Gol Bersejarah Hariono

Cerita

by Muhammad Firza Richsan 28863

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Gol Bersejarah Hariono

Datang bersama Jaya Hartono dari gerbong Deltras Sidoarjo berbarengan dengan Hilton Moreira, Airlanga Sucipto, dan Waluyo pada tahun 2008 silam, Hariono menjadi satu-satunya dari kuartet tersebut yang saat ini masih mengenakan seragam kebesaran Persib Bandung. Memilih nomor punggung 24 yang sebelumnya dikenakan oleh sang legenda, Dadang Hidayat, Hariono langsung membuat publik Bandung jatuh cinta terhadap permainannya.

Hariono melakukan debut pada tanggal 30 Juli 2008 melawan Persela Lamongan di Stadion Siliwangi. Di laga yang berkesudahan dengan skor 5-2 itu, Hariono masuk menggantikan Suwita Pata pada babak kedua. Bukan tanpa alasan bagi publik Bandung untuk mencintai Hariono. Gaya mainnya yang keras, tidak kenal kompromi, dan jauh dari kata lelah, selalu mengundang decak kagum bagi para bobotoh, sebutan untuk pendukung Persib Bandung.

Hanya butuh satu musim bagi Hariono untuk menyingkirkan Suwita Pata, padahal ketika itu Suwita merupakan kapten tim, dan pada musim-musim sebelumnya selalu menjadi salah satu pemain yang tidak tergantikan di skuad Maung Bandung. Terlebih lagi Suwita merupakan pemain asli dari kota Bandung.

Pada tahun 2006, Suwita Pata hijrah dari Persib ke PSIS Semarang. Itu berarti Persib kehilangan dua sosok pemimpin sekaligus setelah Dadang Hidayat memutuskan untuk pensiun pada akhir musim 2005. Bobotoh pun menyayangkan sikap manajemen yang membiarkan Suwita pindah begitu saja.

Hasilnya pun jelas, musim itu Persib terperosok ke zona degradasi bersama PSDS Deli Serdang dan PSIM Yogyakarta di akhir musim. Beruntung bagi Persib, ketika itu degradasi dihapuskan karena terjadinya musibah gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta. Dampak dari terjadinya gempa bumi itu pun membuat beberapa laga yang harus dimainkan oleh PSIM menjadi urung terlaksana.

Hingga akhirnya Suwita Pata kembali dipulangkan pada musim depannya setelah adanya desakan dari para bobotoh. Suwita pun langsung kembali mengisi posisi inti di gelandang jangkar, dan didaulat sebagai kapten tim.

Tiga tahun setelah kepindahannya yang pertama, Suwita Pata kembali meninggalkan Persib. Kali ini ia memutuskan untuk membela panji-panji Persitara Jakarta Utara. Tidak ada reaksi berlebih dari bobotoh kali ini. Alasannya jelas, mereka kini telah memiliki sosok idola baru di posisi gelandang jangkar, yang tentunya lebih segar dan lebih garang dalam diri Hariono.

Jaya Hartono yang membawanya pun hanya bertahan selama dua musim. Tapi tidak dengan Hariono, walau tongkat kepelatihan berpindah ke tangan Daniel Darko Janackovic, Robby Darwis, Drago Mamic, hingga Djajang Nurjaman, pemain kelahiran Sidoarjo ini selalu menjadi pilihan nomor satu di lini tengah Persib.

Puncak karier Hariono bersama tim Persib terjadi pada musim 2013/2014. Dirinya menjadi figur penting tim kala berhasil membawa sang Pangeran Biru, julukan Persib, kembali menjuarai Liga Indonesia untuk pertama kalinya dalam 19 tahun terakhir. Di sepanjang musim itu Hariono bermain sangat konsisten. Ia pun terlihat lebih dewasa dengan jarang mendapatkan kartu seperti pada musim-musim sebelumnya.

Pada tahun 2015, Hariono pun berandil besar bagi Persib ketika mampu menjuarai Piala Presiden. Namun sayang, di laga final melawan Sriwijaya FC yang dilangsungkan di Gelora Bung Karno, Hariono harus absen dan hanya bisa menyemangati rekan-rekannya dari bangku penonton karena terkena akumulasi kartu kuning. Untungnya Persib tetap berhasil keluar sebagai juara.

Walau telah berhasil mempersembahkan dua gelar untuk Persib Bandung, namun ada satu hal yang belum pernah diraih oleh Hariono bersama Persib; mencetak gol. Ya, sebuah gol. Dalam kurun waktu 8 musim, Hariono seolah-olah dijauhi oleh Dewi Fortuna untuk urusan mencetak gol. Padahal, sering kali dirinya berada dalam posisi yang menguntungkan untuk mencetak gol, tetapi entah kenapa tembakannya selalu melambung atau menyamping dari gawang.

Meskipun begitu, Hariono tidak pernah menganggap bahwa ia harus mencetak gol bagi Persib. Sebagai gelandang bertahan, mencetak gol memang bukan tugas utama dirinya. Tak heran ketika pada suatu momen, Hariono sempat diminta untuk menendang penalti, ia menolak melakukannya, saat itu Hariono belum ingin mencetak gol.

Baca juga: Hariono Belum (Ingin) Mencetak Gol

Namun cerita gol dan Hariono berubah pada tanggal 30 November 2016 ketika Persib menjamu Perseru Serui di Stadion Si Jalak Harupat dalam lanjutan Indonesia Soccer Championship (ISC). Ketika skor sepertinya akan tetap bertahan di angka 5-2, Persib mendapat hadiah penalti di penghujung laga. Absennya dua algojo penalti Persib, Vladimir Vujovic dan Sergio van Dijk yang sudah diganti, Marcos Flores dan Tony Sucipto sempat terlihat berdiskusi mengenai siapa yang berhak menjadi eksekutor sebelum pelatih Persib, Djajang Nurjaman, menunjuk Toncip.

Tapi ketika Toncip hendak mengambil ancang-ancang, tiba-tiba stadion Si Jalak Harupat bergemuruh. Seisi stadion satu suara meneriakan satu nama; Hariono. Ia sempat memalingkan wajahnya dari gawang Perseru di tempat ia berdiri, lingkaran tengah yang menjadi wilayah permainan Hariono, kembali enggan menendang penalti seperti sebelumnya. Namun teriakan bobotoh, yang juga didukung oleh rekan setim yang lain, khususnya sang kapten tim, Atep, membuat dirinya luluh.

Dengan wajah malu-malu yang pastinya diliputi ketegangan, Hariono berjalan gontai ke kotak penalti. Aneh memang melihat Hariono meletakkan bola di titik putih lalu memasang wajah serius sambil menantikan peluit berbunyi. "Saya tegang, Mas," kata Hariono ketika kami tanyai di kediamannya.

Akan tetapi garis cerita karier Hariono di Persib berubah; Hariono mengeksekusi bola dengan sempurna dan mengubah skor akhir menjadi 6-2.

Hariono boleh saja terdiam tanpa perayaan gol, gaya khas Hariono yang memang penuh misteri. Namun seluruh bobotoh merayakan gol ini dengan sukacita, menyambut gol sang legenda. Walau melalui titik putih, tetapi gol ini menjadi sangat berarti bagi mereka yang telah menantikan 8 tahun lamanya.

Bagi Hariono sendiri gol tersebut melegakannya, namun tak terlalu ia sikapi dengan berlebihan. Sekali lagi, Hariono tak terlalu tertarik dengan mencetak gol. Kami justru berbicara lebih banyak mengenai pemain-pemain yang pernah ataupun masih menjadi rekan setimnya yang menurutnya turut berkontribusi menjadikan Hariono yang kita lihat sekarang ini.

Bersambung halaman selanjutnya

Komentar