Sepakbola Sebagai Jalan Sukses Minuman Berenergi

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi 39405 Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Sepakbola Sebagai Jalan Sukses Minuman Berenergi

RB Salzburg, sebelumnya bermarkas di My Phone Austria Stadion yang hanya berkapasitas 1.600 penonton. Sedangkan kandang RB Salzburg saat ini, Red Bull Arena, memiliki kapasitas sekitar 31 ribu penonton, di mana pernah digunakan untuk laga Piala Eropa 2008.

RB Salzburg pun mulai mengambil peran dalam setiap bursa transfer. Sadio Mane yang kini membela Southampton dan Kevin Kampl yang kini membela Borussia Dortmund RB Salzburg mendapatkan pendapatan lain dari penjualan pemain.

Kesebelasan-kesebelasan Red Bull pun mulai menikmati kesuksesan mereka sebagai ‘kesebelasan baru’. RB Salzburg, berhasil menjuarai Bundesliga Austria, kompetisi teratas Austria, sebanyak enam kali dalam 10 tahun terakhir. RB Leipzig yang pertama kali diakuisisi berada di divisi lima Liga Jerman, kini tengah berkompetisi di divisi dua Liga Jerman. Sementara Red Bull Brasil, terus merangsek dari divisi empat liga negara bagian Sao Paulo, dan musim ini berlaga di divisi satu.

New York Red Bulls memang tak sesukses RB Salzburg yang kemudian menjadi juara di kompetisi domestik. Namun berkat sejumlah rekrutan nama-nama besar seperti Thierry Henry, Claudio Reyna, Juan Pablo Angel, Rafael Marquez, Juninho Pernambucano, serta Tim Cahill, penggemar Red Bulls di AS semakin meningkat di mana ini tentunya berpengaruh pada pendapatan dari penjualan tiket pertandingan.

Atas kesuksesan kesebelasan-kesebelasan Red Bull ini (bersama kesuksesan tim olahraga Red Bull lainnya), penjualan minuman Red Bull pun tumbuh lebih pesat dibanding sebelumnya. Pada rentang 2005 (tahun Red Bull mengakuisisi SV Austria Salzburg) hingga 2010 saja, total penjualan Red Bull meningkat dari dua miliar kaleng menjadi empat miliar kaleng, di mana pertumbuhan lima tahun sebelumnya kurang dari satu miliar kaleng.

“18 juta orang Amerika aktif bermain sepakbola di AS. Dan lebih dari 60 juta orang AS merupakan penggemar sepakbola. Kami sangat tertarik dengan angka-angka ini sehingga kami memutuskan untuk bergabung dan mendukung perkembangan ini dengan mengambil alih tanggung jawab MetroStars,” ujar Mateschiz ketika di wawancarai The Times pada 2006 saat mengambil alih MetroStars yang kemudian berganti nama menjadi New York Red Bulls.

Strategi inilah yang dilakukan Mateschitz di kota-kota lain. Kecuali di kota Sogakope Ghana, kota Leipzig, Sao Paulo, dan Salzburg yang menjadi tempat kesebelasan Red Bull adalah kota-kota besar yang cukup berpengaruh di negaranya.

Di Ghana sendiri, RB Ghana dibubarkan karena kalah populer oleh West African Football Academy yang bersinergi dengan akademi Feyenoord. Meskipun begitu, Red Bull masih terus menjadi salah satu merek minuman terlaris di dunia berkat strategi pemasaran mereka yang cerdas dengan menjadikan tim olahraga, termasuk sepakbola, sebagai alat pemasaran mereka.

“Merek adalah tentang produk untuk konsumen. Maka kami harus berkomunikasi secara langsung dengan konsumen. Oleh karena itu, kami menciptakan tim olahraga seperti tim sepakbola, tim F1, tim NASCAR,” ujar Harry Drnec, Direktur Utama Red Bull 1995-2007 pada BBC.

Ya, tak seperti merek dagang lain yang hanya menjadi sponsor atau mendukung tim olahraga, Red Bull memilih cara yang berbeda dan ekstrim, yaitu membuat tim. Dengan begitu, nama Red Bull akan lebih bernilai dibanding merek lain.

Hal ini tentunya secara tidak langsung akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Maka ketika membutuhkan minuman ringan atau berenergi, nama (produk) Red Bull akan dengan mudah menjadi pilihan. Apalagi jika kita merupakan pendukung dari tim olahraga yang ber-Red Bull itu. Hasilnya, Red Bull semakin mendunia, dan Mateschitz kini menjadi pengusaha terkaya di Austria.

*Catatan redaksi: Artikel ini sebelumnya dimuat di Detiksport kolom About the Game pada Juli 2015 lalu. Saat ini, salah satu kesebelasan Red Bull, RB Leipzig, sedang memuncaki klasemen Bundesliga.

Komentar