Kebangkitan Anthony Modeste Menggairahkan Köln

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Kebangkitan Anthony Modeste Menggairahkan Köln

Selain timnya yang berkompetisi dalam ajang Bundesliga, FC Köln, apa yang dapat Anda ketahui tentang kota Köln? Kota yang paling sering dibom oleh Royal Air Force ketika Perang Dunia II? Kota yang banyak berisikan katedral-katedral bersejarah peninggalan masa Romawi kuno? Atau kota yang memiliki Universitas Köln, salah satu universitas tertua dan bersejarah di Eropa?

Kota yang berlokasi di dekat sungai Rhine ini, hampir sama seperti Nice di Prancis sana, bukanlah kota yang besar-besar amat. Köln menduduki peringkat keempat kota terbesar di Jerman setelah München, Hamburg, dan Berlin. Namanya juga kota peringkat keempat, pastilah tidak seramai di München ataupun di Berlin (ibukota negara Jerman).

Namun siapa sangka, kota yang memiliki luas sebesar 405 km persegi dan merupakan salah satu kota yang cukup ramah di Jerman ini ternyata menjadi tempat yang cukup nyaman bagi salah seorang pemain sepakbola asal Prancis. Ia adalah Anthony Modeste, yang sempat sulit mendapatkan kesempatan bermain ketika masih berseragam TSG Hoffenheim.

Modeste, di kota yang terletak tidak begitu jauh dari negara Belgia ini, ternyata mampu menemukan kembali ketajamannya.

**

Karier sepakbola Anthony Modeste seperti air laut yang kerap mengalami pasang surut. Sempat dianggap sebagai sebuah prospek panas ketika masih membela OGC Nice dan dipinjamkan ke Angers, kariernya mulai menurun ketika ia membela Blackburn Rovers.

Berseragam biru-putih pada musim 2011/2012, ia sama sekali tidak mampu mencatatkan hasil positif. Total sembilan pertandingan yang ia jalani malah berakhir dengan tanpa gol sama sekali. Inilah yang membuat ia sempat dijuluki oleh The Guardian sebagai legenda dari Blackburn.

Memperbaiki karier di Bastia, Modeste mencoba peruntungan dengan menyeberang ke tanah Jerman, membela TSG Hoffenheim. Bersama klub yang bermarkas di Wirsol Rhein-Neckar-Arena ini, Modeste masih belum mampu menemukan penampilan terbaiknya. Ia harus bersaing dengan Adam Szalai dan Sven Schipplock, ditambah pada akhir musim 2013/2014, ia sempat terlibat insiden keras dengan Carlos Zambrano, pemain Eintracht Frankfurt.

Setelah dua musim bersama Hoffenheim, akhirnya ia memilih untuk membela Köln. Mungkin ia mendengar kabar bahwa Köln adalah kota yang ramah, sehingga memilih untuk membela Die Geiβböcke daripada klub yang lain.

Kota Köln, terkhusus untuk FC Köln, memang bukanlah klub yang terlalu ramai. Selama berkompetisi di Bundesliga, total mereka hanya dua kali juara Bundesliga. Itu pun sudah berlangsung cukup lama, yaitu pada musim 1963/1964 serta 1977/1978. Setelah itu, mereka sama sekali kesulitan untuk bersaing dengan klub Bundesliga yang lain.

Itulah kenapa Köln menjadi kota yang cukup ramah. Ramah di sini dalam artian mereka ramah terhadap siapa saja, termasuk "ramah" kepada lawan-lawannya yang mereka biarkan menang di RheinEnergieStadion. Modeste tampaknya mendengar cerita tersebut sehingga akhirnya ia memutuskan membela Köln.

Pada awal kedatangannya di Köln, Modeste pun tidak mampu berbuat banyak. Ia hanya mampu menyumbang 15 gol. Tampaknya ia masih begitu segan dengan keramahan Köln pada dirinya, sehingga ia belum bisa memberikan kemampuan yang terbaik. Memasuki musim kedua di Köln, atau musim 2016/2017, Modeste sudah mulai merasa tidak segan lagi dan mulai menunjukkan kemampuannya.

Dari 10 pertandingan yang sudah ia jalani di Bundesliga 2016/2017, Modeste sudah mencetak 11 gol, menjadikannya sebagai pencetak gol terbanyak Bundesliga bersama Pierre-Emerick Aubameyang. Total 11 gol yang Modeste cetak ini juga ternyata membuat kota Köln, yang sebelumnya ramah dan tidak terlalu ramai, menjadi kota yang ramai sekaligus sedikit galak kepada tamunya. Lima partai kandang yang sudah berlangsung di RheinEnergieStadion, berakhir dengan empat kemenangan dan sekali seri. Ini semua gegara Modeste.

Penampilan Modeste yang cemerlang, berimbas kepada penampilan Köln yang lebih trengginas, membuat Modeste banjir pujian. Berbagai lapisan masyarakat Köln mulai memujinya, dan itu tak lepas dari sajian yang kerap ia pertontonkan di atas lapangan.

“Ia penyerang yang mudah dijangkau. Baik itu dengan bola panjang maupun umpan terobosan yang mengarah ke ruang kosong di depan, ia selalu ada di sana untuk menerimanya,” ucap rekan setim Modeste, Yannick Gerhardt.

“Ia adalah mesin. Mesin pencetak gol,” ujar rekan setim Modeste, Dominique Heintz.

“Saya kira ia merasa dirinya mulai banyak diperhatikan. Oleh karena itu, dengan segala kerja keras serta pemahamannya yang baik akan taktik, ia berusaha untuk menyajikan sesuatu yang menyenangkan bagi para pendukung,” ujar sang pelatih, Peter Stöger.

Mendapat pujian seperti itu, pemain kelahiran Cannes ini memilih untuk tetap merendah. Modeste, yang kebetulan juga bisa diasosiasikan dengan kata modest dalam bahasa Inggris yang berarti “sederhana” dalam bahasa Indonesia, mengatakan bahwa ia belumlah sederajat dengan Pierre-Emerick Aubameyang ataupun Robert Lewandowski dalam urusan mencetak gol.

“Saya belum sampai pada level mereka (Aubameyang dan Lewandowski). Saya masih harus bekerja keras,” ujarnya.

Meski begitu, pemain yang memang selama kariernya hanya membela klub-klub modest ini boleh saja sedikit berbangga. Apa pasal? Karena kehadirannya, Köln yang awalnya ramah dan tidak ramai-ramai amat, menjadi sedikit lebih bergairah. Gairah yang tentunya diharapkan akan tetap bertahan sampai akhir musim kelak.

Vielen Dank, Anthony Modeste!

foto: @Squawka

Komentar