4-2 ini satu gol Indonesia lainnya diciptakan oleh Zaenal Arif.

Di pertandingan ketiga ketegangan menghampiri Indonesia setelah hanya mampu bermain imbang 2-2 dengan Vietnam. Ketegangan ini bukan tanpa alasan karena Myanmar telah mengumpulkan poin tujuh sedangkan Indonesia baru mengumpulkan poin lima hingga pertandingan ketiga.

Di laga terakhir melawan Filipina, Indonesia mau tidak mau harus mampu memenangkan pertandingan, akan tetapi dengan catatan Myanmar harus takluk dari Vietnam. Beruntung bagi Indonesia, Myanmar kalah 4-2 dari Vietnam. Sedangkan Indonesia mengamuk dengan menggulung Filipina 13-1. Gol-gol Indonesia dicetak oleh Bambang Pamungkas dan Zaenal Arif yang masing-masing menyumbangkan empat gol, dua gol Bejo Sugiantoro, serta masing-masing satu gol dari Budi Sudarsono dan Imran Nahumarury, dan melalui satu gol bunuh diri pemain Filipina.

Indonesia pun lolos ke babak semifinal sebagai runner-up dan akan menghadapi Malaysia yang menjadi juara grup B.

Di babak semifinal, Indonesia berhasil mengatasi perlawanan Malaysia dengan skor tipis 1-0. Bambang Pamungkas lagi-lagi menjadi pahlawan melalui golnya yang dicetak pada menit ke-75 itu.

Indonesia lag-lagi bertemu Thailand di partai pamungkas. Bermain di Stadion Gelora Bung Karno dan disaksikan oleh 100 ribu penonton, Indonesia tertinggal dua gol terlebih dahulu di babak pertama. Barulah di babak kedua Indonesia bangkit dan berhasil mengejar ketertinggalan menjadi 2-2 melalui gol dari Yaris Riyadi dan Gendut Doni. Indonesia sebetulnya memiliki keuntungan karena Thailand bermain dengan sepuluh pemain. Namun sayangnya Indonesia tidak dapat memanfaatkannya dan harus kembali tersungkur dari Thailand melalui drama adu penalti.

Final Ketiga Tahun 2004

Setelah Indonesia dan Singapura, kali ini AFF menunjuk Vietnam dan Malaysia sebagai tuan rumah. Indonesia sendiri tergabung di grup A bersama tuan rumah Vietnam, Singapura, Laos, dan Kamboja.

Pada kali ini, semua mata pencinta sepakbola Indonesia tertuju pada anak muda bernama Boaz Solossa. Boaz menjadi pusat perhatian karena menjadi satu-satunya pemain yang belum bermain di klub profesional dan dipanggil pelatih timnas saat itu, Peter Withe berkat penampilan apiknya bersama tim PON Papua 2004.

Indonesia bertemu Laos di laga pertama. Boaz pun langsung unjuk gigi dengan keberhasilannya mencetak dua gol. Indonesia akhirnya berhasil menang 6-0. Gol-gol lainnya dicetak oleh Ilham Jaya Kusuma dua kali, Elie Aiboy, dan Kurniawan Dwi Yulianto.

Di laga kedua Indonesia hanya mampu bermain imbang tanpa gol melawan Singapura. Barulah di laga ketiga Indonesia kembali berhasil meraih kemenangan setelah menghancur Vietnam yang diperkuat oleh Le Cong Vinh dengan skor telak 3-0.

Indonesia pun akhirnya mampu menggenggam tiket semifinal setelah berhasil membantai Kamboja 8-0 di laga terakhir dan menjadikan Indonesia sebagai pemuncak grup A.

Di babak semifinal, Indonesia bertemu Malaysia yang menjadi runner-up grup B. Untuk pertama kalinya dalam sejarah piala AFF, laga semifinal dan final diberlangsungkan dalam format home-away. Indonesia pun kebagian menjadi tuan rumah terlebih dahulu. Harapan masyarakat Indonesia sempat pupus karena Indonesia harus takluk 1-2 dari Malaysia di GBK. Namun, secara luar biasa Indonesia mampu membalikan kekalahan di leg kedua dengan menghancurkan Malaysia 1-4 di Stadion Bukit Jalil. Kemenangan Indonesia dicetak oleh Kurniawan, Charis Yulianto, Ilham Jaya Kesuma, dan Boaz.

Di babak final melawan Singapura, kembali Indonesia terpilih sebagai tuan rumah terlebih dahulu. Namun lagi-lagi, Indonesia harus bertekuk lutut di depan publiknya sendiri karena kekalahan 1-3 yang dideritanya. Satu-satunya gol Indonesia dicetak oleh Mahyadi Panggabean di menit ke-90.

Berbeda seperti di babak semifinal yang mampu mengembalikan keadaan dengan luar biasa, kali ini Indonesia kembali bertekuk lutut. Dua gol dari Indra Sahdan dan Agu Casmir hanya mampu dibalas oleh satu gol dari Elie Aiboy. Singapura pun menjadi juara setelah memenangi agregat 5-2 atas Indonesia, yang kembali kalah di final secara tiga kali berturt-turut.

Final Keempat Tahun 2010.

Setelah keberhasilannya yang dapat selalu lolos ke babak final di periode 2000 – 2004, Indonesia tidak bisa berbuat banyak di dua periode berikutnya yang diselenggarakan pada tahun 2007 dan 2008. Indonesia pun menatap piala AFF kali ini dengan sangat serius, terlebih Indonesia kembali ditunjuk sebagai tuan rumah bersama Vietnam.

Dua pemain naturalisasi, Christian Gonzales dan Irfan Bachdim pun diikutsertakan guna menambah kekuatan. Hasilnya pun langsung terasa sejak di laga pertama. Indonesia berhasil membabat Malaysia 5-1. Gonzales dan Bachdim pun turut serta dalam pesta itu melalui masing-masing satu golnya.

Di laga kedua Indonesia lagi-lagi berhasil pesta gol. Kali ini Laos yang jadi korbannya setelah tidak mampu membendung enam gol yang dicetak M. Ridwan, Bachdim, Arif Suyono, Okto Maniani, dan dua gol Firman Utina.

Big Match pun tersaji di laga terakhir. Dan luar biasa, untuk pertama kalinya sejak kemenangan terakhir pada tahun 1992, Indonesia berhasil menaklukan Thailand. Bambang Pamungkas menjadi pahlawan setelah borongan dua golnya melalui titik putih. Laga pun berkesudahan 2-1.

Di babak semifinal Indonesia berhasil mengandaskan Filipina baik di leg pertama, maupun leg kedua. Christian Gonzales-lah yang menjadi aktor di kedua laga tersebut dengan masing-masing satu golnya.

Di babak final, Indonesia kembali bertemu Malaysia. Pertemuan ini disambut penuh percaya diri oleh seluruh punggawa tim Garuda karena bermodalkan kemenangan besar 5-1 yang pernah terjadi di babak grup.

Namun di luar dugaan, Malaysia mampu membalaskan dendamnya dengan menghancurkan Indonesia 3-0 di leg pertama. Beban berat pun menghampiri Indonesia. Malaysia yang bermain di babak grup dan Malaysia yang bermain di laga final jelas berbeda. Kemenangan 5-1 pun jelas akan sulit kembali terealisasi.

Dan benar saja, di leg kedua yang dimainkan di GBK, Indonesia hanya mampu menang dengan skor tipis 2-1. Gelar juara pun mau tidak mau menjadi Malaysia.

Final Kelima Tahun 2016

Partai final kelima bagi Indonesia akan tersaji pada tanggal 14 dan 17 Desember nanti. Dan kemungkinan lawan yang akan dihadapinya adalah sang musuh bebuyutan, Thailand. Akan menjadi sangat menyakitkan apabila Indonesia kembali kalah untuk kelima kalinya.

Indonesia memang sudah dikalahkan Thailand di fase grup, tetapi kini bukan menjadi jaminan. Indonesia telah bangkit setelah kekalahannya itu. Balas dendam pun telah dipersiapkan. Karena sudah saatnyalah bagi Indonesia untuk kembali menjadi raja di Asia Tenggara.

AYO INDONESIA!

foto: affsuzukicup

Komentar